Dicari.....Strategi Khusus PLN Menerangi 5758 desa, Dalam 1 Tahun Atau Kurang, Bisakah ?

Dicari, ....Strategi Khusus PLN Menerangi 5758 desa, Dalam 1 Tahun Atau Kurang, Bisakah ?

 


 

Pemerintah menargetkan dalam waktu 5 tahun, pada tahun 2029 sebanyak 780 ribu rumah tangga di 5758 desa akan teraliri listrik.
Target ini diamanahkan dalam RUPTL, Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik, (Produksi LIstrik) tahun 2025-2039 yang disusun oleh Kementerian ESDM, sebagai kementerian induk teknis Energi dan Sumber Daya. 

Untuk merealisasikan program tersebut, dibutuhkan dana 50 Trilyun rupiah untuk menjangkau seluruh desa ini.

Bagi PLN, tugas seperti ini tidaklah terlalu berat. Karena sebanyak 83693 desa yang lain sudah berhasil dilayani. Jumlah desa yang sudah berhasil dilayani oleh PLN sudah lebih dari 20 kali lipat dibandingkan dengan 5 ribu an desa ini. 

Perusahaan raksasa dengan keuntungan lebih dari 500 Trilyun ini punya pengalaman dan kompetensi yang cukup untuk melayani desa-desa yang masih tertinggal belum mendapatkan layanan listrik ini. 

Akan tetapi meski memiliki keuntungan jumbo yang besar, PLN masih harus menyelesaikan hutang-hutangnya, sebesar 734,26 triliun rupiah. Hutang tersebut terdiri dari hutang jangka pendek sebesar 195,12 triliun rupiah dan hutang jangka panjang sebesar 539,14 triliun rupiah. 

Kondisi keuntungan setahunan yang sangat besar saat ini, lebih dari 545 Trilyun rupiah ini,  mau tidak mau, tergerus hutang yang sangat besar. Sehingga meskipun tetap dianggap sehat, PLN paling tidak harus berupaya keras untuk menyisihkan dana untuk membayar hutang, menyediakan biaya operasional, membayar gaji 50 ribu sampai 60 ribuan karyawan, disamping keuntungan bersih 17,76 triliun yang sukses dan berhasil dibukukan.

Kondisi kompleks ini lah yang membuat target melayani 5758 desa tersebut tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang singkat. Target nya adalah 5 tahun. Pelayanan elektrik di kurang dari 1 persen lokasi desa ini, tidak bisa diselesaikan dalam waktu beberapa bulan saja. Atau paling tidak dalam 1 tahun. 

Rumitnya mengendalikan sebuah perusahaan besar dengan lebih dari 92 juta pelanggan di seluruh Indonesia, melebihi rumitnya mengendalikan sebuah negara.


Baca Juga : Desa Ponggok Klaten Berhasil Raih Pendapatan Desa 14 Milyar Dari Usaha Wisata Desa


Mojokerto Raih Anugerah Desa Wisata Terbaik Indonesia (ADWI) 2023


 RT.026 Desa Gilang, Kecamatan Taman, Raih Juara Lomba RT Mandiri 


Dicari, ....Strategi Khusus PLN Menerangi 5758 desa, Dalam 1 Tahun Atau Kurang, Bisakah ?



Sebanyak 92 juta pelanggan PLN, itu mendekati 1,5 kali jumlah penduduk Malaysia. Dimensi pelayanan yang besar, kompleks dan luas ini, dibarengi dengan proses pengendalian biaya operasional dengan skala ratusan trilyun, bahkan ribuan trilyun.

Melalui RUPTL 2025-2039 yang disampaikan oleh Kementerian ESDM misalnya, pemerintah menargetkan investasi sebesar 2.967,4 Trilyun rupiah, sampai dengan tahun 2034 yang akan datang. Ribuan Trilyun investasi dibutuhkan oleh PLN untuk membuat PLN mampu melayani seluruh wilayah negeri yang luar biasa luas ini.

 

Baca Juga : 



Kondisi Indonesia yang sedemikian kompleks membuat PLN harus merencanakan dengan detail dan didukung oleh investasi yang cukup,  agar layanan yang efektif bisa tercapai. Akan tetapi pemerintah memahami dengan baik posisi PLN yang serba tidak mudah ini. Karena itu skema IPP (Independent Power Producer) ditetapkan akan lebih besar dari PLN. IPP akan diberikan tanggung jawab lebih besar, 73 %, sementara itu PLN diminta mengerjakan sisanya. Sebanyak 2133,7 Trilyun rupiah investasi akan ditanggungkan kepada IPP untuk menambah daya 69,5 GW sampai dengan 10 tahun yang akan datang.

Strategi menerapkan IPP ini memang cukup baik, dalam mengurangi beban pengembangan layanan, yang akan ditanggung oleh PLN. Akan tetapi strategi ini masih kurang efektif. Mengikutsertakan masyarakat di 5758 desa untuk ikut aktif, membangun sarana kelisritrikan, mungkin jauh lebih efektif dibandingkan dengan strategi gelar IPP (Independent Power Producer) yang ditawarkan oleh pemerintah.


Baca Juga :


Strategi layanan cepat yang bisa dijadikan contoh adalah, seperti yang sudah berhasil teruji selama 1 tahun pemerintahan Presiden Prabowo, adalah strategi layanan Makan Bergizi Gratis (MBG). 

Data dari Badan Gizi Nasional (BGN) memperlihatkan bahwa dalam waktu sangat singkat, kurang dari 1 tahun saja, sudah ada 12 ribu dapur berstandar internasional yang melayani 40 juta warga negara, anak-anak sekolah di seluruh Indonesia. 

Bandingkan dimensi yang berhasil dibangun ini, dengan beban membangun di 5758 desa dengan 780 ribu rumah tangga yang ditetapkan untuk dibangun selama 5 tahun. 

Waktunya terlalu lama. Menuntaskan layanan listrik di 1 persen desa untuk jangka waktu 5 tahun itu terlalu lama. Masyarakat butuh layanan lebih cepat dari itu, Kalau bisa sekarang juga.

Pilhan strategi yang bisa diambil misalnya, adalah dengan menyasar jumlah desanya yang hanya 5758 desa, atau bisa dengan menyasar langsung 780 ribu rumah tangga, yang masih merasakan gelap nya malam, tanpa layanan PLN ini. 

Sejumlah pilihan teknologi ringan, yang harganya tidak terlalu mahal, bisa menjadi pilihan cepat. Menggunakan tenaga fotofoltaik, wind power (tenaga angin), atau dengan basis mikro hidro, yang bisa dibangun dalam jangka waktu yang sangat singkat, dalam hitungan hari, bisa menjadi pilihan.

Sebanyak 1 juta lebih Sarjana yang belum mendapatkan pekerjaaan (berdasarkan data dari BPS Februari 2025), misalnya, bisa dijadikan pioner dalam memberikan cahaya penerangan di 5758 desa itu. Selama ini, skema patriot energi yang dijalankan di bawah Kementerian ESDM bisa menjadi pilihan untuk dikembangkan mengatasi desa-desa gelap ini . Atau skema program patriot energi ini diadopsi oleh PLN melalui biaya khusus untuk menghapus kegelapan di 5758 desa.

Alternatif lain, misalnya adalah memanfaatkan sebanyak 245.217 sarjana yang tercatat melamar menjadi pegawai PLN sampai dengan bulan Oktober 2025 ini. Diterima saja semua pelamar Sarjana tersebut, untuk diterjunkan khusus oleh PLN ke seluruh desa. 

Atau dengan pendekatan skema 1 pegawai baru ditugaskan membuat layanan di 3 rumah tangga yang masih belum mendapatkan layanan listrik. Dan seperti karya hebat yang mencengangkan lainnya, 780 ribu rumah tangga yang masih dalam kondisi gelap itu bisa dalam waktu 1 minggu mendapatkan layanan listrik tahap awal, dengan bantuan 250 ribuan sarjana yang melamar menjadi pegawai PLN tersebut.

Teknologi pembangkitan mikro, atau yang lebih kecil lagi, saat ini sudah banyak ditemukan alternatifnya, dengan harga murah. Atau membangun sendiri pembangkit yang murah di lingkungan home industri Nasional, jika ingin sedikit mencari jalan memutar. Dengan alasan membangun industri dalam negeri, dibuat program industri pembangkit listrik untuk kepentingan di tingkat rumah tangga.

Bisa juga. Akan tetapi pilihan itu, pasti jauh lebih cepat, dibandingkan dengan skema membangun jalur transmisi, di 48 ribu kilometer untuk menjangkau seluruh negeri. Mungkin strategi gelar jaringan 48 ribu kilometer itu, bisa ditempuh untuk memperkuat layanan listrik yang sudah ada. 

Akan tetapi mungkin strategi pendekatan yang dibutuhkan oleh 780 ribu rumah tangga itu saat ini, mungkin adalah strategi dengan karakter yang berorientasi kecepatan. Bukan strategi dengan pendekatan Dinosaurus yang besar, akan tetapi lambat. Menghadapi kebutuhan 780 ribu rumah tangga di 5758 desa ini, PLN dan pemerintah mungkin perlu mempertimbangkan menggunakan strategi pasukan Wanara Hanoman. Yang dengan efektif bisa mengatasi pasukan raksasa dari Alengka nya Rahwana raja dengan memanfaatkan pasukan wanara kera kecil-kecil akan tetapi efektif untuk menjangkau ribuan lokasi dengan kecepatan yang tinggi (Gempar Ikka Wijaya)



 

Lebih baru Lebih lama