Polkrim, Informatika NewsLine, Sidoarjo (20/02/2023)
Di tepi sungai Siwalan Panji, di tengah kota Sidoarjo, pondok pesantren Al Hamdaniah Panji terlihat seperti banyak lembaga pendidikan Islam biasa. Sederhana dan berpenampilan seperti itu. Seperti itu bagaimana ? Ya Seperti itu, seperti banyak lembaga pendidikan Islam biasa lainnya lah. Seperti lembaga pendidikan Islam yang biasa.
Tapi ada yang aneh saat masuk ke dalam Pondok. Santri-santri muda belia bersarung, berkopiah hitam dan kadang ada juga yang telanjang kaki......alias ..".nyeker " (dalam Bahasa Jawa Timuran). Beberapa santri wanita yang juga masih muda belia, di pojok depan pagar, tampak asyik memilah sampah yang dimasukkan ke plastik hitam.
Tapi ada yang aneh. Pada saat Informatika News Line memutuskan masuk ke dalam, ada tulisan tahun yang tampak janggal. Tahun 1787 M tertulis di gerbang masuk Timur dan tahun Hijriah 1202 H tertulis di gerbang masuk Barat.
Apa-apa an ? Tahun 1787 ? Itu 235 tahun yang lalu. Ini bersesuaian dengan tahun Hijriah 1202 H yang ada di gerbang Barat.
Pertanyaan Informatika News Line terjawab setelah salah satu santri senior mempersilahkan Informatika News Line masuk dan duduk di ruangan kantor pengelola pendidikan.
" Betul ..memang tahun 1787 itu Pondok Pesantren ini didirikan." kata salah satu santri Senior itu dengan sopan.
" Luar biasa ..."
Pondok pesantren Panji ini sudah berdiri 235 tahun yang lalu. Pondok Pesantren Panji bahkan 62 tahun mendahului Dokter Djawa Scholl STOVIA yang dibuat oleh Pemerintah Belanda tahun 1849 (Universitas Indonesia) di Jakarta. Atau bahkan de Technische Hogeschool te Bandung yang dibuat pada tahun 1920 (ITB) di Bandung.
Tapi, meski pun begitu, Pondok Pesatren Al Hamdaniah Panji tampil sangat sederhana. Tidak seperti ribuan meter persegi lahan yang sekarang dimiliki oleh mantan lembaga pendirikan Dokter Djawa Scholl STOVIA atau de Technische Hogeschool te Bandung. Pondok Pesantren Panji masih tetap seperti 235 tahun yang lalu. Luas lahan pendidikan yang menampung hampir 500 orang itu ya segitu-segitu saja.
Tak ada tanah pendidikan ribuan meter persegi. Hanya seluas sebesar itu saja. Tak tahu bagaimana respon pemerintah melihat hal ini, atau pura-pura tidak tahu ? Lembaga pendidikan yang dibangun oleh kerja keras masyarakat, yang bahkan jauh lebih tua dari UI dan ITB, dibiarkan begitu saja oleh pemerintah ..... kalau tidak boleh dikatakan ditinggalkan. Pasti telah ada ribuan santri yang lulus dari Pondok Pesantren ini, dan mereka yang telah lulus juga ikut membantu membangun masyarakat negeri ini. Tapi yah pondok luar biasa tua ini tampil tetap sederhana.
Mungkin memang begitulah nasib lembaga pendidikan sepuh dan senior yang jauh jaraknya dari Ibu Kota, Jakarta. Dipandang sebelah mata oleh Jakarta ? atau jangan-jangan bahkan tidak dikenali kiprahnya ratusan tahun ini?
Informatika News Line mencoba berjalan kaki di jalanan becek di depan IPAL (Instalasi Pengolah Limbah) PDAM Siwalan Panji Sidoarjo yang berjarak kurang dari 200 meter dari Ponpes Al Hamdaniah Panji.
***
Athoillah, salah satu santri Senior yang diminta mendampingi Informatika News Line, menceritakan bagaimana asal muasal Pondok Panji ini didirikan, sambil meminta maaf karena pengurus Utama Pondok Pesantren lainnya sedang dalam kondisi jadwal yang sangat sibuk, sehingga tidak bisa mendampingi Informatika News Line.
" Mohon maaf sekali ....Sedang penuh sekali jadwalnya... tapi saya Insya Allah akan membantu mendampingi ..." kata Atthoillah. Menurut Atthoillah beberapa awak media dari Jakarta dan juga Surabaya telah datang sebelumnya, dan karena datang tidak dengan jadwal sempat membuat pihak Pondok menjadi kalang kabut menyambut dan melayani.
"Memang pekerjaan jurnalis ya seperti itu Mas Athoillah... dikejar-kejar waktu... tapi Informatika News Line punya cukup waktu Mas ...tidak terburu-buru.... jangan khawatir..... Kita biasa bertemu di banyak event..bahkan saat bersama-sama meliput ke Teheran mereka juga bersama-sama dengan Informatika News Line mewakili media massa Nasional " Informatika News Line mencoba menjelaskan kelakukan sering memaksakan jadwal dari beberapa Media Massa Nasional kepada nara sumber.
Lihat Reportase Informatika Newsline di Teheran :
Athoillah meneruskan cerita pembangunan awal Pondok Pesantren Al Hamdaniah ini. Menurut cerita Athoillah, kayu-kayu yang digunakan untuk membangun Pondok, dulu dilewatkan di sungai yang ada di depan Pondok (Sungai Siwalan Panji yang termasuk atau disebut juga Sungai Buduran).
Sungai Siwalan Panji - Buduran sendiri termasuk dari beberapa sungai yang membelah dan melewati Kota Kabupaten Sidoarjo. Bentang Sungai Buduran Siwalan Panji ini bahkan memotong jalan besar utama lama Malang-Sidoarjo-Surabaya dan juga jalan Tol Surabaya-Malang. Sungai Buduran Siwalan Panji adalah termasuk dari pecahan anak-anak sungai Kali Brantas yang bersambung dengan induk Kali Brantas di Rolak 9 yang jauhnya sekitar 30 km di wilayah Mojokerto.
Dulu di sekitar lokasi Pondok selain daerah berawa rawa, banyak juga ditemukan tanaman lontar, yang kemudian ditebang untuk lokasi pondok pesantren.
Karena daerah berawa-rawa pasti 200 tahun yang lalu lokasi di sekitar tak hanya becek, akan tetapi jauh lebih menyeramkan dari yang ada sekarang. Sisa hujan tadi malam memang menyisakan air becek dari sekitar IPAL PDAM Sidoarjo, akan tetapi rasanya aneh juga melihat Pondok Pesantren sepuh ini dibiarkan begitu saja oleh pemerintah. Rasanya ada ratusan hektar lahan yang bisa disiapkan untuk memperluas Pondok Pesantren, atau bahkan mungkin perlu dibuatkan satu gedung apartemen yang bagus untuk melayani santri santri di Pondok Pesantren tua ini. Atau mungkin begitu lah wajah Pemerintah dalam menghadapi warisan sejarah pendidikan di negeri sendiri ?
Menurut Athoillah Pondok Panji bukanlah satu satu nya, pondok tertua yang ada di Indonesia. Pondok Panji adalah Pondok tertua ke 11 yang ada di Indonesia. Masih ada sejumlah pondok pesantren sepuh lain yang ada di Indonesia.
Kampus UI (Universitiet Van Indonesia) saja baru dibangun pada tahun 1849, Dokter-Djawa School itu berubah nama menjadi School tot Opleiding van Indische Artsen atau STOVIA pada tahun 1898. Kampus UI memang dibangun oleh Pemerintah Hindia Belanda karena politik etis, demikian juga
Insitut Teknologi Bandung yang didirikan pada 3 juli 1920, dibangun oleh pemerintah Belanda dengan nama de Technische Hogeschool te Bandung, juga dengan tujuan Politik Etis.
Tapi Pondok Pesantran Panji adalah pondok Pribumi yng seharusnya mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, lebih dari dua institusi yang dulu dibangun dengan niatan Politik saja. (Vijay)
Bersambung...