Cahaya Berpendar Di Istana Kaputren Galuh Pasundan
(6)
Kerajaan Pasundan sedang sibuk sekali berbenah. Para nayaka praja mengatur seluruh bunga di setiap sudut kota.
Indah sekali kota raja Sunda hari itu. Tak ada sampah tak ada kotoran tak ada sudut kota yang gelap dan kotor yang terlihat.
Bunga beraneka warna ditata dengan penuh harmoni. Mawar aneka warna mekar di seluruh jalanan Kota Raja Galuh Pasundan.
Beberapa arca dan pohon besar di sudut kota diberikan selempang kain aneka warna, menambah cantik kota raja Sunda.
Para penduduk kota raja didatangi prajurit prajurit Keraton Sunda yang membagi bagi kan makanan dan kain baru yang indah.
"Buang baju lusuh mu itu tukang daging ayam...mandilah hari hari ini..."
"Kota raja butuh pemandangan yang indah dan bau wangi..."
"Tubuh mu bau busuk..."
"Saya kan tukang daging ...wajar kalau tubuh saya bau busuk..."
"Hei kau tukang daging....kalau kau tidak mandi dan berganti Pakaian dari Maharaja Wangi..kau akan kami penjarakan 3 minggu di penjara luar kota..."
" Ampun ampun Tuanku prajurit...saya akan mandi...tapi baju saya tidak ada yang baru.."
"Banyak bacot.. wahai penduduk kota raja Pasundan...Prabu Wangi menghadiahi semua warga kota raja dengan kain dan baju baru...yang wangi dan harum..dalam 2 minggu ke depan tidak boleh ada bau busuk di seluruh wilayah kota raja..."
"Yang tidak setuju akan ditangkap...atau silahkan tinggalkan kota raja..."
" Ya benar, kota raja Pasundan akan kedatangan tamu terhormat dalam beberapa hari ke depan. Seluruh rakyat di kota raja diwajibkan tampil bersih dan rapih..."
"Gemah ripah, repeh, rapih..."
"Ya benar, gemah ripah repeh rapih.."
"Rakyat Kota Raja...Tidak diijinkan membuat malu dan mengganggu tamu agung yang akan datang. "
" Siapa...siapa ?.....kali ini tamu dari mana lagi yang akan datang..."
"Ya selama ini juga banyak tamu tamu yang berdatangan ke kota praja."
"Paling paling dari Majapahit..."
" Beberapa hari terakhir banyak sekali orang asing dari Majapahit yang datang..."
" Bukan Majapahit tapi dari Jiwana, Singasari, Lasem, Pajang..."
" Memang kamu tahu ..mereka itu benar dari sana ?
****
Patih Madhu bésérta rombongan dari Majapahit memasuki Kota raja Pasundan. Rombongan besar membawa aneka barang barang di atas kereta kuda.
Berkati kati emas, kain aneka warna, makanan, buah buahan langka, gading gajah, dan banyak lagi berkati kati barang aneka macam.
Dua pengiring Patih Madhu adalah prajurit khusus yang tampan dan rupawab. terkagum kagum melihat kebersihan kota raja Pasundan.
Kota raja terlihat berbeda. Lebih berwarna dan penuh gemerlap. Para penduduk kota raja berpakaian bersih dan bagus aneka warna, menyambut tamu terhormat dari Istana Wilwatikna.
Jalanan kota yang bersih dan sayup sayup mengantarkan bau wangi ke seluruh penjuru kota.
" Serasa kita memasuki istana baru yang harum sekali bau nya.."
Satu prajurit khusus yang lain tersenyum.
" Sebentar lagi bau wangi yang harum ini juga akan kita nikmati di kota raja Majapahit.. "
" Wanita nya cantik dan putih paras wajahnya..pastaslah Gusti Rajasanagara terpikat hatinya..."
"Bukan hanya itu masalah nya Kakang. Akan tetapi ada yang lebih urgent dan penting lagi..ini adalah masalah Negeri negeri di dwi pantara Nuswantara ini..."
****
Di dalam Balairung. Patih Madhu diterima dengan sangat hormat oleh seluruh petinggi istana Pasundan.
Sri.Baduga Maharaja tampak berwajah cerah menerima Patih Madhu.
" Sri Baduga ijinkan hamba menyampaikan salam hormat dari Mahaprabu Sri Rajasanagara..."
"Tuanku Maha menteri Wiladatika menyampaikan salam hormat kepada seluruh pejabat istana, nayaka praja Pasundan."
Jagad dewa bhatara ...pencipta langit dan bumi telah menyimpan benih benih perjodohan di negeri kami Negeri Timur Wiladatika dan menetap kan pasangan jodoh nya di negeri tuanku Paduka Sri Baduga Maharaja yang kami hormati.
Salah satu pejabat istana Pasundan menyampaikan sembah pada Sri Baduga Maharaja dan memohon ijin untuk berbicara. Sri Baduga Maharaja tersenyum dan memberikan isyarat ijin kepada pejabat tinggi istana Galuh Pasundan.
" Tuanku Patih Madhu... bagaimana kah kabar Sri Aji Maha Menteri Majapahit Yang Perkasa..."
Patih Madhu meminta salah satu prajurit khusus yang menemani nya menjawab pertanyaan itu.
" Paduka Menteri Utama... sudah 3 windu berlalu sejak Tuanku Sri Aji Maha menteri mengawal Wilwatikta.."
"Wilwatikta menaklukkan seluruh wilayah Nusantara, menangkap para perusuh dan penjahat negara, menjaga ketentraman rakyat sesuai hukum Weda Negara.."
" Seluruh Nusantara telah berhasil dipersatukan dan ditata di bawah Gusti Prabu Sri Rajasanagara... Akan tetapi Gusti..dan juga Gusti Maha prabu Baduga Raja.. Ada yang lebih penting dari itu..."
"Surya Majapahit, Matahari Wiladatika yang telah terbit di Timur membutuhkan peraduan ...tempat berlabuh di negeri Barat Pasundan Gusti... "
Ijinkanlah kami para nayaka praja Wiladatika mengundang Gusti Prabu dan juga Putri yang cantik jelita Dyah Pitaloka Citraresmi, untuk menyambut tempat terbit Matahari Majapahit di negeri Timur mendampingi Sri Rajasanagara.
"Undangan itu luar biasa sekali Patih Madhu...ini adalah kehormatan besar bagi seluruh Pasundan menerima undangan terhormat dari Sri Aji Maha Menteri Gajah Mada dan juga Mahaprabu Sri Rajasanagara..."
"Sri Rajasanagara dan juga Sri Aji Gajah Mada mengirimkan cindera mata untuk menjadi penghibur dan sebagai seserahan tanda ikatan kekeluargaan ..."
" Benarkah matahari Wiladatika memang akan berlabuh menemukan tempat tenggelam di negeri Sunda di haribaan Dyah Pitaloka Citra resmi ?"
"Ini adalah petunjuk dan perintah tertinggi dari Hyang Widi Wase. Hyang Jagad Nata memerintahkan semua nya Tuanku Menteri..
Seluruh resi dan brahmana sepakat pada Surya Majapahit dan juga tempat terbenam Matahari Majapahit..."
" Dari mana Maha Prabu Rajasanagara dan Sri Aji Maha Menteri Gajah Mada mendapatkan ide tempat berlabuh Surya Majapahit ini adi Patih Madhu..."
" Tuanku Patih Madhu bagaimana dengan nasib negeri Pasundan...."
Mahaprabu Wangi tersenyum faham dengan baik penjelasan patih Madhu. Dua telik Sandhi pengawal Dyah Pitaloka telah melaporkan hadir nya seorang pemuda Selama beberapa waktu terakhir bertemu dan bercengkrama dengan putri nya. Rakryan Jiwana ? Siapakah dia...
"Tuanku ...akan tetapi tuanku Sri Rajasanagara belum mengenal dengan baik putri Pasundan kami.."
" Paman Menteri... seluruh keluarga Istana Prabu telah berbangga menerima undangan dari Wiladatika ini..." salah satu Menteri Utama Pasundan menutup pertanyaan pertanyaan baru dari beberapa Menteri Utama Pasundan pada utusan Wiladatika Majapahit.
" Paman Patih Madu silahkan beristirahat di Balai Suka Pasundan... kami semua menerima dengan baik undangan Mahaprabu Sri Rajasanagara..."
" Kami seluruh keluarga Istana Pasundan akan membicarakan seluruh persiapan yang harus dilakukan."
"Terima kasih Gusti Prabu... Semoga Hyang Jagad Nata membantu melancarkan niat kita semuanya."
Patih Madhu dan dua prajurit khusus Majapahit menghaturkan sembah dan segera undur untuk beristirahat di Balai Suka, tempat menjamu tamu tamu negara terhormat .
Lapangan Bubat..
Baca Juga : Dan Kubalai Khan Pun Tewas Di Tangan Laskar Tarik Majapahit
.jpeg)
.jpeg)