Menikmati Keramahan Kota "Lumpur Lapindo" Sidoarjo (1)
Laporan khusus oleh :
G. Ikka Wijaya, dan team data support
Informatika News Line
G. Ikka Wijaya, dan team data support
Informatika News Line
Sidoarjo, Informatika News Line (10/03/2023)
Tidak banyak orang berjalan kaki di kota kabupaten Sidoarjo. Saat Informatika News line mencoba berjalan kaki untuk menikmati suasana kota Kabupaten terkaya di Jawa Timur ini, rasanya menjadi aneh.
" Om ayo Om ikut ke depan silahkan ..."
Seorang anak muda memakai motor mendekati Informatika News Line, sambil menawarkan boncengan belakang motornya. Agak sedikit terkejut ,karena mengira ojeg, yang sedang menawarkan jasanya. Akan tetapi setelah anak muda itu berlalu, Informatika News line baru tersadar bahwa itu adalah tawaran boncengan motor gratis.
Luar biasa ... ada anak muda yang menawarkan bocengan motor gratis
Tak lama setelah itu, anak muda itu menemukan seorang bapak yang sedang berjalan kaki juga, jauh di depan informatika News Line, dan bapak itu dengan suka cita menerima tawaran ramah itu. Tidak hanya sekali tawaran bonceng gratis itu didapatkan Informatika
News Line saat berjalan kaki. Seorang Bapak Sepuh berkopyah menyapa dengan halus, saat Informatika News Line menyusuri tepian Sungai Buduran, Sungai Siwalan Panji.
News Line saat berjalan kaki. Seorang Bapak Sepuh berkopyah menyapa dengan halus, saat Informatika News Line menyusuri tepian Sungai Buduran, Sungai Siwalan Panji.
" Ayook Mas... Tak terno sampek ngarep ...."
Melongo melihat keramahan bapak berkopiah. Itu tawaran yang penuh keramahan kedua yang didapatkan oleh Informatika Newsline. Apakah teman-teman ojeg pengkolan dan ojeg on line tidak terganggu oleh sikap ramah penduduk kota kabupaten ini ?
Dan tawaran membonceng itu terus datang lagi dari orang lain di tempat yang lain di Sidoarjo. Jadi ingat masa-masa kuliah dahulu, saat menawari sesama mahasiswa sekampus yang berjalan kaki ke kampus. Tapi di Kota ini orang jauh lebih ramah. Tanpa melihat
siapa ? Tawaran membonceng itu datang dan datang lagi.
Dan tawaran membonceng itu terus datang lagi dari orang lain di tempat yang lain di Sidoarjo. Jadi ingat masa-masa kuliah dahulu, saat menawari sesama mahasiswa sekampus yang berjalan kaki ke kampus. Tapi di Kota ini orang jauh lebih ramah. Tanpa melihat
siapa ? Tawaran membonceng itu datang dan datang lagi.
***
Sidoarjo terletak di sebelah Selatan Surabaya, Ibu Kota Provinsi Jawa Timur. Bandara, Lokasi Industri, dan banyak fasilitas vital penunjang Metropolis Surabaya lainnya disiapkan Sidoarjo.
Dalam konsep Mega city Gerbangketosusila, Sidoarjo masuk salah satu dari kota pembentuk kawasan embrio Mega City Gresik, Bangkalan, Mojokerto, Surabaya,
Sidoarjo, dan Lamongan. Menurut catatan BPS jumlah penduduk Kota Kabupaten Sidoarjo ada di kisaran 2 juta orang lebih. Akan tetapi perhitungan BPS ini tidak memperhitungkan
jumlah penduduk pekerja yang keluar masuk Sidoarjo pada siang hari pada jam-jam kerja.
Perhitungan yang dilakukan oleh Informatika News Line sendiri menunjukkan bahwa jumlah 2 juta penduduk itu adalah penduduk yang berdomisili di Sidoarjo. Jumlah ini tentu saja berbeda dengan jumlah penduduk yang hanya muncul pada jam-jam kerja di lokasi-lokasi kawasan Industri yang ada di sepanjang Kota Kabupaten Sidoarjo.
Dalam perhitungan yang dilakukan oleh analis Data Informatika News line jumlah penduduk Sidoarjo ada di kisaran 5 jutaan orang pada siang hari pada saat jam kerja dan di kisaran 3,5 juta pada malam hari. Ada angka fluktuatif di kisaran 1,5 juta orang yang merupakan penduduk yang tidak berdomisili tetap di Sidoarjo. Jumlah penduduk ini merupakan jumlah penduduk luberan dari sekitar Sidoarjo. Pasuruan, Malang, Mojokerto, Gresik, Lamongan, Bangkalan (Madura) bahkan dari Surabaya.
Sidoarjo menjadi lokasi penyangga Kota Surabaya, sehingga menjadi sasaran geser domisili penduduk Ibu Kota Provinsi Jawa Timur tersebut. BPS Sidoarjo juga mencatat ada hampir 1000 industri menengah dan besar yang ada di seluruh Sidoarjo. Total jumlah pekerja industri yang tercatat adalah sebesar 165 ribu orang (data sebelum Pandemik).
Atau jika dihitung kasar bersama dengan keluarganya akan terdapat kurang lebih 800 ribuan pekerja industri beserta keluarga nya. Sementara sektor informal (Jika 1 industri dilayani oleh 50 sektor Informal) yang terlibat dalam melayani industri secara langsung bisa disimulasikan sebesar 50 ribu orang pekerja sektor informal yang melayani industri di Sidoarjo atau kurang lebih 200 ribuan pekerja sektor industri dan keluarganya yang melayani industri utama Sidoarjo. Artinya ada sekitar 1 jutaan orang yang terlibat dalam menggerakkan sektor industri di Sidoarjo. (Data akan berlipat menjadi 1,5 jutaan orang, jika variabel sektor informal diatur dengan rasio 1 industri dilayani 50 kali 3 atau
150 UKM/Industri formal)
150 UKM/Industri formal)
Jika data 2 juta penduduk yang disajikan oleh BPS Sidoarjo tepat, maka artinya 50 % atau bahkan lebih aktivitas ekonomi di Sidoarjo dikendalikan oleh Industri. Data ini tentu saja disajikan dengan sangat sembrono, karena tidak menghitung variabel lokasi yang merupakan area border perbatasan antar kota dan antar kabupaten. Kelemahan data BPS selalu hanya memperhitungkan data-data berdasarkan desk analisis, analisis meja kerja yang terbatas dan terlal sederhana. Dalam kondisi nyata banyak lokasi industri yang berada di perbatasan dengan Surabaya, Pasuruan, Mojokerto yang gagal dianalisis, dan bahkan banyak faktor kompleks lain yang gagal dianalisis oleh data yang dibuat oleh perhitungan BPS.
Ketidakakuratan data yang disajikan oleh BPS ini berpengaruh fatal pada fasilitas yang harus disiapkan oleh pemerintah dalam melayani kebutuhan masyarakat misalnya. Dan jika data-data yang disajikan tidak akurat maka bisa berbuat apa dengan program peningkatan kesejahteraan masyarakat, atau program penguatan ekonomi masyarakat misalnya. Gagalnya prediksi data penduduk yang parah oleh BPS ini adalah pertaruhan besar pada peningkatan kesejahteraan masyarakat dan berbagai layanan vital masyarakat lain.
Membicarakan Sidoarjo, tidak akan terlupa dengan peristiwa bencana Lumpur Lapindo yang terjadi di sebelah Selatan Kota Kabupaten Sidoarjo akhir Mei 2006 yang lalu. Bencana yang menenggelamkan hampir 1200 hektar lahan dan lebih dari 10 ribu bangunan penduduk itu membuat puluhan ribu penduduk mengungsi dan akhirnya pindah meninggalkan secara permanen tempat tinggal mereka yang tenggelam karena lumpur. Pemerintah sendiri telah menghabiskan dana APBN lebih dari 11 trilyun selama belasan tahun untuk mengatasi berbagai dampak Lumpur Sidoarjo ini.
Tidak banyak yang mengenal Lumpur Sidoarjo dan media dan juga pemerintah lebih suka menyebut Lumpur Lapindo untuk dengan tujuan utama, tentunya untuk menjauhkan citra kota Sidoarjo sebagai kota Industri dari pencitraan negatif akibat bencana besar tersebut. Upaya memperbaiki citra Lumpur Lapindo terus dilakukan dengan berbagai cara oleh pemerintah.
Bahkan terakhir dengan melibatkan Badan Geologi yang mengumumkan adanya bahan-bahan mineral tanah langka yang ditemukan di lokasi Lumpur Sidoarjo, rare earth mineral. Begitu berartinya sebuah citra baik bagi pemerintah, bahkan badan dengan basis penelitian mineral pun pada akhirnya dilibatkan untuk membantu memperbaiki citra baik pemeritah dengan membuat sebuah kejadian bencana dibuat "seolah-olah" menjadi sebuah berkah.
Bencana itu telah berhasil memunculkan sebuah "berkah" dengan ditemukannya rare earth mineral. Begitu suara sumbang yang diteriakkan oleh mereka yang anti terhadap sikap gagap pemerintah yang gagal memahami sebuah bencana besar yang menghebohkan dunia. Terakhir Sidoarjo juga kembali terkenal baik, di seluruh dunia, dengan gelar 100 Tahun Nahdhatul Ulama yang berhasil mengumpulkan lebih dari 1 juta nahdiyin dari seluruh dunia. Sebuah gelar yang bahkan mungkin melebihi gerakan 212 beberapa tahun yang lalu yang menuntut pelecehan terhadap nilai-nilai Islam.
Akan tetapi selalu seperti itu ulah sebagian mereka yang tidak pernah puas dengan pola pembuatan citra positif yang dilakukan oleh pemerintah. Bagi mereka yang beroposisi dengan pemerintah, semua yang positif dilakukan dan terjadi hanyalah sebuah upaya untuk memperbaiki citra pemerintah saja. Bukti lanjutan juga tidak pernah ada.
(bersambung....)
Lihat Juga :
Indeks Fokus Jawa Timur (link baru)
Lihat juga RUBRIK POLKRIM
Lihat Juga Polkrim News Up Date
Lihat Rubrik Polkrim Informatika NewsLine




