Teheran, Informatika Online, Rubrik Figure
Koresponden
Tabloid Informatika di Ibukota Iran Teheran bertemu dengan mantan
Menteri Luar Negeri Iran Manouchehr Mottaki dan berbincang tentang
kebijakan politik luar negeri Iran, serta berkomentar tentang aksi
pengeboman bunuh diri ISIS global termasuk di Indonesia.
Manouchehr
Mottaki selain pernah menjadi Menteri Luar Negeri di era Presiden Iran
Ahmadimejad, juga pernah menjadi calon kuat Presiden Iran. Saat ini
Mottaki menjadi Deputy Internasional Forum Dunia Pendekatan Antar Mahzab
Islam.
Bertemu
dengan Tabloid Informatika dari Indonesia, Manouchehr Mottaki,
menunjukkan respek dan penghormatan yang besar pada Indonesia. Mottaki
berkantor di dekat Kedutaan besar Amerika Serikat yang kosong setelah
konflik Syah Reza Pahlevi, Penguasa Iran sebelum Revolusi Iran, di
tengah kota Teheran.
Manouchehr
Mottaki mengatakan bahwa negeri-negeri besar seperti Indonesia dan Iran
adalah representasi dari masa depan perdamaian dunia. Menurut Mottaki,
Indonesia adalah representasi negeri Sunni dan Iran adalah representasi
Syi'ah. Eksistensi hubungan persahabatan antara Indonesia Iran adalah
contoh bagus hubungan antar berbagai pandangan mahzab dalam Islam. Islam
adalah satu akan tetapi tidak menutup kemungkinan berbagai perbedaan.
Perbeadaan yang muncul adalah hal yang wajar terjadi.
Akan
tetapi, menurut Mottaki, ISIS adalah contoh kehebatan Islam yang
diselewengkan. Keberanian untuk menghadapi permasalahan dengan bahkan
berkorban dengan jiwa adalah inti ajaran Islam.
“Sayangnya
ISIS salah mengarahkan sasaran perjuangannya. Jika perjuangannya
diarahkan ke negeri negeri Zionis mungkin bisa difahami. Akan tetapi
perjuangan ISIS ini diarahkan ke negeri Islam sendiri…” kata Mottaki
kepada Informatika, “Inilah The Sad Stories About ISIS. Kisah
menyedihkan dari perjuangan ISIS.”
Mottaki
juga menyayangkan arah orientasi ISIS yang salah sasaran. ISIS
menyerang semua penganut agama Islam di seluruh dunia. Tidak pandang
bulu. Bahkan cenderung tidak menyukai pluralisme atau keragaman dalam
beragama Islam. ISIS menyerang Sunni dan Syiah bahkan menyukai jika
Sunni Syiah bermusuhan.
Para
pengikut ISIS seharusnya datang dengan baik baik ke kita (Syiah dan
Sunni) nanti akan diajarkan memahami orientasi perjuangan yang benar.
Siapa musuh yang sebenarnya. Jangan teman malah diserang, nanti
musuh-musuh Islam jadi gembira.
Keberanian
untuk mengorbankan nyawa untuk kebenaran dan hak juga kita miliki
(Sunni dan Syiah). Inti ajaran untuk berani berkorban itu juga kita
miliki. Yang perlu dipelajari oleh ISIS lebih lanjut adalah mentukan
sasaran lanjutan yang lebih tepat. Jangan menyerang negeri Islam dan
orang orang Islam sendiri. Orang Islam Sunni dan Syiah tidak takut mati
sama seperti mereka. Tapi lihat dulu siapa yang diserang, tidak
serampangan.
Mottaki
menutup pembicaraannya dengan Informatika seraya memuji koresponden
yang sempat membeli karpet yang menjadi andalan karya seni Iran di
dunia.
”
Istana Tsar di Rusia, menggunakan karpet yang dibuat langsung oleh para
pengrajin seni Iran. Dan Karpet Iran adalah salah satu bukti bahwa
bangsa Persia adalah bangsa yang cinta perdamaian, tidak suka berperang
sebagaimana yang sering digembar gemborkan seolah bangsa Persia hobby
membuat rusuh dan peperangan.” kata Mottaki dengan ramah.
Dalam
catatan pemerintah Iran lebih dari 17 ribu orang meninggal akibat
serangan teroris selama lebih dari 36 tahun terakhir. Perwakilan resmi
Iran di PBB mencatat lebih dari 31 ribu tentara teroris ada di seluruh
dunia saat ini dan mengancam peradaban umat manusia modern saat ini
(vijay).
Baca Juga :
Baca Juga
