Ancaman Serius Anomali Suhu Global, Gagalnya Distribusi Sumber Daya Alam Global (News Analisys)

 Ancaman Serius Anomali Suhu Global, Gagalnya Distribusi Sumber Daya Alam Global  (News Analisys) 



NEWS CLIP
1. More than 160 Afghans die in bitterly cold weather (Reuters, 27-01-2023)
2. 15 Tahun Lagi, Setengah Bagian Bumi akan Membeku 
3. 1.749 Warga di Bolaang Mongondow Terdampak Banjir (Antara, 04-02-2023 06:00)  
4. 250 Hektare Sawah di Sumbawa Terendam Banjir (Antara, 04-02-2023)
5. Rekor, Curah Hujan Selama 24 Jam di Auckland Picu Banjir Besar (Xinhua, 30-01-2023 15:00)
6. 19 Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara Terendam Banjir, 20 Ribu Orang Terdampak (Antara, 24-01-2023 09:00)



DESKRIPSI 

1. More than 160 Afghans die in bitterly cold weather


January 27, 2023, 4:55 AM GMT+7
KABUL, Jan 26 (Reuters) - More than 160 people have died from the cold in Afghanistan this month in the worst winter in more than a decade, authorities said on Thursday, as residents described being unable to afford fuel to heat homes in temperatures well below freezing.

Lebih dari 160 orang meninggal karena cuaca dingin ekstrem di Afghanistan bulan ini, kata pihak berwenang,  Kamis, 26 Januari 2023. Di musim dingin terburuk sejak dalam lebih dari satu dekade, banyak warga yang tidak mampu membeli bahan bakar untuk menghangatkan rumah-rumah di suhu yang jauh di bawah titik beku.

"162 people have died due to cold weather since January 10 until now," said Shafiullah Rahimi, a spokesperson for the Minister of Disaster Management. About 84 of the deaths had taken place in the last week. The coldest winter in 15 years, which has seen temperatures dip as low as -34 degrees Celsius (-29.2 degrees Fahrenheit), has hit Afghanistan in the middle of a severe economic crisis.

"162 orang meninggal dunia karena cuaca dingin sejak 10 Januari hingga sekarang,” kata Shafiullah Rahimi, juru bicara untuk Kementerian Penanganan Bencana. Sekitar 84 kematian terjadi dalam pekan lalu.Musim dingin terburuk dalam 15 tahun, yang mengalami penurunan suhu serendah -34 derajat Celcius, telah menghantam Afghanistan di tengah-tengah krisis ekonomi yang sangat parah.

Many aid groups have partially suspended operations in recent weeks due to a Taliban administration ruling that most female NGO workers could not work, leaving agencies unable to operate many programmes in the conservative country.

Banyak badan kemanusiaan menghentikan sebagian besar operasinya dalam pekan-pekan terakhir karena pemerintah Taliban memerintahkan bahwa sebagian besar perempuan pekerja LSM tidak boleh bekerja, membuat badan-badan kemanusiaan itu, mereka tak dapat menjalankan banyak program di 
negara konservatif itu.

In a snowy field in the west of the Afghan capital, children rummaged through rubbish looking for plastic to burn to help their families, unable to afford wood or coal.

Di sebuah lapangan bersalju di barat ibukota Afghanistan, anak-anak mengobrak-abrik sampah mencari plastik untuk dibakar demi membantu keluarga mereka, yang tidak mampu membeli kayu 
atau batu bara.

Nearby, 30-year-old shopkeeper Ashour Ali lives with his family in a concrete basement, where his five children shiver from cold.

"This year, the weather is extremely cold and we couldn't buy coal for ourselves," he said, adding the small amount he makes from his shop was no longer enough for fuel.

"The children wake up from the cold and cry at night until the morning. They are all sick. So far, we have not received any help and we do not have enough bread to eat most of the time."

Tak jauh dari sana, penjaga toko berusia 30 tahun, Ashour Ali, tinggal bersama keluarganya di rubanah beton, di mana kelima anaknya menggigil kedinginan. 

“Tahun ini, cuaca sangat dingin dan kami tidak mampu membeli batu bara untuk kami sendiri,” katanya, sambil menambahkan uang yang ia dapat dari tokonya tak cukup untuk membeli bahan bakar.“ Anak-anak terbangun karena kedinginan dan menangis di tengah malam hingga pagi hari. Mereka semua sakit. Sejauh ini, kami belum menerima bantuan apa pun dan sebagian besar waktu, kami tidak memiliki cukup roti untuk dimakan.”

During a visit to Kabul this week, U.N. aid chief Martin Griffiths said the world body was seeking exemptions to the ban on most female aid workers that was coming at one of the most vulnerable times for many Afghans.

Selama kunjungannya ke Kabul minggu ini, kepala urusan kemanusiaan PBB Martin Griffiths mengatakan badan dunia itu berusaha mencari pengecualian untuk larangan sebagian besar perempuan pekerja kemanusiaan yang datang di saat-saat paling rentan bagi banyak warga Afghanistan.

"The Afghan winter … as everybody in Afghanistan knows is the big messenger of doom for so many families in Afghanistan as we go through these many years of humanitarian need … we see some of the consequences in loss of life," Griffiths told Reuters
.
"Musim dingin di Afghan … seperti diketahui semua orang di Afghanistan adalah pembawa pesan petaka bagi begitu banyak keluarga di Afghanistan ketika kita melewati banyak tahun yang membutuhkan bantuan kemanusiaan … kita melihat beberapa konsekuensinya hilangnya nyawa,” kata Griffiths kepada Reuters.REUTERS

Reporting by Mohammad Yunus Yawar; Writing by Charlotte Greenfield, Editing by William Maclean

Lihat Link 
https://www.reuters.com/world/asia-pacific/more-than-160-afghans-die-bitterly-cold-weather-2023-01-26/

2. 15 Tahun Lagi, Setengah Bagian Bumi akan Membeku 


Jeko I. R.Jeko I. R., 15 Jul 2015, 07:42 WIB

15 tahun lagi, setengah bagian wilayah Bumi diprediksi akan mengalami zaman es mini. Apakah benar itu akan terjadi?

Liputan6.com, North Wales - Zaman es atau "Ice Age" rupanya tidak hanya terjadi di masa lampau. Menurut kabar yang beredar baru-baru ini, sekelompok ilmuwan membuat prediksi bahwa dalam waktu 15 tahun ke depan atau tepatnya pada tahun 2030, sebagian wilayah Bumi akan masuk dalam zaman es mini. Hal tersebut akan disebabkan oleh aliran Sungai Thames akan membeku pada saat musim dingin.



Menurut informasi yang dilansir laman Telegraph, Rabu (15/7/2015), ilmuwan yang termasuk ke dalam tim peneliti solar di University of Northumbria tersebut menciptakan sebuah model aktivitas matahari yang menjelaskan tentang prediksi akurat fenomena alam yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Mereka mengungkap, "gerakan cairan" yang bergerak di dalam Matahari dapat dianggap mempengaruhi siklus cuaca. Hal ini bisa membuat suhu turun drastis pada tahun 2030. Bahkan, aktivitas solar atau Matahari diprediksi akan turun secara drastis sebanyak 60 persen.

Di dalam presentasi National Astronomy Meeting yang digelar di Llandudno, seorang ilmuwan yang bernama Prof Valentina Zharkova menjelaskan bahwa turunnya aktivitas Matahari yang dapat menyebabkan kondisi begitu dingin serupa dengan yang pernah dialami Bumi pada akhir abad ke-17.

Lebih lanjut, aktivitas Matahari yang mampu mengubah iklim Bumi ini disebut sebagai "Maunder Minimum" atau sering disebut "Little Ice Age". Peristiwa ini juga menyatakan bahwa aktivitas bintik Matahari sedang berada di posisi yang paling rendah.

Maunder Minimum pada awalnya terjadi pada periode tahun 1645 dan 1715. Pada saat itu, wilayah Eropa dan Amerika Utara mengalami musim dingin dengan suhu temperatur dingin yang sangat ekstrim.(jek/dew)

Lihat Link 
https://www.liputan6.com/tekno/read/2272533/15-tahun-lagi-setengah-bagian-bumi-akan-membeku


3. 1.749 Warga di Bolaang Mongondow Terdampak Banjir

1.749 Warga di Bolaang Mongondow Terdampak Banjir
Antara • 04 Februari 2023 06:00  

Bolaang Mongondow: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolaang Mongondow, Sulawesi Utara, mencatat sebanyak 1.749 warga empat kecamatan di 
wilayah tersebut terdampak banjir pada Rabu, 1 Februari 2023.
 
"Jadi ada sebanyak 514 kepala keluarga yang terdampak, sementara jumlah rumah warga yang terendam banjir genangan sebanyak 499 unit," sebut Kepala Pelaksana BPBD Bolaang Mongondow, Syahril Mokoagow didampingi Kabid Kedaruratan, Abdul Muin di Manado, Jumat, 3 Februari 2023.
 
Terjadinya banjir dan longsor di beberapa kecamatan tersebut akibat cuaca ekstrem sejak pagi jam 10.00 wita hingga sore hari jam 17.30 Wita, longsor memutus akses transportasi penghubung Bolaang Mongondow-Kota Kotamobagu, Bolaang Mongondow-Bolaang Mongondow Utara ataupun sebaliknya.

Dari data hasil kaji cepat BPBD Bolaang Mongondow, genangan banjir di Kecamatan Lolak mencakup Desa Mongkoinit (175 rumah/175 KK/603 jiwa), Desa Baturapa I (25 unit rumah, 25 KK/108 jiwa), Desa Baturapa II (34 unit rumah/42 KK/134 jiwa), dan Desa 
Dulangon (35 unit rumah/38 KK/138 jiwa).
 
Di Kecamatan Bolaang menggenangi Kelurahan Inobonto I (12 unit rumah/12 KK/48 jiwa), Desa Inobonto (13 unit rumah, 13 KK/48 jiwa), Desa Inobonto II (59 unit rumah/59 KK/189 jiwa).
 
Kecamatan Bolaang Timur mencakup Desa Ambang II (102 rumah/102KK/325 jiwa), Kecamatan Sangtombolang banjir menggenangi Desa Lolanan (5 unit rumah/5 KK/18 jiwa), Desa Bolangat (34 unit rumah/38 KK/120 jiwa), Desa Pangi (5 Rumah/5 KK/18 jiwa) dan Desa Cempaka (hanya genangan).
 
Sementara tanah longsor terjadi di jalan AKD (ruas Kaiya-Kotamobagu), tiga titik di Desa Sauk, Kecamatan Lolak serta satu titik longsor di Desa Diat berada di kawasan SMK Cokroaminoto Lolak.
 
"Informasi peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG Sulut untuk wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow sudah disebarluaskan kepada masyarakat agar selalu waspada 
potensi bencana hidrometeorologi khususnya bagi masyarakat yang bermukim di wilayah sempadan sungai, perbukitan dan pesisir pantai," terang dia.
 
Dia menyebutkan, saat ini titik longsor yang terjadi di Kelurahan Inobonto I yang menutupi ruas badan jalan dengan material longsor sudah dibersihkan oleh BPJN Sulut.
 
Begitupun dengan longsoran di Desa Sauk, juga juga sudah selesai dibersihkan oleh BPJN Sulut namun ada sebagian badan jalan yang amblas sehingga pengguna jalan harus ekstra hati-hati saat melintas, sementara kondisi cuaca saat ini masih berpotensi terjadi hujan (MEL)

Lihat Link 
https://www.medcom.id/nasional/daerah/8koM7adN-1-749-warga-di-bolaang-mongondow-terdampak-banjir?utm_source=msn&utm_medium=msn&utm_campaign=msn

4. 250 Hektare Sawah di Sumbawa Terendam Banjir 


250 Hektare Sawah di Sumbawa Terendam Banjir

Praya: Hujan lebat yang menyebabkan sungai meluap disertai banjir menerjang tiga desa di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat (NTB), mengakibatkan ratusan hektare sawah warga tergenang banjir bandang.

"Sebanyak 250 hektare sawah warga terendam banjir setinggi 30 cm hingga satu meter," kata Kasi Humas Polres Sumbawa AKP Sumardi di Mataram, Sabtu, 4 Februari 2023.

Banjir bandang yang diakibatkan hujan lebat tersebut juga mengakibatkan 22 ekor ternak kambing dan dua ekor sapi hanyut terseret banjir bandang serta sejumlah kandang ternak rusak.

"Puluhan kuintal pupuk dan gabah milik warga juga terkena banjir," katanya.

Sebelumnya hujan lebat dengan intensitas tinggi mengakibatkan puluhan rumah warga di tiga desa di Kabupaten Sumbawa terendam banjir bandang, Jumat, 3 Februari 2023.

"Bencana alam banjir itu terjadinya di tiga desa yakni Desa Usar, Desa Sempayung dan Desa Plampang, Kecamatan Plampang," kata Kasi Humas Polres Sumbawa, AKP Sumardi.

Ia mengatakan banjir bandang yang menerjang rumah warga tersebut akibat hujan lebat yang terjadi sejak siang hingga sore dan menyebabkan air sungai di Desa Usar, Desa Sempayung dan di Dusun Sejari, Dusun Karya Mulya serta Dusun Karya Jaya Desa Plampang meluap masuk ke rumah warga.

"Tidak ada korban jiwa, ketinggian air mencapai satu meter," terang dia.

Berdasarkan laporan sementara, banjir tersebut mengakibatkan empat unit rumah rusak berat dan 13 rumah terendam serta puluhan ternak hanyut di Dusun Sejari. Kemudian di Dusun Karya Mulya sebanyak 17 rumah terendam dan di Dusun Karya Jaya sebanyak 38 rumah warga terendam banjir.

Selain itu di Desa Usar sebanyak delapan rumah warga dan di Desa Sempayung sebanyak 12 unit rumah warga terendam banjir.

"Sejumlah barang berharga milik warga juga ikut terendam banjir," bebernya.

Ia mengatakan untuk sementara waktu warga yang terdampak banjir telah diarahkan mengungsi ke rumah keluarga yang tidak terdampak.

"Anggota masih disiagakan bersama Tim BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) ?????untuk membantu warga yang terkena dampak bencana alam. Kondisi air telah mulai surut," jelas dia.

Lihat Link
https://www.msn.com/id-id/berita/other/250-hektare-sawah-di-sumbawa-terendam-banjir/ar-AA175AyF?ocid=msedgntp&cvid=20b552e62e8546a684ecf6d33b89e6e9


5. Rekor, Curah Hujan Selama 24 Jam di Auckland Picu Banjir Besar 

Rekor, Curah Hujan Selama 24 Jam di Auckland Picu Banjir Besar

Xinhua, Ridian Eka Saputra
Senin, 30 Januari 2023 15:00 WIB

Hujan yang mengguyur semalaman sejak Jumat (27/1) hingga Sabtu (28/1) pagi waktu setempat di 
Auckland telah menyebabkan banjir besar di kota terbesar di Selandia Baru itu. Badan meteorologi 
nasional Selandia Baru mencatat curah hujan mencapai 249 mm dalam 24 jam. Ini merupakan pemecahan rekor curah hujan terparah di negara tersebut. (XINHUA (Rinto A Navis/Rayyan/Ardi Irawan))

Lihat Link 
https://video.tempo.co/read/32476/rekor-curah-hujan-selama-24-jam-di-auckland-picu-banjir-besar


6. 19 Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara Terendam Banjir, 20 Ribu Orang Terdampak 

19 Kecamatan di Kabupaten Aceh Utara Terendam Banjir, 20 Ribu Orang Terdampak

Antara. Zulfikar Epriyadi
Selasa, 24 Januari 2023 09:00 WIB

Terdata sebanyak 19 kecamatan di Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, terimbas banjir pada Senin 23 Januari 2023, yang mengakibatkan 20.175 orang terdampak. Sementara itu hujan deras telah mengakibatkan longsor di sejumlah titik di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat. (Enjang Solihin/Try Vanny S/Agha Yuninda Maulana/Ludmila Yusufin Diah Nastiti)

Lihat Link 
https://video.tempo.co/read/32404/19-kecamatan-di-kabupaten-aceh-utara-terendam-banjir-20-ribu-orang-terdampak




NEWS ANALISYS
ANOMALI SUHU GLOBAL, GAGALNYA DISTRIBUSI SUMBER DAYA ALAM GLOBAL

+35 derajat Celcius di Sidoarjo, -35 derajat Celcius di Afganistan
Kekurangan Kayu Bakar di Afganistan, Belimpah Kayu Bakar di Pulau Jawa

Anomali cuaca terjadi di seluruh dunia selama beberapa waktu belakangan terakhir. Dan anomali cuaca ini mulai menelan korban dengan jumlah yang besar sekali. Di Afganistan dengan suhu minus 35 derajat Celcius, jatuh sebanyak 160 korban tewas. Kemiskinan yang melanda penduduk Afganistan membuat mereka gagal menyediakanbahan bakar, termasuk kayu untuk menjaga kehangatan pada suhu normal. Reuters melaporkan jumlah korban udara dingin yang sangat banyak ini. 

Sementara itu suhu panas 35 derajat Celcius dialami oleh warga Sidoarjo, Jawa Timur. Suhu yang sangat panas ini merupakan suhu ekstrim yang menjadi antitesis suhu ekstrim dingin yang terjadi di Afganistan. Tidak ada laporan jumlah korban pada suhu panas 35 derajat Celcius ini, akan tetapi beberapa warga mengeluhkan suhu panas ini, akan tetapi lebih banyak lagi warga lain yang menganggap suhu tinggi sebagai hal yang wajar di tengah cuaca panca roba yang sedang terjadi saat ini. Tewasnya ratusan korban di Afganistan ini juga membongkar kegagalan lain selain kemampuan peradaban manusia mengatasi suhu ekstrim, distribusi sumber daya alam. Kebutuhan kayu bakar untuk menghangatkan badan di Afganistan adalah contoh gagalnya distribusi sumber daya alam oleh peradaban manusia. Sementara terdapat sekian banyak kayu bakar tidak dipakai sama sekali di lokasi kota-kota di Pulau Jawa misalnya. Jika distribusi sumber daya alam ini berhasil dilakukan dengan baik, maka kemungkinan akan mampu menurunkan jumlah korban akibat suhu ekstrim di Afganistan.



Peneliti perubahan cuaca, Edward J. Brook, dalam penelitiannya Antarctic and global climate history viewed from ice cores, yang dipublikasikan dalam Nature (Jun 13, 2018) mengangkat data yang mengejutkan tentang siklus atau putaran perubahan cuaca yang terjadi di Bumi sepanjang 800 ribu tahun. 

Jaringan inti es Antartika yang ditemukan dan dianalisis itu mengungkapkan adanya siklus cuaca yang terjadi selama 800.000 tahun. Iklim Antartika dan komposisi atmosfer dan hubungan yang erat antara gas rumah kaca, aerosol, dan iklim global membentuk siklus cuaaca pada rentang waktu yang sangat panjang.

  




Siklus cuaca yang berhasil dipetakan dari jaringan es inti (growing network ice core) itu terjadi selama 40 ribu sampai 100 ribu tahun sekali. Jadi selama jangka waktu 40 ribu tahun sampai 100 ribu tahun terjadi siklus cuaca otomatis yang terjadi di seluruh dunia. 

Data juga menunjukkan bahwa putaran siklus terakhir telah terjadi 40 ribu tahun yang lalu. Artinya dalam jangka beberapa waktu ke depan akan terjadi sebuah siklus cuaca yang memgembalikan kondisi cuaca bumi ke kondisi cuaca "normal" setelah kembali ke puncak jaman es. 

Dari data jaringan inti es tersebut, terlihat bahwa bumi saat ini sedang berada dalam kondisi suhu tertingginya. Setelah suhu tertinggi tercapai, maka pelan-pelan sebuah mekanisme tertentu yang belum diketahui akan menurunkan suhu bumi sampai ke titik terendah atau suhu puncak jaman es. 

Pada grafik yang menganalisis simpangan suhu terttinggi dan terendah di bumi selama jangka waktu tertentu di atas terlihat bahwa setelah mencapai suhu tertinggi, mekanisme siklus cuaca di Bumi membawa iklim turun ke suhu yang rendah dan pada akhirnya kemudian mencapai puncak suhu terendah (puncak jaman es). 

Siklus yang terjadi selama jangka waktu puluhan ribu tahun ini selama 800.000 tahun diketahui oleh para peneliti sebagai sebuah siklus yang alami terjadi selama 800 ribu tahun. Penelitian mengenai koneksi siklus dengan kandungan karbondioksida, aerosol dan lain-lain terus dilakukan oleh para peneliti untuk semakin memahami mekanisme siklus iklim global ini. Para peneliti misalnya saat ini sedang mengembangkan penelitian lebih lanjut jangka waktu siklus dari 40 ribu-100 ribu tahun yang mencakup jangka waktu 800 ribu tahun menjadi masa yang lebih panjang menjadi sekitar satu juta tahun.  



Analisis dilakukan pada inti es EPICA Dome C dari Antartika Timur memberikan rekor inti es terpanjang saat ini, kembali 800.000 tahun. Dari intinya, para ilmuwan dapat mengukur tingkat siklus CO2 di masa lalu di atmosfer dan memperkirakan siklus perubahan suhu selama 800 ribu tahun.





Akan tetapi penelitian mengenai faktor penyebab yang terlibat dalam siklus ini tidaklah terlalu penting dibandingkan dengan realitas yang menunjukkan bahwa siklus iklim suhu bumi itu punya perilaku mengalami penurunan yang tidak bisa dihentikan, sampai menuju titik turun suhu terendah yang setara dengan suhu terendah di puncak jaman es.  Grafik glacial-interglacial yang dikenal di kalangan Geologi lebih menjelaskan bagaimana siklus glacial-interglacial itu terjadi. Bukan semata-mata ulah manusia, akan tetapi lebih kepada sistem yang memang telah dimiliki oleh Bumi sejak ratusan ribu bahkan jutaan tahun yang lalu. 

Bersiap menghadapi putaran siklus yang terjadi puluhan ribu tahun itu, mungkin jauh lebih bermanfaat untuk menyelamatkan ras manusia dari kepunahan, akibat siklus bumi, siklus glacial-interglacial. Sebuah persiapan yang belum pernah dilakukan oleh ras umat manusia sepanjang kemunculannya di muka Bumi.
   









First Published, 31/01/2023, 23.44

Lebih baru Lebih lama