RT.026 Desa Gilang, Kecamatan Taman, Raih Juara Lomba RT Mandiri

 RT.026 Desa Gilang, Kecamatan Taman, Raih Juara Lomba RT Mandiri 



Sidoarjo, Informatika News Line, 17/08/2025

Kesuksesan RT.026 Desa Gilang Kecamatan Taman Sidoarjo ini disampaikan oleh Pak Ketua RT, Wahyu Dewanta kepada Informatika News Line. RT.026 Desa Gilang tampil sebagai juara 3 Lomba RT Mandiri se-Kecamatan Taman Sidoarjo dan berhasil menyisihkan 19 RT lain se-kecamatan Taman Sidoarjo.

" Terima kasih Pak Yusron, Pak Ika, Pak Yogi atas doa njenengan semua..." Kata Pak Wahyu sesaat setelah menerima penghargaan dari Camat Taman di Upacara HUT RI ke-80, Minggu (17/08) di lapangan Kecamatan Taman Sidoarjo. Atas keberhasilannya RT.026 mendapatkan hadiah 2 juta rupiah dari Pemkab Sidoarjo yang disampaikan melalui Kecamatan Taman.

Kepada Informatika News Line, Pak Ketua RT Wahyu Dewanta, menceritakan perjuangannya bersama-sama dengan seluruh warga. Pak RT Wahyu bekerja keras untuk membangun kemandirian yang menjadi fokus penilaian lomba RT Mandiri tingkat Kabupaten Sidoarjo itu.

Saking semangatnya Pak RT Wahyu dan istri, keluarga di rumah sampai sakit flu beberapa hari terakhir.

" Sempat batuk batuk ringan, tapi lumayan ini..." Kata Pak RT Wahyu pada Informatika News Line.

" Kita sudah berhasil memindahkan daya listrik lampu penerang jalan yang tadinya tidak teratur, sekarang sudah ada meteran listrik khususnya dari PLN, dan itu tidak mudah memindahkan nya ...bersama-sama warga kita memindahkan saluran penerangan jalan ini..." Kata Pak RT Wahyu bersemangat.


Baca Juga : Desa Ponggok Klaten Berhasil Raih Pendapatan Desa 14 Milyar Dari Usaha Wisata Desa


Mojokerto Raih Anugerah Desa Wisata Terbaik Indonesia (ADWI) 2023


 RT.026 Desa Gilang, Kecamatan Taman, Raih Juara Lomba RT Mandiri 


Dicari, ....Strategi Khusus PLN Menerangi 5758 desa, Dalam 1 Tahun Atau Kurang, Bisakah ?


" Alhamdulillah setelah selesai memindahkan seluruh jaringan lampu di malam hari, tiba-tiba setelah itu turun hujan lebat... Alhamdulillah...lumayan kena hujan...tapi kalau tidak ....bisa basah kuyub semuanya..." Cerita Pak RT Wahyu.

Pak RT Wahyu Dewanta menceritakan suka duka menjadi Ketua RT, memimpin masyarakat di lokasi urban, Desa Gilang, Kecamatan Taman, daerah perbatasan Sidoarjo dan Metropolis Surabaya.

"Tidak mudah, ...dooloor...." kata Pak RT Wahyu

Menjadi Ketua RT itu adalah pekerjaan yang harus dijalankan dengan ikhlas dan penuh dedikasi.

Dan bahkan harus rela bekerja melayani masyarakat 24 jam penuh. Apalagi saat menghias lingkungan RT menjelang HUT RI dan lomba RT se kabupaten Sidoarjo ini.

Saat ditanya oleh Informatika News Line, tentang insentif 500 ribu dari Pemkab Sidoarjo kepada Ketua RT. Pak Ketua RT Wahyu, menyatakan rasa syukur nya menerima dana bulanan dari Pemkab tersebut.

"Bahkan dapat lho jatah dana BSU dari BPJS Ketenagakerjaan yang 600 ribu rupiah kemarin. Tapi karena saya sudah dapat BSU dari tempat kerja ya yang dana BSU itu tidak bisa diambil..kan dobel namanya ..." Kata Pak RT Wahyu.

Saat ditanya kenapa BSU (Bantuan Subsidi Upah) tidak dialihkan saja ke yang lain. Pak RT Wahyu hanya tersenyum simpul, tidak menjawab pertanyaan Informatika News Line. Pak RT Wahyu jelas tidak suka cara-cara curang mencuri uang negara dengan cara seperti itu.

"Kalau dapat uang hadiah RT terbaik sebesar 300 juta rupiah dari Pemkab, nanti dipakai apa rencananya Pak RT...?"

"Alhamdulillah... .Seluruh warga sudah sepakat nanti dana itu bisa dipakai untuk kepentingan seluruh warga....Insya Allah ..kalau menang.." Kata Pak RT Wahyu.

Kabupaten Sidoarjo memberikan insentif kepada ribuan RT yang ada di Sidoarjo sebesar 500 ribu per bulan. Bahkan membayarkan iuran BPJS ketenagakerjaan kepada para pelayan masyarakat ini. Sehingga saat ada BSU (Bantuan Subsidi Tunai) dari BPJS Ketenagakerjaan Kabupaten Sidoarjo berhasil memberikan hadiah kepada ribuan pelayan masyarakat di Kabupaten Sidoarjo dengan gratis.

Konsep pembangunan di tingkat RT, menjadi salah satu konsep yang digagas oleh Pemerintah Kabupaten Sidoarjo. Konsep self government ini menjadi andalan Kabupaten Sidoarjo dalam melayani masyarakat luas. Untuk lomba RT se Kabupaten ini Pemkab Sidoarjo merogoh kocek dari APBD lebih dari 1,5 Milyar rupiah. Karena RT terbaik di Kabupaten Sidoarjo akan mendapatkan hadiah 300 juta, untuk 5 katagori lomba yang dipertandingkan. RT Jimpitan, RT Sehat, RT Berbudaya, dan RT Mandiri.





Bahkan Bupati dan Wakil Bupati terpilih yang baru, Subandi Mimik, menambahkan bantuan di tengah masyarakat itu sebesar 500 juta per tahun, yang akan ditambahkan kepada dana desa 2 M lebih yang sebelumnya telah diterima oleh desa, dari Pemerintah Pusat.


Inspirasi Pembangunan Dari Masa Lalu

Sebuah kakawin lama yang berusia lebih dari 700 tahun, yang ditemukan di wilayah Sidoarjo, menyebut-nyebut konsep pembangunan Desa Warnana, sebagai sebuah basis dasar pembangunan negara.

Dalam konsep Desa Warnana itu, dikenal konsep bahwa Pembangunan negara itu berasal dari Desa.

Desa desa dan wilayah khusus tertentu, memiliki fungsi yang khusus bagi Negera. Konsep Desawarnana dalam Negara Kertagama ini menghargai kekhususan fungsi desa atau satuan wilayah dalam negara. 




Negarakertagama misalnya, mengangkat fungsi khusus, 8 desa penyedia makanan untuk negara.

Dalam Pupuh ke 20, dokumen sakral yang diakui oleh Unesco sebagai Memory Of The World sejak tahun 2013 itu, disebutkan ada 14 desa yang memiliki fungsi yang khusus untuk negara disamping fungsi umum. Fungsi sebagai penjaga negara dalam membentengi nilai-nilai Ketuhanan misalnya, dituliskan sebagai man pancar prasamansya atau digambarkan fungsinya di dekat lokasi biara; Dalam pemahaman bahwa ke-14 desa ini adalah desa yang menjaga fungsi umum relasi ruhani kepada Tuhan Yang Maha Esa.

 Sementara dari ke-14 desa itu ada yang fungsinya adalah sebagai fungsi khusus sebagai penyebab enghasil sumber makanan untuk negara, jumlahnya ada 8 desa dari 14 desa tersebut. Tidak semua desa kemudian dijadikan atau disebut sebagai desa sumber makanan negara.


Pupuh 20

    1. Praptaɳ deça kasogatan / sahana mawwat bhakta pane haji, pratyekanya gapuk sadewi çisayen içanabajrapageh, ganten poh capahan kalampitan iɳ lumbaɳ len / kuran we ptaɳ, mwaɳ pañcar prasamança niɳ kuti munguh kapwa taçraɳ mamark.

    2. Milwaɳ deça ri tungilis pabayeman / rowaɳnya nekapupul, rehnyançe kuti ratnapankaja hane caccan kabhuktyapateh, nahan ta pabalas / kasogatan an ançangehnya kuww apageh, bhukti- (102a) nyan pan akaryya kawwalu huwus tinkahnya nuni danu.

Artinya:

1. Sampai di desa kasogatan Baginda dijamu makan minum, Pelbagai penduduk Gapuk, Sada, Wisisaya, Isanabajra, Ganten, Poh, Capahan, Kalampitan, Lambang, Kuran, Pancar, We Petang, Yang letaknya di lingkungan biara, semua datang menghadap.

2. Begitu pula desa Tunggilis, Pabayeman ikut berkumpul, Termasuk Ratnapangkaja di Carcan, berupa desa perdikan, Itulah empat belas desa kasogatan yang berakuwu, Sejak dahulu delapan saja yang menghasilkan bahan makanan.


Baca Juga : 

1,5 Milyar disiapkan Gus Muhdlor untuk Lomba RT Sidoarjo

Ada Sinar Baja Di RT Seluruh Sidoarjo

 

Tulisan negarakertagama ini menggambarkan pengaturan fungsi desa yang sedemikian rapi, sekaligus memberikan fungsi khusus yang khas untuk setiap desa. Tidak bergaya gebyah uyah sebagaimana yang digunakan pendekatan pembangunan saat ini. Fungsi kekhususan desa dihargai dan dikembangkan, tidak sembarangan direplikasi, akan tetapi diperdalam fungsi khas nya dan ditemukan fungsi terbaiknya untuk negara. Tidak semua desa dipaksa jadi penghasil makanan untuk negara. Hanya 8 dari 14 desa, nyan pan akaryya kawwalu huwus tingkahnya nuni danu. 

Pemerintahan Orde Baru adalah contoh yang mencoba membuat banyak replikasi di seluruh wilayah desa di tanah air. Dengan term term yang sangat kental dengan nuansa khas lokasi geografis tertentu. Program Kredit Usaha Desa (KUD/BUUD) bergaya gebyah uyah yang dicanangkan untuk mengembangkan ekonomi desa lewat Koperasi misalnya, berakhir pada kerugian negara lebih dari 8 Triliun rupiah. Kredit Usaha Tani sebesar 8 Trilyun menguap tak kembali ke negara. 

Salah satu pejabat Koperasi kepada Informatika News Line, bahkan menunjukkan betapa ganjilnya pengelolaan kredit ratusan Milyar rupiah KUD/BUUD yang disalurkan pada saat itu. 

"Lho kita ikut mengaudit itu semua dana-dananya itu, ....itu uangnya tidak sampai kepada petani kok ... itu berhenti di salon dan di sanggar-sanggar senam... " kata pejabat Dinas Koperasi yang menolak disebutkan namanya ini, tanpa menjelaskan lebih lanjut apa maksud pernyataannya tersebut.


Membidik Fungsi Khas Sebuah Wilayah (Baca : Desa atau RT)

Sungguh cerdik negara dalam mengatur fungsi desa, yang disebutkan dalam Desawarnana ini. Setiap desa atau wilayah memiliki fungsi yang khas dan punya kekhususan bagi negara. 

Pada pupuh 21 dan 22 ditunjukkan, fungsi desa dan wilayah, sebagai arah atau kompas. Wilayah yang memiliki fungsi arah ini adalah Kota Rembang, seperti fungsi bintang-bintang di langit yang memberikan arah perjalanan, bahkan bagi Sang Hayam Wuruk, Sang Raja.

Fungsi perbatasan diperankan oleh desa Kemirahan, sebuah desa perbatasan yang disebut-sebut dalam Desawarnana nya ini, saat rombongan raja menuju Kota Rembang.

Desa-desa dari wilayah Kemirahan menunjukkan fungsi kenyamanan tersembunyi (Desa Dampar dan Desa Patunjungan) yang dilambangkan dengan mekarnya bunga tunjung, bunga teratai, dan berlimpah nya sumber daya alam udang di lokasi ini, bukan lokasi yang desa atau wilayah yang lain 

Juga desa Wedi, desa Guntur (yang lokasinya tersembunyi di tepi jalan), wilayah Kasogatan Bajraka, wilayah Taladwaja, dan juga wilayah Patunjungan yang menjadi lokasi sumber daya manusia ahli peperangan. Sumber lokasi para prajurit tangguh di peperangan, bagi Negara.


Pupuh 21

    1. Byatiteñjiɳ mankat / caritan ikanaɳ deça kawahan, riɳ lo pandak ranwakuniɳ i balerah barubare, dawöhan lawan kapayeman i telpak / ri barmi, sapan kapraptan / mwaɳ kasaduran anujwiɳ pawijunan.

    2. Juraɳ bobo runtiɳ mwan i pasawahan teki kahnu, muwah prapteɳ jaladi patalap ika mwaɳ ri padali, rin arnnon lawan pangulan i payaman / len tepasana, tkeɳ rmbaɳ prapte kamirahan i pingir nin udadi.


Baca Juga : 

Politik Partisipatoris Gus Muhdlor Dalam Lomba RT Seluruh Kabupaten Sidoarjo 2024

Artinya:

1. Fajar menyingsing; berangkat lagi Baginda melalui, Lo Pandak, Ranu Kuning, Balerah, Bare-bare, Dawohan, Kapayeman, Telpak, Baremi, Sapang serta Kasaduran, Kereta berjalan cepat-cepat menuju Pawijungan.

2. Menuruni lurah, melintasi sawah, lari menuju, Jaladipa, Talapika, Padali, Arnon dan Panggulan, Langsung ke Payaman, Tepasana ke arah kota Rembang, Sampai di Kemirahan yang letaknya di pantai lautan.


Pupuh 22:

    1. I dampar i patuñjunan / nrpati lalana mahawan i tiraniɳ pasir, amurwwa hnu tut / hni ratarata nika magnet timbah iɳ ratha, araryyan i samipaniɳ talaga seh çarasija tarate pada skar, jnek mihat i posikiɳ makara riɳ wway ahnin i dalmnya waspada.

    2. Ndatan wicaritan kalanwan ikanan ranu masurawayan lawan tasik, riyankatira sah dataɳ ri wdi ri guntur asnet i samipaniɳ hawan, kasogatan i bajrakança ri taladwaja tlas apageh cinarccaken, dulurnya ri patuñjunan / kaslan i bala turun umulih mareɳ kuti.

    3. Yatekha hinalintanan / muwah amurwwa matut alas i tiraniɳ pasir, (102b) araryyan irikaɳ palumbwan aburu ksana lumaris i linsiriɳ rawi, bhawisya hilintaniɳ lwah i rabut / lawan anuju surud nin ampuhan, lurah ri balater / linakwanira lalana mamegil i tiraniɳ pasir.

    4. Rin eñjin ahawan kunir basini saksana datn i saden siramgil, piraɳ wni kuneɳ lawasnira jnek / mamnamn i sarampwan aɳlnöɳ, ri sahnira wawaɳ tke kura bacok / narapatin awilaça riɳ pasir, jnek lumihat iɳ karaɳ kinasut iɳ ryyak asirasirat anhirib / jawuh.

    5. Tuhun rakhawi tan mare kuta bacok / dumadak anut i simpanin hawan, anuttara sake sadeɳ mahawan iɳ balun anuju ri tumbu len habet, muwah ri galagah ri tanpahin anantya mgil i rnes apty anankila, amogha kapapag / narendra mahawan / jayakrta ri wanagriyalaris.


Artinya:

1. Di Dampar dan Patunjungan Sri Baginda bercengkerma menyisir tepi lautan, Ke jurusan timur turut pasisir datar, lembut-limbur dilintas kereta, Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga, Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya.

2. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan, Danau ditinggalkan, menuju Wedi dan Guntur tersembunyi di tepi jalan, Kasogatan Bajraka termasuk wilayah Taladwaja sejak dulu kala, Seperti juga Patunjungan, akibat perang, belum kembali ke asrama.

3. Terlintas tempat tersebut, ke timur mengikut hutan sepanjang tepi lautan, Berhenti di Palumbon berburu sebentar, berangkat setelah surya larut, Menyeberangi sungai Rabutlawang yang kebetulan airnya sedang surut, Menuruni lurah Balater menuju pantai lautan, lalu bermalam lagi.

4. Pada waktu fajar menyingsing, menuju Kunir Basini, di Sadeng bermalam, Malam berganti malam Baginda pesiar menikmati alam Sarampuan, Sepeninggalnya beliau menjelang kota Bacok bersenang-senang di pantai, Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti Hujan.

5. Tapi sang rakawi tidak ikut berkunjung di Bacok, pergi menyidat jalan, Dari Sadeng ke utara menjelang Balung, terus menuju Tumbu dan Habet, Galagah, Tampaling, beristirahat di Renes seraya menanti Baginda, Segera berjumpa lagi dalam perjalanan ke Jayakreta-Wanagriya.


Baca Juga :

Bupati Sidoarjo : Percepat Pembangunan Lewat RT

Seluruh isi Negarakertagama Desawarnana ini memberikan sebuah pembelajaran penting, bahwa fungsi desa itu tidaklah sama, akan tetapi memiliki fungsi khas yang berbeda-beda.

 Fungsi khas desa untuk negara ini ditulis dengan sangat cermat di dalam Negara Kertagama, sebuah karya yang luar biasa. Yang bahkan diakui oleh UNESCO sebagai Memory Of The World. Yang sayangnya bahkan di dalam negeri tak difahami apa makna sebenarnya Desawarnana Negara Kertagama ini.

Semua ahli pembangunan dengan mudahnya membuat perencanaan pembangunan. Membuat semua desa didisain sebagai sumber pangan. Padahal di tanah ini, sudah diajarkan sejak 700 tahun yang lalu, cara perencanaannya tidak seperti itu. 

Tiap desa ditemukan dulu fungsi sejati nya untuk negara. Tidak semua pemuda yang membayar bisa menjadi prajurit. Hanya yang berasal dari wilayah Kasogatan Bajraka, Taladwaja saja, bukan dari lokasi lain yang bisa menjadi penjaga negara. Jika itu dilakukan niscaya lemahlah negaranya. Karena menusia dengan fungsi tertentu yang khas salah tempat.  

Sayang tak banyak atau bahkan tak ada yang mengangkat nilai ajaib dalam Desawarnana ini untuk kaidah pembangunan negara modern ini. 

Tapi sebagai sebuah inisiatif penghargaan kepada RT yang berprestasi, pendekatan yang dilakukan oleh Pemkab Sidoarjo ini patut diacungi jempol. Apalagi jika insentif untuk Pak RT Wahyu dinaikkan bukan hanya 500 ribu, untuk apa uang 500 ribu jaman sekarang ini.

Insentif ketua RT di Sidoarjo mungkin bisa usul untuk dinaikkan sampai 20 juta rupiah se bulan. Atau 30 juta saja satu bulan. Tidak mungkin tidak mampu. Sumber kekayaan alam Sidoarjo bernilai puluhan bahkan ratusan Trilyun. Sebut saja rare earth element yang ada Lumpur Sidoarjo, berapa trilyun itu jika dilakukan pengolahan. Jangankan pengolahan mendekati dan mengambil sampel lumpur saja, bisa dikejar-kejas dan ditangkan oleh BPLS (Badan Pengelola Lumpur Sidoarjo). Seharusnya hal-hal seperti itu dihapuskan terlebih dahulu. Agar kemakmuran di depan mata ini tidak terhambat berhenti berkembang.

Paling tidak dengan dana yang cukup, sebesar itu Pak RT Wahyu bisa menjawab dengan tepat jika ditanyakan kenapa di wilayah RT nya, masih ada warga yang menganggur, tidak bekerja, tidak sekolah, stunting, atau bahkan terlantar.

Bahkan kalau insentif nya mencapai 50 juta rupiah, Pak RT Wahyu boleh ditanya oleh para wakil rakyat DPRD Kabupaten Sidoarjo, kenapa di wilayah RT nya ada warga nya yang tidak bahagia hidup di dunia dan di akhirat. Bahkan menjadikan pekerjaan Pak RT pun bersambung menjadi pekerjaan akhirat, bukan hanya dunia saja.

(SJH)













Lebih baru Lebih lama