Majapahit Empire 13 Episode 1

Lapangan Bubat Majapahit

(1)


Senja turun di negeri tepi sungai di Javadwipa sebelah timur itu. Remang remang senja mulai terasa di seluruh Bubat dan Kota Raja Majapahit.

Di dalam perkemahan besar di tengah tengah Lapangan Bubat, Sri Baduga Maharaja memanggil Pitaloka yang cantik jelita sambil tersenyum.

"Anak ku berbahagia lah, tugas dari Sang Pemilik Segala Alam telah siap di depan mata..."

" Muhun...ayahanda Prabu..ananda akan menjalankan tugas langit ini dengan segenap hati ayahanda..." Dyah Pitaloka menyambut ayahanda nya dengan penuh suka cita.

Bahagia yang dalam terasa di dada Dyah Pitaloka. Beberapa hari lagi, tiba pesta suci pernikahan itu, dan itu bukanlah pesta sembarang pesta.

Bukan Sembarang pesta, akan tetapi pesta pernikahan. Dan bukan sembarang pesta Pernikahan. Akan tetapi sebuah pesta pernikahan yang juga membawa pesta kebangkitan Negeri Nuswantara Jaya Raya. Pernikahan ini akan menjadi sebuah peristiwa paling penting di seluruh tlatah Nusantara.

***

Bhre Jiwana adalah pria yang tampan. Dan diam-diam tanpa diketahui oleh banyak orang mendekati deretan 3000 lebih kapal Sunda yang berlabuh di Pelabuhan Canggu.

Pelabuhan Canggu adalah pelabuhan besar di dekat Kotaraja Majapahit. Ribuan kapal setiap hari hilir mudik di Pelabuhan itu. Akan tetapi hari itu Pelabuhan Canggu jauh lebih ramai. Tambahan 3000 an kapal laut armada Sunda itu membuat Canggu menjadi jauh lebih ramai dari biasanya.

Kapal para pedagang, nelayan, dan juga kapal kapal militer Majapahit tampak menyingkir memberi jalan rombongan kapal besar Sunda itu. Rakyat di tepi sungai berteriak teriak memberikan salam kegirangan menyambut rombongan armada laut itu.

" Lihat itu dia mempelai wanita nya, sungguh cantik jelita... Itu yang berbaju Merah.."

" Itu Dyah Pitaloka kah ?"

" Lihat betapa panjang, iringan pengantin Sunda itu..."

" Apa saja sesembahan pengantin yang mereka bawa ya ?"

Di tengah tengah keramaian Canggu, Ayahanda Sri Baduga Maharaja yang sakti, mengetahui kilasan cahaya mata Bhre Jiwana. Dan dengan tersenyum bijaksana, melihat putrinya yang bergegas berganti busana rakyat jelata, menyongsong kekasih nya.

Dyah Pitaloka menyelinap menghilang dari rombongan tanpa disadari oleh siapapun, kecuali oleh dua orang terang benderang yang terus menerus melihat dengan seksama seluruh Armada Laut Sunda itu, dan juga hingar bingar rakyat dan pedagang di Tepi Sungai Pelabuhan Canggu.

****

Beberapa bulan sebelumnya, di antara temaram bukit hutan di kota raja Pasundan Dyah Pitaloka telah bertemu Rakryan Jiwana yang tampan.

"Jadi adinda, sebenarnya rombongan pengantin Wiladatika juga sudah bersiap pergi ke tanah Pasundan yang suci ini..."

Akan tetapi bacalah kembali dengan teliti saloka yang ditulis rapi oleh Sri Aji Prabu Jayabaya.

" Nusantara Raya ini akan bangkit berjaya, jika surya di timur bertemu tempat tenggelamnya matahari di Barat Jawadwipa."

Bukanlah negeri Timur yang berangkat ke Barat, adinda, akan tetapi negeri Barat lah yang berangkat menyongsong ke negeri negeri di Timur. Sebagaimana alam raya ini juga berputar bergantian antara Barat dan Timur dan antara Timur dan Barat.

Meskipun Barat yang berjalan menuju ke Timur akan tetapi hasrat di negeri Timur lah yang berapi api menunggu nunggu negeri Barat datang.

" Oh jadi begitu kah makna saloka suci Sri Aji Suci Prabu Jayabaya itu Kanda Jiwana."

" Yah begitu lah kekasih ku Pitaloka. Dan begitu lah Sang Pemilik Alam ini mengajarkan kepada kita semua makna tertinggi dalam kehidupan ini."

" Ratusan tahun yang lalu Seorang raja Barat yang menerima titah Sang Hyang Jagad Giri Nata juga melakukan gelar pasukan yang sama, dari Barat menuju ke Timur."

"Pasukannya yang gagah perkasa itu melintasi ribuan negeri dari Barat menuju ke Timur dan bahkan kemudian menjejakkan kakinya di Swarnadwipa. Kisah perjalanan Sang Paduka Raja bertanduk dua itu sangat terkenal bahkan sampai berabad abad dan ribuan tahun sampai ke jaman kita ini Adinda Dyah Pitaloka."

Dyah Pitaloka mendengarkan semua kata kata Rkryan Jiwana. Diam diam dia mengagumi pemahaman mendalam dari Rryan di hadapan nya. Bukan sembarang Rkryan muda akan tetapi Rkryan yang juga punya gelar tinggi di istana raja Wiladatika.

****

Kemah besar yang terang benderang menjelang malam. Beberapa pejabat penting dan keluarga kerajaan berdatangan menuju kemah besar itu.

Sebuah upacara sesaji menjelang malam digelar dalam kemah besar itu. Bau dupa dan bunga yang wangi mengisi seluruh ruangan.

Keluarga raja raja Pajajaran adalah keluarga yang sangat religius. Sama seperti keluarga raja raja Majapahit. Kesetiaan kedua keluarga besar itu pada Sang Widhi Wase tak pernah dan tak perlu ditanyakan.

Para pendeta agung kerajaan telah memulai upacara pembukaan awal, sebelum upacara sembuh sesaji menjelang malam dimulai.

***

Jauh di atas bukit yang temaram. Dua orang sahabat memandang perkemahan mewah Kerajaan Sunda.

Mata sahabat yang terang benderang itu memandang dengan penuh harapan pada jajaran perkemahan mewah di bawah bukit.

" Kakang, semoga Tuhan Yang Maha Esa menentukan hari besatu nya negeri Timur dan Barat adalah hari hari ini...."

" Lihatlah, seluruh istana Majapahit yang berbenah indah untuk tuan Putri Dyah Pitaloka."

" Tapi adik, Majapahit dipenuhi oleh para telik sandi dari berbagai negeri. Mereka berebut posisi di hadapan Istana Raja. "

" Setelah pulih ber tahun tahun yang lalu dari Maharaja Kuti, Kota raja Majapahit berubah sangat ketat. Ada banyak pendapat yang berkembang di kota raja Majapahit yang besar ini...Siapa pun boleh berbicara dan berpendapat.'

" Pendapat Mahapatih Amangkubumi Sri Aji Gajah Mada sama dengan Maha Prabu Rajasanagara. Akan tetapi saya merasa masih ada kerikil tajam kakang. "

" Jangan kan kita kakang... Prabu Jayanegara saja tewas dibunuh di peraduan oleh hanya seorang Ra Tancha... Kota raja Majapahit ini adalah Ibu kota besar yang menyimpan apapun yang bisa disimpan Kakang."

Dua orang sahabat yang terang benderang itu mengamati dengan baik seluruh area perkemahan Bubat.

Sejak keluar dari Kapal Laut di Pelabuhan Canggu beberapa kilo meter dari Istana Raja Majapahit, kedua sahabat itu sengaja memisahkan diri dari rombongan pengantin agung dari Sunda.

" Ada isyarat dari Dewa Bathara yang membuat saya merasa kita harus lebih waspada adi. "

" Sumuhun Kakang... Saya mengerti Kakang, para prajurit khusus saya minta bersiap siap di Bubat, sambil menunggu isyarat dari Kanda...isyarat dari kita.."

" Baik adi, sekarang mari kita perhatikan baik baik Bubat...semoga semua berjalan dengan lancar,...tidak terjadi apa apa..... Semoga Hyang Widhi Wasa melindungi kita semua... "

Dalam kegelapan malam yang dingin dua orang brahmana kstaria suci dari tanah Sunda itu melakukan pula pujian untuk Sang Pemilik Alam Semesta.

Mata suci mereka berdua yang tajam, memandang dengan penuh kewaspadaan seluruh wilayah lapangan Bubat. Sementara beberapa prajurit pilihan di tengah tengah perkemahan melihat bukit tempat mereka berdua dari kejauhan. Memandang dengan waspada, menunggu isyarat dua bhrahmana ksatria suci. 



Lebih baru Lebih lama