Top News

Majapahit Empire 13 Episode 4

Surya Majapahit

(4) 

Sketsa Kotaraja Majapahit Berdasarkan Negarakertagama Oleh Mc ClaintPont (1920)


1258 Saka atau 1334 Masehi

Bailairung Kota Raja Majapahit

Hari itu Balairung Kota Raja Majapahit didatangi oleh semua pejabat tinggi Kerajaan. Sebuah acara penting sedang akan dilangsungkan di Balairung.

Setelah wafatnya Jayanegara, dan berlalunya hari duka cita negara, baru kali ini Balairung kembali dipadati oleh seluruh pejabat Istana.

Ribuan pasukan Majapahit juga hadir di luar Balairung. Bersenjata lengkap, gelar sepapan seluruh pasukan.

Tinggi dan tampan, akan Tetapi terlihat sangat berwaspada. Datang ke tengah tengah Balairung Raja, duduk bersembah di hadapan Ratu Tribuwana Tungga Dewi. Ratu Raja Majapahit ketiga menyerahkan sebuah tongkat emas kepada ksatria muda itu. Tubuhnya yang semampai tidak seperti tubuh prajurit lebih seperti pujangga. 




Akan tetapi ketika kemudian dia berdiri  dengan hormat di hadapan Ratu Tribhuwanatunggadewi, semua mata bangsawan dan pejabat Keraton Majapahit terkejut.

Kharisma dan semangat menyala nyala di dalam dada, seperti api yang membakar seluruh bangsawan dan pejabat di Balairung Kerajaan Majapahit.

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada

 "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah Ring Gurun (Lombok), Ring Seram, Tanjung Pura (Kalimantan), Ring Haru (Sumatera Utara), Ring Pahang (Malaysia), Dompo, Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya), dan Tumasik (Singapura) samana isun amukti palapa".”

Suara menggelegar, mengejutkan seluruh tamu di Balairung.

Ratu Tribhuwanatunggadewi tersenyum puas memandang pemuda yang penuh semangat di hadapannya.

Ratu Tribhuwanatunggadewi melihat ketulusan dan semangat besar di dada Gajah Mada. 

Tidak lama setelah itu Balairung pun menjadi geger. 

" Anak muda sembrono....bicara apa saja anak itu..." 

" Seberapa kuat anak dengan tubuh tanpa otot sama sekali hahahaha...."

" Mengangkat pedang dan tombak saja tidak mampu..."

Gajah Mada menengok asal suara suara yang menghina nya. Sudah biasa seorang bekel selalu diremehkan. Tidak banyak yang tahu apa dan siapa Gajah Mada. 

Tak pernah mengenal ketrampilan berkelahi Gajah Mada. Gajah Mada memang pantas dianggap anak kemarin sore. 

"Tiba tiba saja anak kemarin sore ini muncul entah dari mana ...dan tiba tiba anak ingusan ini menjadi Patih Amangkubumi..."

" Ketrampilan perang nya saja tidak pernah terlihat bagus, apalagi disejajarkan dengan Gusti Nambi...."

Gajah Mada bersembah kepada Ratu Tribhuwanatunggadewi, dan sang Ratu tersenyum memberikan ijin pada Gajah Mada.

" Para Abdi Praja, pejabat Kota Raja Majapahit, Ratu Tribhuwanatunggadewi telah memberikan tongkat Mahapatih ini kepada saya...maka ijinkahlah saya mulai hari ini akan memimpin seluruh pejabat perang, prajurit, dan tata praja di bawah kepemimpinan dan komando saya..."

" Tuanku Prabu Kertarajasa Jayawardhana telah membangun dan mendirikan Majapahit ini untuk kesejahteraan dan kejayaan Nusantara."

Saloka Kebangkitan Nuswantara dari Sri Aji Prabu Jayabhaya yang suci telah menjadi pemandu kita semua. Negeri negeri Nuswantara itu adalah tugas bagi Majapahit untuk menyatukan nya.

Gajah Mada mencabut keris dari pinggang nya...Hyang Jagad Nata, Dewa Bathara telah memberikan tugas untuk menancapkan pusaka di tangan saya ini di seluruh negeri Nusantara.

" Omong kosong apa lagi Gajah... jangan bawa bawa lontar tak berguna Sri Aji Jayabaya di sini...memainkan tombak pedang dan senjata saja kau tak mampu.." Ra Kembar memotong Gajah Mada begitu saja sambil tertawa mengejek

Empat lima pejabat tinggi lainnya tertawa mengikuti Ra Kembar.

"  Ra Kembar, Ra Banyak, Jabung Tarewes Lembu Pateng, ....kenapa kalian tertawa....kalian menghina Raja Majapahit...Keputusan Raja Majapahit adalah yang terbaik...Apa kalian akan pemberontak di Balairung ini..." suara Gajah Mada menggelegar dan berwibawa.

" Anak kecil...mari kutunjukkan sedikit pejaran bela diri para Bhayangkara Majapahit.... " kata Ra Kembar sambil mencabut keris dan meloncat keluar Balairung Raja.

Gajah Mada menghaturkan sembah pada Ratu Tribhuwana Tungga Dewi. Lalu sambil tetap bersikap bersimbah menghadap Sri Ratu, Gajah Mada melentingkan tubuhnya ke belakang sangat cepat.

Gerakan secepat kilat Gajah Mada itu membawa desiran angin yang sangat kuat. Beberapa pejabat istana di ruangan Balairung terjengkal tersambar desiran angin itu. 

Ra Banyak, Jabung Tarewes Lembu Pateng terlempar tubuhnya membentur tiang tiang penyangga Balairung. Mereka tidak mengerti mengapa desiran angin gerakan Gajah Mada itu sedemikian kuat.

Dua kilatan cahaya di luar Balairung dan teriakan memilukan Ra Kembar yang bersimbah darah terdengar di seluruh Balairung. 

Tak ada mata yang mampu melihat apa yang terjadi, akan tetapi mereka semua pejabat istana melihat dengan penuh kengerian, tubuh Ra Kembar yang pecah menjadi beberapa potongan, seperti tertabrak kayu raksasa atau terinjak kaki Gajah Raksasa.

Belum selesai keterkejutan seluruh pejabat Istana, suara Gajah Mada yang berwibawa kembali terdengar di depan diampar tahta Ratu Tribhuwana Tungga Dewi.

Kecepatan gerakan Gajah Mada keluar dari Balairung, menghajar Ra Kembar, dan kembali lagi ke tengah Balairung yang bagaikan kilat, membuat semua yang di dalam Balairung terkejut bukan kepalang.

Anak kemarin sore yang diremehkan oleh Ra Kembar itu membinasakan musuhnya hanya dalam kedipan mata. Tak tampak tanda tanda perkelahian di tubuh Gajah Mada. Tak tampak juga senjata keris nya bersimbah darah.

Akan tetapi tubuh hancur Ra Kembar yang berkelejotan dan bersimbah darah terlihat jelas di luar Balairung.

Ra Banyak, Jabung Tarewes Lembu Pateng terkejut bukan kepalang. Kepala mereka yang membentur kayu penyangga Balairung belumlah hilang rasa sakitnya. Akan tetapi sekarang mereka melihat anak kemarin sore itu menghantam Ra Kembar, senior beladiri Bhayangkara dengan begitu mudahnya.

Mereka merasa ngeri dan jengah dengan Gajah Mada...

" Ibliskah orang ini ...."

Gajah Mada melirik Ra Banyak yang segera tertunduk dan terdiam seribu bahasa.

Sabdo Pandhito Ratu....

Apa yang menjadi keputusan Ratu Majapahit bukanlah keputusan yang asal ambil begitu saja....akan tetapi keputusan yang telah ditimbang dan dinilai dengan sangat baik.

Para pejabat Majapahit ..mulai hari ini kita akan bekerja keras untuk membangkitkan Nusantara di bawah kepemimpinan Majapahit. Sebuah titah langit yang telah dituliskan Dewa Bhatara Hyang Jagad Nata untuk negeri kita Majapahit.

Jayalah Majapahit... Jayalah Nusantara...

suara teriakan tiba tiba bergema di seluruh Balairung. Suara itu disambut oleh ribuan prajurit Majapahit di luar Balairung yang gelar satara menghormati Sri Ratu Majapahit dan Pengangkatan Patih Hamangku Bhumi.Majapahit.

Jayalah Majapahit... Jayalah Nusantara...

Gajah mada berjalan keluar Balairung dan berdiri di depan seluruh Prajurit, kemudian dengan suara keras nya..Gajah Mada mengulang kembali Sumpah nya di hadapan seluruh prajurit Majapahit..

Sira Gajah Madapatih Amangkubhumi tan ayun amuktia palapa, sira Gajah Mada

 "Lamun huwus kalah nusantara isun amukti palapa, lamun kalah Ring Gurun (Lombok), Ring Seram, Tanjung Pura (Kalimantan), Ring Haru (Sumatera Utara), Ring Pahang (Malaysia), Dompo, Bali, Sunda, Palembang (Sriwijaya), dan Tumasik (Singapura) samana isun amukti palapa".”

Prajurit Majapahit berteriak menyambut Sumpah Patih Amangkubhumi Majapahit yang baru. Suara. para prajurit bergemuruh, memenuhi langit kota raja Majapahit.

Jayalah Majapahit... Jayalah Nusantara...


Bersambung........


Majapahit Empire 13 The Series



Baca Juga : Dan Kubalai Khan Pun Tewas Di Tangan Laskar Tarik Majapahit 









Lebih baru Lebih lama