Informatika News Line 0612232

  Perjanjian Giyanti, Strategi Cerdik Raja Raja Jawa Menghadapi Devide Et Impera Belanda


Oleh : Sastrahadi Wisesa

Pengamat Sejarah Keraton Nusantara



Sastra Gending (Sultan Agung Hanyokro Kusuma)

ASMARADANA

Gang brangta mangusweng gending Kang satengah perebutan  Kang ahli gending padudon Lawan ingkang ahli sastra

Arebut kaluhuran Iku wong tuna ing ngilmi Tan ana gelem kasoran.

Hasrat memainkan gending Seperti sebuah pertarungan Para ahli gending bertengkar Dengan ahli sastra

Saling mengunggulkan diri Itu pertanda mereka masih bodoh Merasa takut ternista

Sejatinya wong ngagesang Apa ingkang binasan Iku kang kinarya luhur………….

Yekti kekandangan kibir Rebut luhuring kagunan Dadi luput sakarone.

Sesungguhnya manusia hidup ituApa yang dilakukan Itulah yang akan memuliakan derajadnya.……….

Selalu berlagak sombong Pamerkemulian dan kepandaian Malah kehilangan dua-duanya.

Kang ngani gending luhurnya Pinet saking hakekat Ingakal witing tumuwuh

Ananing Hyang saking akal Takokna kang wus ngualam

Mereka katan nilai gending Tumbuh dari hakekatnya  Wujudnya tumbuh seperti biji

Wujud yang melahirkan keilahian Tanyakanlah orang yang berilmu.

Wite osikireng ngilmi Gending ngakal ingkang marna

…………

Uga nrus swara kang lihung Lafai Allah kang toyibah.

Pangkal tumbuhnya pengetahuan  Berkembang menjadi gending-wujud

………….

Juga melahirkan nada yang agung Lafal Allah yang mulia.



Berbeda dengan analisis para ahli sejarah mengenai Perjanjian Giyanti, yang berfokus pada upaya adu domba Kolonialis Belanda, sebenarnya dalam analisis yang lebih dalam, Perjanjian Giyanti sendiri adalah sebuah upaya cerdik dari raja-raja Jawa dalam menghadapi kekejaman dan kelicikan tentara Belanda. 


Perjanjian Giyanti pada tahun 1755 memiliki materi visual yang memecah Kerajaan Mataram, 100 tahun pasca meninggalnya Sultan Agung Hanyokro Kusuma 1645. Selama hampir 100 tahun, Belanda masih gagal menaklukkan Kerajaan Mataram yang bahkan pada serangan pasukan yang kedua tahun 1629 berhasil membuat tewas Gubernur Hindia Belanda VOC, J.P.Coeen. Dendam VOC pada Sultan Agung tak pernah terpuaskan. Semua strategi tipuan licik dan keji coba dilakukan tapi tak ada satupun yang berhasil menjatuhkan Sultan Agung Hanyokro Kusuma. Sultan Agung adalah salah satu Pahlawan Nasional yang bahkan kelicikan VOC Belanda juga tak mampu mendekati atau bahkan menyentuh Sultan Agung.


Beberapa versi sejarah mengangkat tewasnya J.P Coen pada serangan kedua Pasukan Mataram ke Batavia itu (1629) sebagai hasil kerja sukses telik sandhi Mataram. Akan tetapi analisis yang lain melihat bahwa kematian JP.Coeen akibat serangan Kolera yang membuat Sungai Ciliwung yang melewati dan bermuara di Batavia terracuni oleh Kuman Kolera yang disebar dari strategi perang Pasukan Mataram. Bukan hanya JP. Coen yang tewas akan tetapi puluhan bahkan ratusan tentara VOC Belanda juga ikut tewas karena Kolera. Serangan kedua 1629 ini menimbulkan kerugian yang sangat besar pada Belanda.


Sejarah versi VOC Belanda memang mengangkat kehancuran 14 ribu Pasukan Mataram di Batavia. Akan tetapi jumlah yang disajikan itu adalah jumlah yang dinarasikan dengan gaya penguasa Kolonial.  Tak pernah ada narasi jumlah tentara Belanda yang tewas dalam pertempuran besar itu. 


Belanda memang sangat suka memutar balikkan fakta dan mengangkat kemenangan semu sebagai sebuah fakta sejarah yang dipaksakan. Sasarannya selalu jelas terlihat, Devide Et Impera.


Akan tetapi kenyataan sejarah mencatat, 

 bahwa meskipun Belanda meng klaim telah menghancurkan 14 ribu pasukan Mataram, akan tetapi kematian JP Coen adalah bukti vital yang tak terbantahkan oleh sejarah, bahwa Belanda memang hancur berantakan diserbu oleh pasukan Mataram. 


Sultan Agung masih sehat sehat saja sampai tahun 1645 beliau wafat. Dua windu setelah kematian JP.Coen, Sultan Agung Hanyokro Kusuma masih hidup dengan sehat. Demikian juga Kerajaan Mataram masih tetap tegak tidak goyah.

Kampanye bohong kemenangan Belanda dalam realitas sejarah tak pernah benar-benar terbukti.


Justru kecerdasan Sultan Agung Hanyokro Kusuma terlihat dalam berbagai keputusan politik yang dibuat pasca peperangan besar di Batavia dan kematian Gubernur Jenderal JP Coen.


Sultan Agung faham benar kelicikan yang dimiliki oleh VOC Belanda. Kemampuan memutar balikkan fakta orang-orang dari negeri kincir angin itu sangat terkenal di dunia. Berpura-pura menjadi korban padahal sebenarnya dialah pelaku utama.



Pada tahun 1636, 1 windu setelah serbuan pertama Pasukan Mataram ke VOC, tahun 1628, Sultan Agung mendirikan kabupaten Karawang. Pangeran Kertabumi diangkat sebagai Adipati Kerawang yang pertama. Pendirian Kadipaten Kerawang ini adalah salah satu kampanye kemenangan yang ditunjukkan oleh Sultan Agung, sekaligus menjadi conter attact propaganda palsu Belanda.


Apapun propaganda palsu Belanda tetap akan tertolak, karena kenyataannya 8 tahun setelah serbuan pertama ke VOC, Mataram malah mendirikan Kadipaten (Kabupaten) Karawang. Daerah yang jaraknya hampir 700 kilometer dari Semarang.


 Sultan Agung memiliki strategi yang lebih kuat dalam mengabadikan kemenangan peperangan nya pada sejarah.

Peninggalan lokasi Politik Kerawang oleh Sultan Agung adalah sebuah anti thesis dari narasi memutar balikkan fakta oleh Belanda. Seolah olah Sultan Agung mengatakan bahwa 700 kilometer arah Barat Mataram adalah wilayah Kesultanan. Dan hanya beberapa kilometer saja pengaruh Batavia sampai ke Kerawang. Kerawang menjadi batas demarkasi sekaligus stempel kemenangan Pasukan Mataram membendung pengaruh VOC Belanda.


Akan tetapi realisasi peperangan yang terjadi antara Mataram dan VOC Belanda, pasca wafatnya Sultan Agung memang terus terjadi. Perebutan daerah kekuasaan Mataram juga berhasil dilakukan oleh Kolonial Belanda. Beberapa daerah memang akhirnya dikuasai oleh Kolonial Belanda. Mendekati Perjanjian Gianti skema penghancuran Keraton Jawa Mataram yang telah lemah, hanyalah merupakan sebuah tugas yang mudah. 


Dalam kondisi darurat seperti inilah tiba-tiba terjadi sebuah "Sandiwara" perebutan kekuasaan di Mataram.


Sandiwara keluarga ini melibatkan Susuhunan Pakubuwana II, Pangeran Mangkubumi, dan Raden Mas Said. 

Konflik ini dibuat dengan setting pengangkatan Pangeran Prabasuyasa yang bergelar Pakubuwana II menjadi raja baru.


Raden Mas Said cucu Amangkurat IV (putra Arya Mangkunegara, putra sulung Amangkurat IV) diminta melakonkan permintaan hak takhta Kesultanan Mataram Islam, menyusul kelakuan yang sama yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi.


Konflik yang terjadi antar cucu cucu dan cicit Mataram yang juga trah Sultan Agung sebenarnya telah diskenariokan sejak masa Sultan Agung. Jika kondisi darurat melanda keraton Islam, maka memecah keraton adalah strategi terbaik untuk bertahan. Strategi yang disusun oleh Sultan Agung ini saat ini dikenal dengan strategi Survivability. Strategi Survivability ini ditemukan oleh para Profesor dari Melon University Amerika Serikat dalam menghadapi kondisi darurat serangan bertubi-tubi dalam sistem IT. Akan tetapi strategi bertahan sistem IT ini ternyata bahkan telah direalisasikan oleh Sultan Agung hampir 400 tahun yang lalu.

Sultan Agung Hanyokro Kusuma memahami bagaimana hukum Bernaulli diimplementasikan dalam politik keraton. Kemampuan dan pengetahuan Sultan Agung Hanyokro Kusuma memang telah terbukti berkali kali. Bahkan menghancurkan VOC dengan bantuan wabah Colera adalah salah satu strategi yang luar biasa yang digelar oleh Sultan Agung. Jika dengan kekuatan manusia tak mampu menguasai benteng VOC, maka dengan kekuatan alam yang mampu dikendalikan benteng itu pasti akan dapat ditembus. 

Setelah kemenangan melawan Belanda, Sultan Agung Hanyokro Kusuma berkonsentrasi untuk mengajarkan strategi bertahan melawan Belanda dengan jalur strategi budaya. Serat Sastra Gending yang diajarkan sendiri oleh Sultan Agung Hanyokro Kusuma, bukanlah serat sembarangan, akan tetapi Serat Sastra Gending adalah sebuah kitab Strategi melawan Kolonialisme sampai 300 tahun ke depan. 


Hukum Bernaulli dan Strategi bertahan model Survivability ini dikodifikasikan dalam bait bait serat Sastra Gending yang sangat masyhur. Strategi perang menyerbu langsung, strategi perang menggunakan kekuatan alam, strategi bertahan dengan konsep Bernaulli, Survivability, Strategi perang menyerang dalam kondisi terjepit Supit orang, adalah rentetan strategi perang orang Jawa yang dipraktekkan dengan sukses oleh Sultan Agung Hanyokro Kusuma.


Serat Sastra Gending bahkan berhasil mengantarkan perjuangan panjang melawan kolonialisme sampai tahun 1945, 300 tahun setelah wafat Sultan Agung. 


Angka 300 tahun adalah angka berulang yang sangat dikenal di Pulau Jawa. Angka 256 tahun mendekati 300 tahun juga terjadi pada masa Raja Airlangga (1037) menuju ke Masa Raja Majapahit Raden Wijaya (1293) yang menghancurkan penjajah kuat Ku Balai Khan di delta Sungai Brantas. Pola Serangan yang sama, dan posisi strategis yang tidak terlalu berbeda.


Konflik menjelang perjanjian Gianti adalah bukti kecerdasan Strategi Sultan Agung dalam mempertahankan kerajaan Islam di Pulau Jawa. Dengan memecah keraton menjadi beberapa keraton maka Singa yang Ganas pun akan mampu ditaklukkan. Belanda adalah Singa yang licik dan kuat, menghadapi nya harus dengan memecahkan konsentrasi negara Singa itu. 


Dan Belanda pun memasuki strategi jebakan yang memang telah dibuat oleh Sultan Agung Hanyokro Kusuma, yang bahkan detail perjuangan itu dibukukan dalam Serat Sastra Gending. 


Belanda merasa memenangkan perang dengan memecah keraton. Akan tetapi sebaliknya mereka malah kewalahan dengan kerajaan yang berubah wajah menjadi lebih dari 1 wajah. Akan tetapi bahkan Belanda merasa di atas angin, tanpa bisa memahami dari sisi mana sebenarnya mereka disesatkan oleh strategi cerdik Sultan Agung.


nglurug tanpa bala

menang Tan tanpo anggasorake

angutuk Lor kebo kidul


Belanda tak pernah memahami apa arti deretan kata-kata itu. Kata kata yang tertanam tertancap erat dalam budaya orang Jawa. 


Konflik seolah-olah dibuat semakin rumit ketika Raden Mas Said lebih efektif melakonkan kerjasama dengan Pangeran Mangkubumi untuk merebut kekuasaan. Wafatnya Pakubuwana II adalah titik penting. masuknya Belanda dalam jebakan drama putra putra istana Jawa.


Pangeran Mangkubumi mengangkat diri sebagai raja baru Mataram Islam. VOC yang mencoba menguasai Mataram terkejut, buru-buru mencoba mencari Pengganti Pakubuwono II. Raden Mas Soerjardi (anak Pakubuwana II) diangkat sebagai raja baru bergelar Pakubuwana III. Padahal pengangkatan Pakubuwono III adalah skenario yang memang diharapkan dijalankan oleh Belanda.


Tanpa memunculkan matahari kembar Pakubuwono III, sebenarnya Belanda sudah menguasai keraton Jawa. Setelah meninggal nya Pakubuwono II otomatis keraton Mataram menjadi kosong kekuasaan secara defacto dan de jure. Belanda bisa saja masuk menguasai Mataram atau dengan cara lain mendukung  Pangeran Mangkubumi. Akan tetapi kedua hal mudah itu malah tidak dilakukan oleh Belanda. Belanda malah mengangkat Pakubuwono III menjadi raja.


Secara sederhana sebenarnya Belanda telah dengan tidak sadar mereplikasi dan memunculkan dua musuh baru, dua keraton Jawa. Tak pernah bisa belajar. Menundukkan satu Mataram saja butuh waktu puluhan tahun, bahkan sampai lebih dari 100 tahun gagal. Begitu ada kesempatan di depan mata, yang dilakukan malah melegalisasi dan mendukung munculnya musuh baru, keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.


Jika sebelumnya musuh Belanda hanya Mataram saja, maka setelah perjanjian Gianti, musuh Belanda menjadi dua kerajaan Jawa. Bukankah Belanda sedang termakan oleh strategi nya sendiri ?

Dan kebodohan Belanda ini terus berlanjut sampai keraton Jawa pecah menjadi 4 keraton baru. Jumlah yang cukup untuk membuat Belanda menjadi kebingungan dalam menghadapi musuh Pribumi Keraton Jawa.



***"


Perjanjian Gianti berhasil memecah keraton Jawa menjadi dua, Surakarta Hadiningrat di bawah Pakubuwono III dan Yogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi, bergelar Sultan Hamengku Buwono I. 


Perjanjian Gianti adalah tahap Pertama pemecahan keraton Jawa, sesuai dengan strategi Sultan Agung. Surakarta Hadiningrat memang dikuasai oleh Belanda, akan tetapi Yogyakarta muncul sebagai representasi keraton baru yang bebas dari upaya campur tangan Belanda. Belanda dikerjain habis habisan akan tetapi karena begitu bodoh nya ahli strategi Belanda, mereka malah merasa menang dengan memecah keraton Jawa menjadi dua.


Bukankah dengan pecahnya keraton, maka upaya puluhan tahun mereka sebenarnya menjadi lebih sia sia ? Apakah mereka memahami gaya jebakan strategi capit urang seperti ini ? Tidak, Belanda tidak memahami dan hanya sekelompok kecil keluarga istana yang setia pada Sultan Agung yang memahami bagaimana strategi ini dijalankan.

****

Dengan perjanjian Giyanti dan beberapa perjanjian lain yang memecah kerajaan Mataram menjadi 4 kerajaan baru kemudian, maka fokus dari kekejaman Belanda akan terpecah. Upaya mengadu domba antar 4 kerajaan Jawa ini hanya berujung pada kekacauan strategi dan jebakan pada pemikiran adu domba pemerintah Kolonial sendiri. 


Kecerdasan dalam manajemen konflik yang dijalankan oleh Keraton Jawa ini membuat tak ada satupun kerajaan Jawa ini yang dihancurkan atau bahkan mati di tangan Belanda. Bahkan Belanda sendiri berpendapat akan lebih mendapatkan manfaat jika kerajaan Jawa ini terpecah menjadi 4. 


Bandingkan strategi keraton Jawa ini dengan strategi keluarga Kerajaan Korea Selatan melawan Jepang yang berujung pada musnah nya seluruh trah raja raja di Korea Selatan. Tak banyak yang memahami betapa cerdik strategi memecah kerajaan Jawa menjadi 4 . Memecah kekuatan keraton dalam 4 penjuru mata angin dan mengurung strategi Devide Et Impera, mengembalikan gema tipuan Devide Et Impera kepada sang pemicu strategi dan membuatnya puas dalam kebingungan dan bingung dalam kepuasan.


***


Sebelum perjanjian Giyanti ditandatangani, tekanan pemerintah Kolonial Belanda kepada Mataram sangat ketat. Bahkan jika tidak dilakukan manajemen konflik, maka tentu saja keraton Jawa yang didirikan dengan basis syariat Islam oleh Wali Sangga (Wali Songo) itu akan musnah dengan lebih cepat. Manajemen konflik yang dilakukan secara rahasia oleh keluarga kerajaan dengan sangat cerdas berhasil membohongi pemerintah Kolonial

Belanda. Bahkan Belanda sendiri berpendapat perpecahan itu baik bagi kelanggengan kekuasaan Belanda.


Dalam pasal perjanjian Giyanti sendiri terdapat pasal pasal perjanjian yang di setting seolah-olah menguntungkan Belanda, padahal bahkan lebih membuat untung Keraton Jawa dan upaya-upaya perjuangan meneruskan semangat perjuangkan Sultan Agung Hanyokrokusumo, Raja Mataram yang berani menyerang VOC Belanda di Batavia.


Pasal Perjanjian Gianti 1755

(1)

Sultan berjanji akan menaati segala macam perjanjian yang pernah diadakan antara Raja-raja Mataram terdahulu dengan Kumpeni, khususnya perjanjian-perjanjian 1705, 1733, 1743, 1746, 1749.


(2)

Sultan tidak akan menuntut haknya atas pulau Madura dan daerah-daerah pesisiran, yang telah diserahkan Sri Sunan Pakubuwana II kepada Kumpeni dalam Contract-nya pada tanggal 18 Mei 1746. Sebaliknya Kumpeni akan memberi ganti rugi kepada Sri Sultan 10.000 real tiap tahun


****


Kurang dari 150 tahun setelah perjanjian Gianti di Indonesia muncullah Kebangkitan Nasional pada tahun 1908. Bagaimana pun juga peran kestabilan 4 keraton Jawa ini lah yang berhasil mendorong munculnya kebangkitan Nasional 1908. Jika tidak mampu berjalan tegak dengan berteriak, berjalanlah dengan merangkak dan dengan suara berbisik.Begitulah filosofis perjuangan orang orang keraton Jawa dalam menghadapi pengaruh penjajah Belanda.




Baca Juga :

Bimtek Insan Pers Sidoarjo Di Surakarta

Menikmati Sholat Jum at Di Masjid Keraton, Masjid Agung Solo 

Perjanjian Giyanti, Strategi Cerdik Raja Raja Jawa Menghadapi Devide Et Impera Belanda


                  


(POLitik, eKonomi, Regulasi, keMasyarakatan)

Universitas  Anwar Medika Berikan Bea Siswa Para Juara


Sidoarjo, Informatika News Line (15/11/2023)

Universitas Anwar Medika Sidoarjo memberikan support nya pada dunia pendidikan khususnya di Kabupaten Sidoarjo dan sekitarnya. Puluhan juta beasiswa Universitas Anwar Medika diberikan kepada pemenang dance competition dan konten kreator video edukasi dalam rangka Hari kesehatan. Bea Siswa bisa digunakan untuk masuk di Fakultas Ilmu Kesehatan, dengan bea siswa penuh (MIG). Baca Lebih Lanjut 




Surabaya, Polkrim On Line (2/11/2023)
Kejaksaan Negeri Tanjung Perak, melaksanakan press release penerimaan penitipan uang pengganti atas dugaan tindak pidana korupsi pemberian kredit dari PT Bank BPD Jatim Lihat Link Berita Lebih Lanjut





Surabaya, Polkrim On Line (14/10/2023)
Golf Graha Famili (GGF) menyelenggarakan turnamen golf tahunan dalam rangka Anniversary yang ke-28 tahun.  Lihat Link Berita Lebih Lanjut 






Sidoarjo, Informatika News Line (01/10/2023)
Peresmian Rumah Sakit As Sakinah Medika Sidoarjo dilakukan oleh Bupati Sidoarjo Gus Muhdlor Rabu (01/10). Acara peresmian berlangsung marak dihadiri lebih kurang 200 an undangan. Prof.Dr.Bianto yang mewakili Ketua Muhammadiyah Jawa Timur menyampaikan Rumah Sakit As Sakinah Medika adalah bentuk realisasi amal amal sosial Muhammadiyah. Lihat Link Berita Lebih Lanjut


Gaya Gagap Komunikasi Pemerintah Dan Para Abdi Negara (News Analysis)

Covid 19 Naik Lagi, Ada juga yang Meninggal

Gerhana Matahari Hibryd

Biaya Jalur Mandiri Universitas Airlangga 2023

Mie Instant Pemicu Kanker

Para Raja Di Era Kalabendu

Ratusan Perusahaan Di Bandung Ngemplang Pajak ?

Potensi Penuh Rahasia Malang Selatan

Selamatkan Pulau Gede Rembang.  

Menemukan Missing Link Manusia

Presiden Mahfud MD

Rujuk Iran Dan Arab Saudi

Ancaman Serius Anomali Suhu

Menikmati Keramahan Sidoarjo

Pondok Pesantren Tertua

Mengenal Suami Nyi Roro Kidul : Dedi Mulyadi ?

Konsumsilah Makanan Yang Tepat

Mencicipi Pedasnya Ayam Rarang

Rendang Goes Global 

Menemukan Syal Indah Di Pasar Seni Soul : Sewindu Di Negeri Gingseng (2)

Satu Windu Di Negeri Gingseng (1)

Mie Instan Duta Besar Zuhairi Misrawi

Umat Islam Dan Para Sahabat Satu Paket Di Masa Rasulullah

Parade Foto Rubrik POLKRIM

MBA ITB 

Rubrik Ekonomi Bisnis

 


 

     Index News Informatika/Informatika News Line


 
 
 
 
Ikuti Informatika News Line 
Di Instagram


 
Dual Server
 
 
Indeks
 


















Lebih baru Lebih lama