Selamat Menempuh Kembali Perjalanan Di Alam Yang Baru

 Selamat Menempuh Kembali Perjalanan Di Alam Yang Baru



 

Seribu Karya Merdu Suara Maestro

Sudarwati, Titiek Puspa, meninggal pada usia 87 Tahun. Lahir pada 1 November 1937 dari pasangan Tugeno Puspo Widjojo dan Siti Mariam. Titiek Puspa sudah berkarier sejak masa Presiden Pertama RI Soekarno (1954). Ratusan karya Titiek Puspa mendampingi khazanah seni musik, film, theater Indonesia.

Titiek Puspa adalah nama samaran yang dipilih agar ayahnya, kedua orang tuanya,  tidak mengenali ketika sedang menjalani hobby nya sebagai biduan yang merdu suaranya. Nama asli Titiek Puspa pun tenggelam hilang digantikan nama samaran yang kemudian membesarkan nya di dunia seni Nusantara. Bukan itu saja, bahkan cita-citanya menjadi guru pengajar anak-anak di TK pun tenggelam oleh hobby seni suara merdu nya.




" Menjadi penyanyi itu menurunkan derajat keluarga..." kata ayahnya melarang Titiek Puspa yang merdu suaranya menjalani hobby nya.

Akan tetapi pada tahun 1963, pada saat Titiek Puspa diperintahkan oleh Presiden Soekarno berangkat ke Papua Irian Jaya, Titiek Puspa terkejut, karena profesi penyanyi yang kata ayah dan keluarga besarnya akan menurunkan derajat keluarga itu bahkan berbalik memberikan derajat yang tinggi di hadapan Bangsa dan Negara. 

Suara emas Titiek Puspa pada tahun 1963 berhasil membuat ribuan warga Papua luluh dan bersedia kembali ke Pangkuan Republik Indonesia. Sejumlah warga Papua yang sebelumnya disihir oleh Belanda untuk memberontak dan mendirikan Papua Merdeka, menikmati lagu-lagu indah dari Indonesia Timur, dari Ambon yang dilantunkan dengan merdu oleh Titiek Puspa. Sejumlah warga Papua itupun kemudian membubuhkan tanda dukungan, tanda tangan, untuk kembali bergabung dengan Republik Indonesia. Ribuan warga Papua yang mendengarkan lagu-lagi merdu Titiek Puspa pun menitikkan air mata dan meminta agar Titiek Puspa tidak meninggalkan Papua dan bersedia tinggal bersama rakyat Papua.

Politik seni yang dijalankan oleh Presiden Soekarno dalam melawan sihir kolonial Belanda, dan dijalankan dengan sukses oleh Titiek Puspa, sebenarnya pantas membuat si pembuat "turunnya derajat keluarga" ini mendapatkan gelar Pahlawan Nasional. Politik seni yang dibawa oleh Titiek Puspa terbukti menjadi senjata yang jauh lebih kuat dari altileri dan alat perang yang saat itu bahkan jauh tertinggal dari teknologi perang yang dimiliki oleh Belanda. 

Informatika News Line mengusulkan per tanggal 10 April 2025, melalui usulan terbuka, per tanggal kepergian Titiek Puspa ke alam baru, kepada Pemerintah, agar memberikan gelar Pahlawan Nasional di bidang musik. Terutama dalam peran nya dalam mengajak warga Papua kembali dan bebas dari sihir kolonial Belanda yang memberikan janji-janji palsu kepada rakyat Papua melalui negara bonekanya Papua Merdeka.   

Kepahlawanan Titiek Puspa di Tanah Papua ini memang luar biasa.

Akan tetapi ada lagi yang lebih mengejutkan warga dunia dan kemanusiaan, bukan hanya warga lokal dalam negeri. Pada saat Titiek Puspa didiagnosa terkena kanker cervics. Kekuatan nya dalam menciptakan lagu berhasil mengusir bersih kanker cervics dari tubuhnya. Petikan laporan Jakarta Post pada 13 Januari 2010 yang lalu menggambarkan betapa dramatisnya perjuangan Titiek Puspa dalam melawan kanker serviks yang menyerangnya. 

Kekuatan seni yang selama ini digeluti bahkan digunakan tanpa disadari oleh Titiek, dan pengerahan daya kekuatan seni itu membuat Kanker Serviks pun hilang dari tubuhnya tanpa bekas. Kekuatan lagu yang dibawakan oleh Titiek Puspa bahkan berhasil membuat Papua Merdeka kembali ke Republik Indonesia, dan bahkan membuat jejak penting kemanusiaan dalam upaya menghadapi serangan global kanker di seluruh dunia. 


The Jakarta Post : Having been diagnosed with cervical cancer, veteran singer and composer Titiek Puspa has refused to bow down, saying she wants to remain productive. 

“She never parts from her work,” Titiek’s daughter, Petty Tunjungsari, said Monday as quoted by entertainment news portal kapanlagi.com. 

“In the two months she spent at Mount Elizabeth Hospital in Singapore she wrote 61 songs of various genres.” 

Titiek is currently undergoing chemotherapy in the city-state. “She’s very optimistic and willing to positively go through the treatment, despite having to go back and forth to the hospital,” Petty said. 

“She’s had four chemo sessions and 24 radiations so far.” 

The 72-year-old singer, popular in the 1960s and 1970s, just wants to kill time productively while she’s away from the local music scene, Petty added. 

“She enjoys composing songs, whether it’s the music or the lyrics. It doesn’t feel like work at all for her. It’s just her way of being.”

 

Menciptakan 61 lagu pada saat berada di Singapura, pada akhir tahun 2009-an, adalah awal penyembuhan dari dalam yang dilakukan oleh Titiek Puspa, yang bahkan tanpa disadari bagaimana prosesnya oleh Titiek sendiri. Belakangan ada 13 hari yang juga dikenang, karena upaya penyembuhan dengan pendekatan pengobatan tradisional berhasil menuntaskan penyembuhan kanker nya. Akan tetapi pengobatan tradisional yang terakhir hanyalah penutup dari terusirnya penyakit ganas dari Titiek Puspa, yang bahkan sampai saat ini tidak ada obat yang mampu menyembuhkan total.  

Titiek Puspa divonis terkena kanker serviks di Singapura pada akhir Oktober 2009, yang kemudian setelah berobat selama 2,5 bulan, malah membuat peyakitnya bertambah parah. Dari stadium 1 atau stadium 1,5 menjadi stadium 3 atau kankefr stadium 4. 

Selama 2,5 bulan di Singapura itu, Titiek Puspa meniptakan 61 lagu. Daya pembuatan karya lagu itulah yang menjadi pembuka awal dari proses penyembuhan kanker serviks nya total. 

Pada tanggal 7 Januari 2010, Titiek Puspa pun memutuskan kabur dari Singapura kembali ke Jakarta. Menginjakkan tanah kembali di Jakarta, membuat proses penyembuhan kanker Titiek, menuju titik akhir serangan kanker serviks nya tersebut. 

Sebuah terapi tradisional selama 13 hari kemudian menutup dan membersihkan seluruh kanker serviksnya. Pengobatan tradisional ini menjadi efektif setelah energi pembuatan 61 lagu pada saat di Singapura, membantu daya sembuh internal Titiek munul. Apa yang kata para ilmuan kedokteran disebut sebagai virtual prozact.

Pada Akhir Maret 2010 Titiek Puspa kembali ke Singapura dan membuat geger rumah sakit di Singapura. Seluruh sel kanker yang sebelumnya telah berkembang menyebar menjadi kanker stadium 4 di tubuh Titiek itu, hilang tanpa bekas begitu saja, dari seluruh indikator kanker yang digunakan oleh dokter-dokter ahli di Singapura. Model terapi penghapusan kanker yang dilakukan oleh Titiek bisa menjadi sebuah inspirasi baru pada upaya menghapus dan menaklukkan serangkan penyakit kanker. 

 

Laporan : Vijay     


Baca Juga 

A Dose Of Virtual Prozac

Dukun Sakti Ponari Pun Kuliah Apoteker Di Universitas Anwar Medika

Menemukan MISSING LINK Manusia 

Selamat Menempuh Kembali Perjalanan Di Alam Yang Baru

 

Lihat

1. Perkakas Batu 3 Juta Tahun Yang Lalu

2. Temukan Nenek Moyang Manusia Dari. Balkan Bukan Lagi Dari Afrika

3. Pembunuhan Pertama 430 ribu Tahun Yang Lalu ?

4. India Hapus Teori Evolusi Di Sekolah

5. "Manusia "  Ber DNA Baru






 


 













Lebih baru Lebih lama