Konsumsilah Makanan Yang Tepat

Konsumsilah Makanan Yang Tepat

 

Oleh : G. Ikka Wijaya

Tulisan opini kali ini berbeda. Karena alih-alih menulis topik yang bisa dibuat sendiri, lebih mengasyikkan jika membaca topik yang telah ditulis dengan matang oleh ahlinya dengan mengutip para professional di bidang keahlian yang satu domain dengan penulisnya.  Herry Mardian lulusan Psikologi Universitas Indonesia dan penulis kawakan, menulis dengan mengalir bagus. Topik tulisan ini adalah terkait dengan berkembangnya cyber society dalam beberapa tahun terakhir ini. Meledaknya cyber society, mau tidak mau,akhirnya membawa dampak yang tidak sederhana. Seperti yang diangkat oleh Herry Mardian dan beberapa kutipan studi professional psikologi lainnya. 


Baca Juga : 

Ginjal Terbebani: Jika Makan Malam Setelah Pukul 19 Malam



Hasil Studi yang diangkat oleh Herry Mardian dari sisi psikologi sebenarnya juga studi terusan dari studi tentang dampak penggunaan media komunikasi yang bahkan telah dilakukan sejak dekade 90-an. Hasil studi tersebut mengatakan dalam konteks komunikasi inter personal dengan kesimpulan sebagai berikut :

Komunikasi tatap muka, dalam studi yang dilakukan ternyata membawa dampak 20 % nilai kesalahan informasi. Komunikasi suara dengan perangkat telekomunikasi non tatap muka (voice telepon/seluler) membawa tingkat kesalahan informasi hampir mendekati 40 %. Semetara komunikasi dengan menggunakan text membawa tingkat kesalahan informasi di atas 80 %. 


Baca Juga 

Konsumsilah Makanan Yang Tepat

Tim Pengmas Farmasi Komitmen Tuntaskan Tuberkulosis di Sumenep Madura 

Tebak Apa Kepribadianmu ? Jika Suka Mengaktifkan Ponsel ke Mode Senyap



Dengan bahasa populer hasil studi tersebut mengatakan bahwa komunikasi via text itu hanya membawa kurang dari 20 % kebenaran, sisanya yang 80 % adalah kesalahan informasi, dalam bahasa Herry Mardian, kesalahan informasi ini membawa dampak ilusi. Sebuah ilusi kebenaran pada 80 % kesalahan informasi. 

Selanjutnya Komunikasi via suara (voice) melalui jaringan telekomunikasi (PSTN/Selluler/Kabel) membawa 40 % tingkat kesalahan dan hanya 60 % informasi benar yang berhasil dipindahkan ke lawan bicara. 

Apa artinya hasil studi tersebut dalam konteks kekinian ? Seharusnya muncul pemahaman yang lebih mendalam, dan kesadaran untuk selalu bersabar, pada prasangka yang muncul setelah membaca sebuah teks. Tiba-tiba marah, tiba-tiba berprasangka, tiba-tiba menjadi viral. Padahal itu hanyalah ilusi kebenaran yang menempel pada sebuah kesalahan dasar yang melekat pada informasi yang dibaca atau diterima oleh lawan bicara

Bandingkan hasil studi dekade 90-an akhir ini dengan deretan tulisan Herry Mardian di bawah ini.             


BERAPA kali kita membandingkan diri kita dengan orang lain, dalam hal-hal yang sebenarnya kita juga menginginkan apa yang mereka punya? Misalnya, kekayaan, kesuksesan, ketampanan atau kecantikan, gaya hidup, atau bahkan tingkat keagamaan dan spiritualitas. 


        Dalam Psikologi, ini disebut 'Social Comparison'. Kita membandingkan aspek-aspek tertentu dalam diri kita, seperti perilaku, pendapat, nilai-nilai, pandangan hidup, status, kesuksesan, keberhasilan, kebahagiaan, dan lain sebagainya, dengan orang lain. Dari perbandingan itu, kita 'merasa' akan memperoleh penilaian yang lebih akurat tentang diri kita sendiri. Kita lalu menggunakan hasil perbandingan tadi untuk tiga hal: self-improvement, self-evaluation, dan self-enhancement. Itu kata orang yang membuat teorinya, Pak Festinger. 

        Dengan kata lain, menurut Pak Festinger, persepsi kita terhadap diri kita sendiri --antara lain--  dibentuk oleh bagaimana kita merasa ketika kita bandingkan diri kita dengan orang lain. Nah, kita sekarang bicara tentang hal lain. Tentang SNS. Social Networking Services, atau yang biasa kita sebut 'medsos'. 

        Ketika kita upload foto kita, cerita kita, perjalanan kita, tentu kita atur, seleksi, pilih, kita manage sedemikian rupa, sehingga hanya aspek tertentu yang memang kita inginkan untuk terlihat oleh orang lainlah yang tampil. Kan gitu. 

        Dengan kata lain, kita 'mengatur persepsi orang lain terhadap diri kita' agar mereka hanya melihat sisi-sisi yang baik, atau terbaik, tentang profil kita. Kita meng-kurasi (curated) profil diri kita yang mana yang boleh tampil di medsos dan mana yang tidak. Artinya, itu bukan realitas kita yang sebenarnya. Itu realitas diri kita yang semu (atau palsu), karena kita yang sebenarnya ya tidak begitu. Itu selektif, tidak imbang, diatur untuk membentuk impresi orang, dan yang bagus-bagusnya aja. 

        Nah, semua profil manusia di medsos adalah hasil kurasi. Bukan realitas. Ini adalah 'dunia' selektif yang semu. Di jaman kiwari, kita tidak terlalu banyak berinteraksi dengan realitas langsung di luar sana. Kita memperoleh informasi tentang apa saja lewat internet (masih ada yang langganan koran? Ayah saya masih). Bahkan, cukup banyak manusia di dunia ini yang mengandalkan perolehan informasi --hanya-- dari media sosial --saja--. 

        Artinya apa? Artinya, kita sekarang membiarkan diri kita melihat dunia di luar sana hanya melalui realitas semu tadi, yang selektif, yang di-kurasi lebih dahulu. Kita mengandalkan perolehan informasi lewat realitas yang palsu. Dan, kita mengira realitas selektif tadi benar-benar seratus persen menggambarkan apa yang ada di luar sana. Padahal enggak.  

        Artinya, sudut pandang kita tentang dunia luar, sekarang, semata-mata dipilihkan, dibentuk, dan di-kurasi oleh AI di media-media sosial. Persepsi kita tentang dunia luar di sana tidak obyektif lagi, tapi dibentuk. Kita mengira semua orang pro pada calon presiden tertentu, atau semua orang peduli pada KDRT seorang artis. Sementara yang berbeda pandangan dengan kita, kita anggap minoritas, bodoh, dan ketinggalan jaman. Padahal realitas 'obyektif' yang kita yakini itu cuma feed, hasil suapan mentah-mentah, dari "komputer" (baca: AI) kepada otak kita. Dan kita makan semua suapan informasi itu begitu saja. 

        Di sisi personal, menarik: media sosial akan mendistorsi titik referensi kita. Kita akan dibuat merasa jika kehidupan orang lain lebih baik dari kehidupan kita. Kita mah 'nggak ada apa-apanya' jika dibandingkan keberhasilan diet orang lain, kesuksesan orang lain, keindahan tubuh orang lain, atau status orang lain. 

        Ya karena orang lain memang hanya memilih yang keren-keren aja dari hidupnya untuk di-upload. Dan kita mengira semua orang lebih keren dari kita, dan "ah aku mah apah."

        Sudah banyak ditemukan ada hubungan antara gejala-gejala depresi dengan penggunaan Instagram, contohnya. Dikatakan, "kegemaran browsing gambar-gambar di media sosial bisa mengakibatkan bermunculannya perasaan menilai diri yang selalu rendah, dan akibatnya akan mempengaruhi kemunculan emosi-emosi negatif kita, dan akhirnya juga berpengaruh terhadap kesehatan mental kita." 

        Studi tahun 2015 (Lup, Trub, Rosenthal, 2015) menemukan bahwa penggunaan Instagram itu berpengaruh pada meningkatnya perasaan depresif pada user yang banyak mem-follow akun-akun dari orang-orang yang sebenarnya tidak dikenalnya. 

        Demikian pula, pada orang yang membandingkan dirinya dengan orang lain, kegemaran mem-browsing posting-posting orang yang tidak dikenalnya akan meningkatkan perasaan-perasaan negatif dalam dirinya. 

        Mereka juga menemukan bahwa frekuensi dalam browsing Instagram itu terkait secara signifikan dan positif dengan tingkat mood depresif seseorang dalam tujuh bulan kedepan. Artinya, jika sekarang gemar browsing IG, kemungkinan sampai tujuh bulan kedepan mood depresifnya akan meningkat. 

        Juga, kegemaran browsing foto-foto secara pasif di IG bisa berujung pada negative social comparison, di mana seseorang selalu menilai dirinya tidak sebaik yang seharusnya dan selalu merasa tidak sebaik orang lain. Ini bisa menjelaskan kenapa kesehatan mentalnya tidak baik. 

        Hal yang menarik lagi, Reece dan Danforth (2017) mempelajari 43.950 akun Instagram dengan menggunakan teknik-teknik komputasional machine learning, lalu mewawancarai para pemilik akun. Ternyata mereka yang mengalami gejala depresi akan cenderung lebih suka untuk posting foto-foto dengan warna-warna kebiru-biruan, lebih cenderung gelap, dan lebih kelabu, dan cenderung lebih jarang menggunakan filter. Kalau pun orang yang depresif ini menggunakan filter, mereka cenderung menggunakan filter 'Inkwell' yang mengubah gambar menjadi hitam putih. 

        Ini sesuai dengan teori bahwa para penderita depresi lebih punya preferensi pada warna-warna yang lebih gelap, lebih biru, dan lebih monokromatik. 

Partisipan yang tidak depresi akan lebih suka menggunakan filter "Valencia" di IG, yang membuat gambar menjadi lebih terang. 

Apa artinya semua ini?  Artinya, sekarang bahkan mereka yang punya kecenderungan depresif dan yang tidak sudah bisa diseleksi lewat posting-posting Instagramnya. Artinya, sekarang sudah terlihat bahwa memang ada antara hubungan antara penggunaan Instagram dengan kesehatan mental.

"Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya." Kata Allah dalam Al-Qur'an (Abasa : 24). 

Kalau dari kacamata tasawuf, 'makanan' itu bukan hanya yang ditelan. Tapi juga makanan pikiran dan makanan batin. Jaga makanannya, beri hanya makanan yang baik. Buat orang beriman, perintahnya bukan hanya makanan yang halal saja, tapi juga yang 'thoyib'.

Dan ternyata kita mau makan begitu saja apa-apa yang dipilihkan komputer (AI), dan menelannya mentah-mentah untuk konsumsi pikiran dan perasaan kita. Ah.  PS: yang berminat topik begini, bisa baca Atrill-Smith, "The Oxford Handbook of Cyberpsychology" (2019) 


Baca Juga :

ChatGPT Is Bullshit, Sisi Mengerikan Dari Halusinasi Artificial Intelegensi 







Lihat Juga


 

 

Lihat Tajuk Rencana Dan Opini  :

Editorial Informatika News Line






Lebih baru Lebih lama