Pertempuran Baru Back Bone Pendukung Layanan Last Mile ? Google Taara, Siap Serbu Starlink ?
Bandung, Informatika News Line
Persaingan back bone Jaringan Telekomunikasi masih belum selesai. Jaringan back bone tradisional sempat terhentak ketika Elon Musk pada 2018 yang lalu memutuskan meluncurkan Starlink untuk meresumekan seluruh jaringan telekomunikasi global.
Saat ini, ada sekitar 8.094 satelit Starlink yang mengorbit, dengan 8.075 di antaranya beroperasi. Data ribuan satelit ini dilansir oleh Jonathan McDowell, seorang astronom yang mengamati pertumbuhan bisnis SpaceX. Masih kurang 4000 an satelit lagi dari 12 ribu an satelit yang akan diluncurkan oleh Space X. Ini baru sepertiga satelit dari 35 ribuan satelit yang direncanakan akan melingkupi seluruh orbit LEO di seluruh atmosfer Bumi. Konsep layanan global Elon Musk ini seolah menghapus semua konsep layanan satelit global sebelum nya yang pernah di inisiasi oleh konsorsium Iridium, Globalstar, Inmarsat, Thuraya dan beberapa konsorsium lainnya. SpaceX terlihat lebih canggih karena tidak memerlukan Handpone khusus, seperti HP Satelit milik konsorsium GSM sebelumnya yang terpaksa membuat disain handphone sebesar batu bata, dibandingkan dengan konsep SpaceX Elon Musk yang lebih tertarik dengan membuat kotak penerima sinyal satelit yang kemudian mengirimkan internet melalui jaringan telekomunikasi seluler yang telah ada. Tidak ada perubahan di sisi last mile handphone pelanggan, akan tetapi back bone nya bisa digantikan oleh Space X.
Memang terlihat sederhana, membangun back bone lewat ruas angkasa, ringkas dan cepat. Konsep satelit Elon Musk memang berbeda dengan konsep satelit konvensional, akan tetapi meskipun ringkas dan cepat, tetap saja, masalah realitas daya jangkauan satelit masih menjadi perhatian serius yang tidak sederhana.
Saat ini Satelit Elon Musk mengambil orbit LEO (Low Earth Orbit) di tinggi 550 km (Direncanakan akan ada varian satelit Elon, di ketinggian 340 km, dan ketinggian 1200 km, masih tergolong orbit LEO), sementara satelit konvensional seperti Satelit Telkom dan Satelit BRI-Sat misalnya, ada di ketinggian 36.000 km. Bayangkan beda ketinggalan Satelit Konvensional dan Satelit Space X yang hampir 35.000 km, kilometer !!! Bukan meter !!!
Frekuensi yang digunakan SpaceX berkisar antara 14 Ghz - 14,5 Ghz, 10,7 Ghz - 12,7 Ghz, tentu berbeda berdasarkan lokasi geografis yang terkait dengan kondisi dinamis atmosfer, tinggi rendahnya curah hujan, akan tetapi dikabarkan ada frekuensi radiasi yang bocor di frekuensi 110 Muhz dan 188 Mhz. Ketinggian di luar orbit geostasioner ini membuat Satelit Elon Musk membutuhkan pendorong aktif, untuk mempertahankan posisi di langitnya, agar tidak jatuh karena gravitasi bumi.
Konsepnya berbeda jauh dengan orbit GEO yang stabil tidak terpengaruhi oleh gaya gravitasi bumi. Pendorong dengan gas Kripton dan Argon digunakan sebagai roket di dalam satelit untuk mempertahankan posisi nya di orbit LEO agar tidak jatuh ke permukaan bumi.
Dikabarkan ada sejumlah konsorsium lain yang mencoba mengejar Satelit Elon Musk, Oneweb-Sat Constellations, China Nas-Sat Internet Project, Kuiper System, Hughes Net, Viasat, O3b m Power.
Sayangnya tidak ada konsep serupa di Indonesia, Palapa Ring Constellations misalnya. Konsep layanan Palapa Ring Indonesia, belum-belum sudah diganjal oleh korupsi besar. Palapa Ring, E-KTP adalah project-project National Flag Ship Indonesia yang terkait dengan Palapa Ring, yang terganjal oleh Korupsi.
Baca Juga :
Momentum Perayaan HUT RI Ke 80 Dan HUT Ratu
LKPj Bupati Ditolak, APBD-P Belum Dibahas
Padahal Teknologi Satelit Komunikasi Indonesia adalah yang teknologi paling maju di dunia yang telah dikuasai oleh Indonesia (c.q. Telkom dan Indosat) sejak 50 tahun terakhir, sejak era tahun 1970 an.
Perkembangan Teknologi Korupsi di Republik, dan Teknologi Rekayasa Politik, jauh lebih cepat tumbuh dibandingkan penguasaan dan pengembangan Teknologi Satelit Komunikasi. Padahal pada era tahun 1980 seluruh negara di dunia terpaksa datang ke Bandung, mengemis belajar Teknologi Satelit Komunikasi dari Telkom. Bahkan termasuk China, yang jadi kampiun teknologi saat ini, adalah salah satu negara yang iri dengan Teknologi Satelit Komunikasi Palapa yang dimiliki Indonesia pada era tahun 1970 an.
Ahli Satelit Telekomunikasi Telkom merajai Asia dan Afrika, bahkan beberapa negara Eropa terpaksa menggunakan ahli dari Republik untuk belajar Satelit Komunikasi. Satelit GSM Garuda 1 milik salah satu operator Telekomunikasi di Indonesia pada tahun 2000 an, adalah satelit seluler pertama dan paling canggih di dunia, jauh lebih canggih dari Thurayya dengan handset ala buah pisang yang bahkan sisi estetika nya jauh jika dibandingkan disain handphone Satelit Garuda 1 yang dibuat oleh Ericsson khusus untuk Indonesia. Apalagi handset milik Irmarsat yang sebesar batu bata.
Konsep layanan Elon musk hanyalah konsep layanan yang merupakan cucu atau bahkan cicit dari konsep Teknologi Satelit Komunikasi milik Indonesia.
Penguasaan teknologi Satelit Republik saat ini sudah otomatis tidak lagi berkembang. Politik, Korupsi, dan tidak adanya Kebijakan dari pemerintah untuk mendorong terus berkembangnya penguasaan teknologi Satelit ini. Tidak ada keberpihakan yang serius dari pemerintah terhadap penguasaan teknologi ini. Beberapa satelit riset milik badan negara misalnya, saat ini hanya jadi konsep satelit atau satelit konsep, yang tidak laku sama sekali.
Padahal kebutuhan lokal dalam negeri, untuk akses telekomunikasi akses internet misalnya sudah semakin tinggi. Ranah Politik yang menjadi perhatian utama selama ini, membuat penguasaan teknologi satelit berhenti berkembang.
Meski upaya untuk meneruskan penguasaan teknologi ini coba diupayakan lagi, tidak berhenti, melalui peluncuran Satelit milik perbankan pertama di dunia BRI-Sat, misalnya. Akan tetapi strategi peluncuran satelit BUMN ini masih belum sepenuhnya mengembalikan posisi penguasa teknologi Satelit Indonesia di kancah global, era 1970-1990 an yang lalu.
Baca Juga :
Cetak Biru Bisnis Satelit Indonesia
Satelit LEO Jadi Strategi Baru Pembangunan Infrastruktur Digital Nasional ?
Google Teera, Reinkarnasi Teknologi Laser Baru
Satelit Elon Musk terbaru telah menggunakan komunikasi laser antar satelit. Mode komunikasi laser yang dirahasiakan oleh Elon Musk ini akan membuat satelit menjadi hub angkasa yang mampu meningkatkan aliran link dan rute komunikasi yang dibutuhkan antar satelit dan juga untuk akses re-route yang dibutuhkan dari terminal internet di modem starlink yang berada di ruas permukaan bumi.
Penggunaan teknologi laser yang sama inilah yang kemudian diinisiasi kembali oleh inisiatif Google Teera. Akan tetapi alih-alih digunakan di ruas angkasa antar satelit, konsep Google Teraa menggunakan konsep ini di ruas bumi.
Google Taara (Terabit Access for Rural and Remote Areas) baru saja dipisahkan dari laboratorium futuristik Google X dan menjadi perusahaan mandiri pada Maret 2025. Rupanya penggunaan beberapa lokasi Google X sebagai stasiun bumi Star X Elon Musk menghasilkan konsep dan ide teknologi untuk dikembangkan di ruas Bumi.
Proyek Taara ini, menggunakan sinar laser yang tadinya digunakan untuk komunikasi antar satelit di Space X, diubah untuk mengirimkan data berkecepatan tinggi dari satu titik ke titik lain tanpa kabel di ruas bumi. Konsep Komunikasi Laser seperti ini sudah dikembangkan sejak tahun 1970-an dan bahkan versi pasar global nya sudah diperkenalkan sejak tahun 2000 an, akan tetapi gagal mendunia. Dan teknologinya berhenti di peluncuran pasar awal saja, tidak mampu mencapai mass market global.
Konsep Teknologi Taara sama saja dengan teknologi lama ini, akan tetapi untuk mendorong mass market, Teknologi Taara menggunakan pendekatan marketing yang berbeda. Diantaranya adalah, bahwa Uji teknologi Taara ini telah sukses diuji coba di lebih dari 12 negara, termasuk India dan Republik Demokratik Kongo, dengan hasil yang tentu saja bagus. Kecepatan data yang berhasil diraih oleh Taara mencapai 20 Gbps. Tanpa menggunakan bantuan saluran akses sama sekali, hanya mengandalkan free space saja. Sebagaimana teknologi free-space optical communication yang dijadikan pakem pengembangan teknologi Taara.
Sebuah Unit pengirim laser Taara Lightbridge yang berbentuk Laser Beam, Penembak Laser, diuji di Sungai Kongo, yang memisahkan dua ibu kota, Kinshasa dan Brazzaville. Lightbridge berhasil menghubungkan kota di dua negara ini dalam mode pembangunan dan penyiapan sistem hanya dalam hitungan jam saja, tanpa perlu persiapan membangun infrastruktur yang rumit. Tinggal pasang transreceiver Lightbridge di kedua sisi Sungai, lalu nyalakan lasernya, dan
"Taaraaaaa......... "
Komunikasi data Laser kecepatan tinggi ini pun langsung berhasil dilakukan.
“Ini seperti memasang kabel fiber, tapi lewat udara,” ujar Vishal Arora, General Manager Google Taara dilansir dari Wired, Jumat (1/8/2025).
Teknologi ini mengandalkan chip fotonik mini, sebesar biji jagung marning, yang dikembangkan khusus oleh Google. Teknologi ini lebih handal dibandingkan Teknologi Elon Musk yang dihambat oleh delay (latensi) karena jauhnya jarak satelit dari pemmukaan bumi (550 kilometer).
Kelebihan lain dari teknologi Taara adalah efisiensinya. Tiap unit Lightbridge hanya membutuhkan sekitar 40 watt daya, setara dengan lampu LED produk China yang biasa kita pakai saat ini di rumah-rumah. Daya LED ini jauh lebih hemat daripada sistem satelit milik Elon Musk atau teknologi lain.
Baca Juga :
Cetak Biru Bisnis Satelit Indonesia
Google mencoba menerapkan Taara di berbagai wilayah, bekerja sama dengan operator lokal dan global. Salah satu proyek andalannya adalah di Afrika. Di lokasi tersebut koneksi laser Taara digunakan untuk menghubungkan jaringan fiber antarnegara tanpa menyeberangi sungai atau hutan belantara. Google juga bekerja sama dengan Digicomm International untuk memperluas distribusi perangkat ini ke operator-operator besar di Amerika Serikat, India, dan negara berkembang lainnya, bukan tidak mungkin Indonesia akan jadi salah satu sasaran.
Baca Juga :
Pertempuran Baru Back Bone Pendukung Layanan Last Mile ? Google Taara, Siap Serbu Starlink ?
Sayangnya Taara ini sangat rentan terhadap gangguan LOS (Line Of Sight). Barisan burung yang terbang memotong sinar laser Taara, akan memutus mode komunikasi, belum lagi kalau ada pesawat terbang komersial atau F-16 militer yang terbang rendah dan memotong jalur laser Taara, komunikasi Laser Taara pasti putus.
Dan keparahan putusnya sinyal laser ini, tidak dijelaskan oleh Google bagaimana cara mengatasinya. Kekurangan teknik dasar ini membuat Taara mungkin tidak mudah diinstalasi di lokasi dengan banyak gangguan LOS sinar Laser yang dipakai. Belum lagi kalau sedang ada musim bermain layang-layang. Ribuan layang-layang yang terbang di ketinggian langit bisa menjadi alasan putusnya komunikasi Taara.
Sebenarnya gangguan LOS ini juga yang membuat teknologi lama, yang coba dibawa ke pasar pada dekade tahun 2000 an ini gagal diterima secara luas di pasar. Tingginya tingkat kemungkinan putusnya signal berbasis Laser ini menjadi kendala teknologi ini diterima di pasar. Pengatasan masalah putusnya komunikasi karena ganguan LOS ini misalnya tidak terlalu mengganggu di jaringan dengan teknologi microwave misalnya. Karena sinyal gelombang elektromagnetik masih bisa melingkupi dan bahkan bisa menembus obyek fisik yang mengganggu jalur LOS sinyalnya. Akan tetapi karena LASER memggunakan konsep laser cahaya, maka tertutupnya akses cahaya karena gangguan fisik ini memiliki nilai gangguan jauh lebih tinggi dsri sistem berbasis teknologi microwave misalnya.
Akan tetapi untuk masuk berkembang ke Indonesia tidaklah terlalu sulit. Koneksi Politik akan membuat Taara bisa dipaksakan beroperasi di mana saja di Indonesia. Dan Indonesia adalah pasar yang sangat besar, jika Taara memutuskan untuk masuk. Tak perlu pertimbangan teknologi yang terlalu rumit, penuhi saja regulasi di Kementerian Komunikasi dan Digital, jangan lupa dorongan dan dukungan aspek politik. Jika itu sudah didapatkan, Indonesia bisa jadi pasar yang mengasyikkan untuk Google Taraa.
Tulisan : Gempar Ikka Wijaya
Redaktur Informatika Newsline, Staf ahli khusus Kementerian Komunikasi, Anggota Pantek (Panitia Teknis) Badan Standarisasi Nasional, Anggota Teknis Dewan TIK Nasional (Detik Nas)
