Majapahit Empire 13 The Series (5)

 Majapahit Empire 13 The Series

Gedhebog Pisang Bergelimpangan

(5) 




Teriakan prajurit istana Barat Majapahit menggema di angkasa malam. Padang Bubat yang hening berubah menjadi hingar bingar. Enam batalyon tentara terlatih terkuat di seluruh negeri dwi pantara Nuswantara menerjang perkemahan Sunda yang terlihat gelap. Samar samar terlihat bayang bayang hitam kemah kemah yang sepi dan temaram, diselingi gerakan satu dua prajurit dan beberapa lampu titir di sekitar perkemahan.

Suara anjing liar di angkasa kota raja, menambah ramai malam yang mengerikan itu.


****


Ra Prana tidak perduli berapa ratus prajurit yang akan meregang nyawa malam itu. Syahwat nya memilih meniduri si wanita cantik di pinggiran kota raja Majapahit.

Sepasang mata yang selalu melihat gerak gerik Ra Prana, terlihat sangat geram, bergerak perlahan mencabut kerisnya dan menyerbu membinasakan Ra Prana. Akan tetapi suara peluit aneh dari tengah kota membuat telik sandhi itu terkejut dan berhenti bergerak.

" Apakah tentara Istana Barat telah bergerak menuju Bubat, ? Pasukan siapa ini yang bergerak ? "

Telik Sandhi rahasia itu memasukkan kembali keris ke dalam sarungnya, kemudian mundur pelan pelan ke arah kota raja. Seekor kuda yang ditambatkan di ujung jalan telah menunggu.

Dengan sigap Telik Sandhi rahasia itu meloncat ke arah kuda dan kemudian memacu kuda nya ke arah selatan kota raja.

" Celaka ....Apakah Gusti Patih Amangku bumi telah menerima kabar gerakan pasukan ini...celaka..."

Sepi nya jalan jalan di pinggiran kota raja Majapahit dipecahkan oleh suara kuda yang dipacu setengah mati oleh Telik Sandi rahasia.


****


Di Lapangan Bubat, hingar bingar bercampur teriakan sadis para prajurit membahana ke seluruh penjuru.

Tombak para tentara infantri Majapahit mengobrak abrik perkemahan Sunda di Bubat.

" Binasa lah kalian semua..."

Pasukan dengan pedang dan perisai, maju menerjang deretan tentara Sunda yang terlihat di samping dan belakang perkemahan.

Ayunan pedang para Prajurit Majapahit menebas tubuh tubuh prajurit Sunda yang diam tidak bergerak.

" Bakar perkemahan ...serang itu kemah di tengah lapangan.... bunuh saja semua nya tanpa ampun...."

"Cari Sri Baduga... Tangkap Pitaloka..Hidup atau mati... Jangan biarkan lolos..."

Kecepatan gerakan yang menakjubkan. Pasukan Majapahit menguasai seluruh perkemahan hanya dalam beberapa menit saja.

Suara barang berat berjatuhan di Bubat terdengar di sela sela api yang membakar seluruh perkemahan...Api membara membesar menerangi seluruh lapangan Bubat.

BUG ....BUG.....GEDEBUG.....

BUG ....BUG.....GEDEBUG....

BUG ....BUG.....GEDEBUG....

Ki Kuda Mertani dengan wajah terkejut memacu kudanya ke tengah tengah perkemahan. Setelah membunuh 3 prajurit Majapahit utusan dari Sang Maharaja dan Patih Amangkubhumi, darah nya yang menggelegak haus, ingin membantai seluruh Pasukan Sunda.

" Biarkan saya yang memenggal dan membunuh Sri Baduga Maharaja... Tangkap Dewi Pitaloka...dan jadikan dia Pampasan Perang Istana Barat..."

" Tuanku Kuda Mertani... ini adalah perkemahan yang kosong.."

"Tangkap mereka semua nya...'

" Tuanku ......perkemahan telah kosong.."

"Hancur kan seluruh pasukan Sunda... Jangan biarkan satu pun lolos..."

"Tuanku Kuda Bertani..!!!!!!"

" Tutup akses keluar lapangan Bubat...  Gelar  Strategi Formasi Sapit Urang .."


" Ki Kuda Mertani...ini perkemahan kosong... Hanya ada gedebog pisang...."

" Sembrono... mana ada perkemahan kosong.. Telik sandi....mana komandan telik sandhi.....dimana Kebo Anuragan..Kebo....di mana kau..." Kuda Mertani berteriak teriak, terkejut melihat seluruh area perkemahan Pasukan Sunda yang berantakan.


Perkemahan telah terbakar api yang menyala nyala. Akan tetapi sungguh aneh...tak ada satu pun tubuh Prajurit Sunda atau siapapun di perkemahan itu.

" Kurang ajar....Pasukan Kavaleri dan Infantri khusus ...dibohongi..Sialan...di mana Kebo Anuragan....Kebo...Kebo...di mana kamu..."

Para prajurit Majapahit tidak kalah terkejut nya. Pedang dan tombak yang mereka sabetkan sekuat tenaga memang ditujukan untuk memenggal leher seluruh Pasukan Sunda. Akan tetapi mereka terpana, tak percaya melihat semua yang di depan mata.


" Hah apa ini...mana tadi prajurit prajurit Sunda.."

" Apa malam ini kita memang sedang berlatih perang perang an "

" Tidak mungkin Ki Kuda Mertani membuat lelucon seperti ini..."

" Tanganku sudah gatal memenggal orang orang Sunda..."

" Kalian semua ini memang bodoh... Ini memang latihan perang...Sudah sejak awal aku tahu ini latihan perang..."

" Mengasyikkan memang ..tapi kalau gedebog pisang yang kita tebas...kan gak ada suara teriakan binasa nya...."

" Ah suka nya memang bikin lelucon..."

" Tunggu bukanlah kamu tadi yang melihat gerakan pasukan Sunda.. Kamu ikut berteriak kan ...."

" Mana ada itu...hanya gedebog pisang begini kan ?"

"Sumpah aku melihat bayangan pasukan Sunda...."

" Sumpah mu Sampah..."

" Wah kena prank ...kita ...kenapa ya Panglima Kuda Mertani..suka sekali bermain prank....kayak gini"

" Diamxxxt " (umpatan, ucapan tidak senonoh)

" Janxxxxk" (umpatan, ucapan tidak senonoh)

"Anxxxng" (umpatan, ucapan tidak senonoh)


Gedebog gedebog pisang bergelimpangan di seluruh area perkemahan. Tak ada satu tubuh Prajurit pun yang ditemukan. Bahkan tak ada setetes darah pasukan Sunda yang tertumpah di Lapangan Bubat.

"Hayam Wuruk itu adalah Baginda Raja Bhre Jiwana...Tuanku Sri Rajasanegara.... adalah kekasih Dyah Pitaloka...."

"Apakah benar begitu..."

"Bodoh kalian semua...goblog....janxxxxk (umpatan, ucapan tidak senonoh) ....tidak mungkin Sri Rajasanagara mencelakakan kekasih hatinya.."

" Gedebog pisang..hahaha...malam ini kita membantai gedebog pisang..."

"Hayam Wuruk itu bahasa Sunda yang artinya tidak akan pernah mundur.."

" Apa itu maksudnya..."

" Ah kau kayak tidak faham saja... Hayam Wuruk dalam Bahasa Sunda maksudnya Sri Prabu memang akan menjadikan Dyah Pitaloka sebagai garwa Prameswari...dan beliau tidak akan pernah mundur....."

" Luar biasa Gusti Prabu.... Benar benar laki laki luar biasa...laki laki sejati..."

"Ck ck ck ck...aku kagum pada Baginda Raja..."

" Prajurit ....kalian semua diam..." Ki Kuda Mertani terlihat sangat murka, amarah nya mendidih sampai ke atas kepalanya.

" Di mana Kebo Anuragan.."

" Tuan Panglima Kuda Mertani kami tidak menemukan tuan Kebo Anuragan... "

"Kenapa hanya ada gedebog pisang di Lapangan Bubat.... kemana rombongan Sunda...cari di sekitar Bubat segera ...sekarang.."


Ki Kuda Mertani tak percaya pada matanya. Gedebog pisang di seluruh lapangan Bubat.

Bagaimana bisa Pasukan Khusus Majapahit penjaga Brhe Wengker Wijayarajasa yang terkenal, paman Maharaja Majapahit tertipu seperti ini ?

"Saya mendapatkan info terakhir sampai sore tadi prajurit dan rombongan pengantin Sunda masih ada di sini..." bisik salah satu Prajurit Majapahit.

" Banyak para pedagang di depan lapangan Bubat ...tapi sejak sore tadi mereka sudah tidak ada lagi..."

Beberapa puluh anggota pasukan kavaleri memacu kudanya mengelilingi dan memeriksa seluruh wilayah Bubat. Tapi beberapa menit kemudian mereka kembali dengan tangan hampa.

"Mohon maaf Gusti Panglima Kuda Mertani kami sudah berkeliling Bubat. Dan kami tidak menemukan jejak jejak Pasukan Sunda..."

" Saya juga telah memeriksa sampai lokasi perkampungan penduduk terdekat.... akan Tetapi saya tidak menemukan yang kita cari.."

Semua prajurit kavaleri yang dikirimkan melaporkan hal yang sama. Mereka tidak menemukan jejak Pasukan Sunda sama sekali.

Kuda Mertani turun dari kudanya. Wajahnya menghitam dan terlihat sangat marah.

" Belum pernah Pasukan Majapahit dipermalukan seperti ini.."

Dengan nafas yang masih menggebu Kuda Mertani mencabut keris nya. Lalu melompat menghantam satu gedebog pisang yang masih berdiri.

Tangan nya secepat kilat menghujamkan kerisnya dengan marah dan bersungut sungut.

"Sialan kalian pasukan Sunda....kurang ajar kalian....Bangsat Kalian....."

Gedebog Pisang itu jatuh terbanting di rerumputan Bubat. Mentertawakan Kuda Mertani yang terlihat sangat murka.

Beberapa prajurit Majapahit tampak tertipu malu dan menahan tawa... Tak tahan melihat Panglima Perang Majapahit yang seram itu salah tingkah... Murka pada sebuah gedebog pisang....

Malam yang mengerikan... Tiga utusan utama petinggi Majapahit gugur bersimbah darah... Dan puluhan gedebog pisang tercabik cabik pedang dan tombak pasukan Majapahit...

Kuda Mertani terlihat seperti anak kecil ...melempar lemparkan potongan potongan gedebog pisang....ke segala penjuru Lapangan Bubat..



Bersambung........


Majapahit Empire 13 The Series





Baca Juga : 

Dan Kubalai Khan Pun Tewas Di Tangan Laskar Tarik Majapahit 

Lihat :  Sejarah China Dari Masa Ke Masa






























Lebih baru Lebih lama