Mengunjungi Lokasi Lumpur Sidoarjo (2)
G. Ikka Wijaya, dan team data support
Informatika News Line
Hujan Angin Turun Dengan Deras Di Tengah Kota Sidoarjo, Beberapa atap rumah ada yang Terbawa Angin Puting Beliung Kecil, Akan tetapi ada yang sedikit mengganggu, bau khas di tengah tengah air hujan dan angin Yang Menggila... Bau apa ini ya ..tanya saya kepada mereka yang sudah lama tinggal di tengah kota Kabupaten Sidoarjo.... Bau lumpur Mas....Bau lumpur apa ?....Lumpur Lapindo Pak.... saya terhenyak dan masih belum faham apa yang dikatakan para penduduk dalam kota Sidoarjo ....
***
Minggu kemarin, awal bulan Puasa, saya bersama istri menghentikan mobil di pinggir tanggul besar di sebelah selatan daerah Tanggulangin, Sidoarjo. Tanggul angin adalah komplek para pengrajin tas yang terkenal di Sidoarjo. Tapi krisis moneter belasan tahun yang lalu memukul pusat produksi tas Jawa Timur itu. Sama seperti kompleks kerajinan UKM lain di Indonesia yang terpukul hebat akibat krisis moneter belasan tahun lalu.
***
Tanggul besar di Timur jalan itu, berada tepat di samping rel kereta api yang menghubungkan Surabaya, Malang dan kawasan Timur Provinsi Jawa Timur lainnya, Probolinggo, Jember, Banyuwangi.
Tanggul tinggi itu, terlihat sepi dan tak ada orang, Informatika News line beserta istri naik ke tanggul tanah dengan tinggi kurang lebih 20 meteran. Hanya ada sepasang pria wanita yang sedang duduk bersantai di rumah rumahan kayu di pinggir jalan dan motornya, mungkin suami istri atau pasangan yang sedang berpacaran. Mereka berdua tampak mesra, di tengah cuaca panas Ramadhan di Sidoarjo ini.
Penasaran ingin melihat kondisi Lumpur yang belasan tahun yang lalu membuat geger Indonesia. Bencana Lumpur itu bahkan menarik perhatian dunia. Beberapa ahli bahkan datang dan mencoba memberikan solusi, tapi lumpur tidak mampu dihentikan sama sekali.
Penasaran ingin melihat, bagaimana kondisi Lokasi Lumpur, yang bahkan sampai pertengahan tahun 2023 ini masih tercium bau menyengat nya saat hujan angin di tengah kota Sidoarjo beberapa hari yang lalu.
***
Ternyata tanggul yang dibuat dengan tambahan batu batu kali yang dianyam dengan kawat besi itu bertingkat 2. Tingkat pertama ke tingkat kedua dibatasi oleh jalan beraspal tipis.
Sebuah jalan terbuat dari kayu dibuat untuk membantu pengunjung naik. Ini pasti jalan kayu ilegal, karena setelah tingkat pertama berhasil dilewati terlihat ada tulisan peringatan yang tak sempat terbaca.
Begitu sampai di puncak tanggul, terlihat tulisan peringatan itu. Daerah Berbahaya..Tiba tiba datang sepasang pengendara motor yang bergegas mendekati dari arah utara.
Sopan laki laki yang datang itu, menawarkan ojeg, demikian juga wanita berjilbab yang mengikuti nya.
" Barangkali mau memakai ojeg .." kata yang laki laki berkulit hitam, mencoba sopan... Tapi meski mencoba sopan, masih tetap terlihat upaya memaksa yang dilakukan. Meski berusaha menutupi itikad paksa dengan etika sopan, yang dilakukan dua orang tersebut, akan tetapi masih terasa upaya memaksa yang dilakukan.
Mereka menawarkan ojeg yang akan membawa berkeliling tanggul dan juga ke pusat semburan lumpur yang terlihat dari kejauhan. Bukan menawarkan akan tetapi lebih tepat memaksa dengan berpura pura sopan.
" Itu yang ada asap mengepul itu adalah pusat semburan lumpur...asap mengepul..
lumpur yang dipenuhi asap panas...." kata Johan (bukan nama sebenarnya), si tukang ojeg laki laki.
Di belakang tanggul tinggi itu terlihat bentang lumpur lapindo atau lumpur Sidoarjo. Puluhan hektar luasnya. Lebih dari 6-7 km persegi. Genangan lumpur tampak meluas sampai ke cakrawala. Benar benar luas, sepanjang mata memandang hanya lumpur yang telah mengering.
Bentangan lumpur yang luas itu mengingatkan informatika News line dengan Padang Garam yang membentang luas di luar kota Teheran, Iran atau padang pasir di Saudi Arabia. Tapi lumpur Sidoarjo tidak seluas itu.
Tapi luasnya genangan lumpur itu tidak terlihat sama sekali dari jalan raya Malang Surabaya di bawah. Tak ada tulisan pelengkap marka jalan, yang memberi tahu pengendara kendaraan, adanya genangan lumpur luas di balik tanggul tinggi itu.
***
Yang mengejutkan, jarak luapan lumpur itu ternyata tak lebih hanya 6-7 km dari Pringgitan Rumah Dinas Bupati Kabupaten Sidoarjo juga kantor Kodim Sidoarjo lama di timur alun alun kota. Dan mungkin hanya dua atau tiga km dari Tanggulangin.
Kalau tanggul ini tidak dibuat oleh badan pengelola lumpur pemerintah pusat, luberan lumpur mungkin akan meluber lebih luas lagi. Jarak 7 km Pusat Kota, termasuk jarak yang tidak jauh. Jika tak ada tanggul tanah dan batu setinggi ini, maka pusat kota Sidoarjo niscaya akan terancam.
Akan tetapi bukan tidak mungkin ancaman lumpur ini akan berlanjut. Karena asap lumpur panas dari dalam perut bumi masih belum berhenti. Asap nya yang masih mengepul seperti kepundan Gunung Api itu terlihat dari jarak 5 km dari tangggul sebelah barat.
***
Tanggul tanah yang dibuat oleh Badan Pengelola Lumpur Sidoarjo hanyalah solusi sementara yang masih mengundang debat panjang. Efektivitas dan kekuatan tanggul tanah itu masih terus diperdebatkan oleh para ahli.
Disain tanggul tanah bercampur batu adalah disain tanggul untuk menahan air. Tanggul tanah seperti ini memang efektif mengendalikan air. Tanggul itu kurang lebih memiliki disain yang sama dengan tanggul yang bisa ditemui di sepanjang bantaran Sungai Bengawan Solo, misalnya.
Design tanggul tanah bengawan Solo di pesisir Utara Pulau Jawa, mirip dengan tanggul Lumpur Sidoarjo. Tanggul tanah itu memang efektif, karena mampu mengendalikan aliran banjir air sungai Bengawan Solo.
Akan tetapi berbeda dengan lumpur Sidoarjo. Berat jenis lumpur jauh lebih tinggi dari air sungai biasa. Efektifivitas Tanggul tanah seperti ini pasti akan rendah untuk jangka waktu yang panjang. Dari tahun 2006 saat pertama kali serangan lumpur Lapindo muncul sampai tulisan ini dibuat Pemerintah pusat telah menggelontorkan dana dari APBN lebih dari 15 Trilyun Rupiah. Sementara sumber lain dari Informatika News Line mencatat bahwa Lumpur Lapindo telah menelan kerugian lebih dari 45 Trilyun. Artinya Lumpur Lapindo telah menyedot biaya lebih dari 60 Trilyun selama hampir 17 tahun terakhir.
Tanggul tanah Lumpur Lapindo ini masih memiliki potensi untuk jebol. Berat jenis jutaan meter kubik lumpur tidak akan mampu ditahan hanya oleh Tanggul tanah dengan ketebalan terbatas seperti ini.
Bagaimana tanggul dari tanah biasa bisa menahan potensi desakan jutaan meter kubik lumpur dengan material lumpur dengan berat jenis yang bisa jadi lebih tinggi dari berat jenis tanggul tanah penahan lumpur yang dibuat.
Potensi jebol tanggul ini semakin jelas terlihat di depan mata, setelah Badan Geologi pada awal tahun 2022 yang lalu mengumumkan adanya kandungan rare earth element di dalam lumpur lapindo. Berat jenis rare earth element yang katanya dikandung oleh lumpur Sidoarjo ini sebenarnya telah menjawab betapa besarnya potensi jebolnya tanggul lumpur Sidoarjo ini.
Berat jenis unsur logam berat yang ada di antara rare earth element tentunya jauh lebih tinggi dari tanah bercampur batu yang menjadi material tanggul lumpur Sidoarjo. Belum lagi ditambah dengan volume jutaan meter kubik dari lumpur yang memiliki kekuatan desakan yang luar biasa. Kekuatan desakan lumpur ini seperti desakan kekuatan raksasa yang tidak akan mampu dibendung selamanya oleh tanggul tanah.
Contoh kekuatan dahsyat desakan lumpur ini adalah seperti contoh desakan material lahar dingin dari Gunung Semeru dan Gunung Kelud. Dengan sudut kemiringan tertentu, lumpur lahar dingin mampu menghancurkan apa saja yang menghalangi aliran lumpur dan material vulkanik.
Skenario paling buruk yang bisa terjadi adalah Tanggul tanah ini akan didorong oleh lumpur sampai jebol. Dan skenario ini bukan hanya dalam hipotesis sederhana semata, akan tetapi di beberapa sudut tanggul telah terjadi insiden intrusi atau bahkan penjebolan tanggul dalam skala yang lebih kecil.
Sebuah insiden pemicu kecil yang terjadi pada tanggul tanah ini sudah berpotensi besar membuat lumpur menembus dan bahkan menjebol tanggul.
Jika ini terjadi, maka kompleks Pusat Pemerintahan Kabupaten Sidoarjo akan terancam tenggelam, sama seperti 6-7 km persegi lokasi yang dahulunya dipenuhi rumah penduduk dan bahkan beberapa pabrik besar.
***
Ada satu pertanyaan Informatika News Line yang tak juga terjawab saat mengelilingi kota Sidoarjo.
Mengapa kota dengan rata-rata tingkat kekayaan tertinggi se Jawa Timur ini terlihat begitu sepi.
Deretan rumah di Pusat Kota Sidoarjo seperti sengaja ditinggalkan oleh penduduk nya begitu saja. Kawasan kelas satu di sekitar Pringgitan Kabupaten dipenuhi oleh wajah rumah rumah yang dijual oleh para pemiliknya. Tidak banyak yang antusias membeli deretan rumah kosong di kawasan kelas satu Sidoarjo tersebut.
Jarak pusat kota dengan luberan Lumpur terlalu dekat. Jarak 6-7 km adalah jarak yang relatif sangat dekat.
Bersambung
Lihat Juga :
Indeks Fokus Jawa Timur (link baru)
Lihat juga RUBRIK POLKRIM
Lihat Juga Polkrim News Up Date
Lihat Rubrik Polkrim Informatika NewsLine



