Selamat Ulang Tahun Ndoro Tuan, Raja Willem Alexander

Selamat Ulang Tahun Ndoro Tuan, Raja Willem Alexander



Bandung, 27 April 2026
Aneh sekali, tanggal 27 April ini, banyak orang memakai baju berwarna Oranye. Apa ada razia penangkapan koruptor besar-besaran oleh KPK ?
Tapi pemakai baju oranye ini tidak berwajah sedih, pilu atau malu. Mereka bahkan "pencilakan" bergembira ria, tak sadar bahwa mata KPK masih mengintai.

Sedikit lengah, kena OTT. Bahkan OTT sekarang pun tak perlu barang bukti banyak yang langsung dibawa oleh yang ditangkap. OTT ya OTT. Dari sebuah definisi yang punya makna yang jelas, sampai berubah pelan-pelan menjadi definisi yang absurb, yang penting OTT lah.

Tapi semakin berjalan lebih jauh, semakin banyak orang yang memakai baju oranye. Bahkan ini satu lapangan penuh, memakai baju oranye semua. Tak mungkin kalau mereka ini semua adalah pesakitan KPK atau Kejaksaan Agung. 

Tapi ini bukan di Magetan, yang menangkap pesakitan terdakwa Korupsi Ketua dan Anggota DPRD, atau di Tulungangung yang bahkan memaksa Pak Bupati memakai baju oranye, tapi bahkan Walikota dan para pejabat di sini bergembira memakai baju oranye KPK atau kejaksaan dengan penuh kebanggaan, tak ada rasa malu atau sedih, tapi gembira dan penuh kebanggaan, aneh.


Oh ya lupa, ternyata lautan manusia,  memakai baju oranye ini bukan ada di Jakarta atau Bandung, tapi di Netherland, di Belanda. Salah satu sohib Informatika News Line, Tessa Sitorini, jurnalis dan penulis kampiun yang sekarang tinggal di Belanda itu, menceritakan betapa meriahnya Belanda dengan warna oranye, Minggu (26/04) kemarin.

Tessa menceritakan bahwa tanggal 27 April adalah perayaan Ulang Tahun Raja Belanda. Raja Willem Alexander, yang wajahnya ganteng dan tubuhnya terlihat gagah perkasa. Istrinya Ratu Maxima, cantik sekali. Seandainya Bung Karno tidak membacakan text Proklamasi tahun 1945 yang lalu, mungkin di seluruh Indonesia akan berwarna oranye juga seperti Belanda, hari-hari ini.

"Ada apa ?"
"Masak tidak tahu ? Ndoro tuan Ulang tahun... Ndoro Tuan Raja Willem Alexader...."




Setelah keris Pangeran Diponegoro dikembalikan ke Jakarta oleh Raja Belanda, semua orang pun sudah lupa, rentetan tragedi pada masa Kolonialis Belanda, kurang dari 100 tahun yang lalu. Tapi kelebat sinar mata Sultan Agung Hanyokrokusumo dan Pangeran Diponegoro, tak akan melupakan itu semuanya.

" Isih enak jaman ku tho...."
maksudnya jaman penjajahan Belanda, bukan Orde Baru.

Beberapa pemimpi masih menganggap jaman penjajahan lebih enak dibandingkan jaman Republik yang semuanya serba mahal tak terjangkau seperti sekarang ini, eh sekarang sudah enggak ya ? Pengangguran ada di mana-mana dan pekerjaan sulit dicari, eh sekarang sudah enggak ya ? Berhenti dulu sarkas nya, sebentar saja.


Tanggal 27 April, di negeri Belanda dikenal sebagai Koningsdag, Konings itu Raja, dag itu hari. Jadi Koningsdag adalah King's Day, Hari Sang Raja, atau ulang tahun Sang Raja. Tanggal 27 April adalah King's Day atau Koningsday, hari sang Raja.
 


Memang raja ganteng Willem Alexander berulang tahun tanggal 27 April, menggeser Ratu Belanda sebelumnya, Ratu Juliana yang berulang tahun setiap tanggal 30 April, bukan tanggal 29 April yang merupakan hari lahir musuh bebuyutan Belanda, Raja Jepang, Kaisar Hirohito yang sudah wafat tahun 1989-an yang lalu, ulang tahun Kaisar Hirohito, setiap tanggal 29 April.

Perayaan ini dimulai sejak tahun 1885 pada saat Belanda dipimpin oleh Raja Willem III (Willem Alexander Paul Frederik Lodewijk) (wafat 1890), dengan nama Prinsessedag atau Hari Putri. Sang Raja Willem III sangat mencintai putri Wilhelmina, sampai-sampai lima tahun sebelum wafatnya dibuatkan perayaan khusus untuk putri nya dengan perayaan Prinsessedag. 

Raja Willem III sadar bahwa setelah dirinya wafat, Belanda akan dipimpin oleh sejumlah Ratu, menjadi sebuah kebiasaan baru, yang sebelumnya selama ratusan tahun, wilayah Belanda selalu dipimpin dan dikuasai oleh Raja laki-laki atau penguasa laki-laki. Putri Wilhelmina adalah masa depan baru Kerajaan Belanda dipimpin seorang wanita. Raja Willem Alexander sendiri baru naik tahta pada tahun 2013, mengakhiri puluhan tahun negeri Belanda dipimpin oleh seorang Ratu.

Belanda merayakan Prinsessedag, ulang tahun Putri Wilhelmina (Wafat 1962) setiap tanggal 31 Agustus. Dan perayaan pertama ini dilakukan Wilhelmina, saat masih menjadi calon ratu Belanda. Setelah Wilhelmina naik takhta (1890 dan dinobatkan pada 1898) menjadi ratu, tradisi Prinsessedag ini terus berlanjut. Ketika Ratu Juliana menggantikan Ratu Wilhelmina pada tahun 1948, tanggal perayaan diubah menjadi 30 April, sesuai dengan hari ulang tahun Ratu Juliana.



 

Pada masa Ratu Juliana (wafat 2004) perayaan Koninginnedag (Queen’s Day) berkembang menjadi lebih meriah. Tradisi seperti pasar bebas (vrijmarkt), pesta jalanan, dan pertunjukan musik mulai menjadi bagian penting dari perayaan. Ketika Ratu Beatrix berkuasa dari tahun 1980 hingga 2013, tanggal perayaan tetap dipertahankan pada 30 April, meskipun ulang tahun Ratu Beatrix  sebenarnya jatuh pada bulan Januari. Ratu Beatrix sangat menghormati ibunya, Ratu Juliana. Sehingga tak perlu merubah perayaan tanggal 30 April ke hari lahir Ratu Beatrix, 31 Januari.   

Salah satu tradisi paling menarik adalah vrijmarkt, yaitu pasar bebas. Ini adalah satu-satunya hari di mana warga boleh berjualan di jalan tanpa izin. Anak-anak hingga orang dewasa menjual berbagai barang, mulai dari mainan bekas, pakaian, buku, hingga makanan rumahan. Seluruh kota berubah menjadi pasar loak raksasa yang penuh warna dan kejutan. Sejak 2025, hanya berjualan daging yang memerlukan izin dari pemerintah setempat. Bayangkan jika tradisi ini dijalankan di Indonesia, pasti Asosiasi pedagang seperti Apmiso, Pedalindo, Markaz, dan lain-lain akan dengan penuh kegembiraan mengkapling jalan dan alun-alun, untuk kepentingan anggota pedagang jalanan di bawah mereka. 

" Ini kapling Pedalindo, ini punya Markaz, Ini Punya PP, Ini Punya Karang Taruna..." Belum dimulai vrijmarkt sudah ribut duluan... di Belanda, pada hari itu tidak boleh ribut,  berebut tempat jualan, semua boleh jualan, tidak boleh ada yang sok mengatur-atur....
 

Tidak ada sudut kota yang benar-benar sepi saat Koningsdag. Musik terdengar di jalanan, taman, dan bahkan di atas perahu di kanal-kanal. Banyak orang berkumpul untuk menari, bernyanyi, dan menikmati suasana. Di Amsterdam, kanal-kanal dipenuhi perahu yang berubah menjadi “panggung terapung” tempat orang berpesta.

Selain pesta jalanan, ada juga festival besar seperti Kingsland Festival, yang menghadirkan DJ dan musisi terkenal. Festival ini diadakan di beberapa kota besar dan menjadi magnet bagi pengunjung dari dalam maupun luar negeri. Para penulis bahkan mentasbihkan Kings Day Belanda ini sebagai salah satu acara perayaan paling besar yang dilakukan di Eropa setiap tahunnya.

Vijay

 

 

 

 

 

Lebih baru Lebih lama