Sambut Lailatur Qadar Dan Iedul Fitri : PLN Siagakan Ribuan Posko Siaga, Ribuan Genset, Hampir 70 ribu Special Force Anti Gangguan Listrik

 Sambut Lailatur Qadar Dan Iedul Fitri : PLN Siagakan Ribuan Posko Siaga, Ribuan Genset, Hampir 70 ribu Special Force Anti Gangguan Listrik

69 ribu Special Force, siaga di 3.830 posko siaga, didukung 1.839 genset, 636 UPS, 1.276 gardu bergerak, 348 crane, dan lebih dari 9 ribu kendaraan operasional


Jakarta, Informatika News Line (09/03/2025) 

BUMN plat merah, PT PLN (Persero) menyampaikan kesiapannya menghadapi hari-hari akhir Ramadhan dan Iedul Fitri dengan gelar kesiapsiagaan khusus.

Hampir 70 ribu petugas khusus (Special Force) disiagakan oleh PLN di 3.830 posko di seluruh Indonesia.

Bukan hanya itu saja, PLN juga mempersiapkan 1.839 genset, 636 UPS, 1.276 gardu bergerak, 348 crane, dan lebih dari 9 ribu kendaraan operasional dalam menghadapi detik-detik turunnya Lailatul Qadar tersebut.

Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, dalam siaran pers Minggu (09/03), menyampaikan bahwa pihaknya telah menetapkan Periode Siaga RAFI (Ramadhan dan Iedul Fitri) 2025 yang akan berlangsung mulai 24 Maret 2025 (H-7) hingga 8 April 2025 (H+7).

“PLN membentuk special force yang siaga selama periode Ramadan Iedul Fitri 2025 di lokasi strategis, seperti tempat pelaksanaan sholat ied, bandara, stasiun, terminal, pusat kegiatan masyarakat, dan tempat acara dengan suplai listrik berlapis,” kata Darmawan.

Selama Periode Siaga RAFI 2025 tersebut, Special Force akan bersiaga di 3.830 posko siaga yang tersebar di seluruh daerah. Petugas khusus tersebut dilengkapi dengan 1.839 genset, 636 Uninteruptible Power Supply (UPS), 1.276 gardu bergerak, 348 truk crane, 4.755 mobil dan 4.250 motor operasional.

PLN juga memastikan kecukupan pasokan listrik dengan mengupayakan ketersediaan daya pembangkit selalu berada dalam status normal.

“Kami juga akan menjaga keandalan jaringan transmisi dan distribusi dengan membatasi pekerjaan yang berpotensi menimbulkan gangguan, kecuali dalam kondisi darurat,” ujar Darmawan.

Lebih lanjut, Darmawan menambahkan bahwa PLN telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi untuk memastikan kelancaran pasokan listrik selama periode siaga RAFI. Selain itu, PLN juga akan meningkatkan kesiagaan tim operasional guna mengantisipasi potensi gangguan listrik serta menyediakan layanan pelanggan yang responsif selama periode siaga tersebut.

“Kami telah membentuk satuan tugas khusus yang siap siaga 24 jam untuk menangani gangguan listrik dengan cepat dan memastikan kenyamanan masyarakat dalam beribadah,” pungkas Darmawan.

Data Informatika News Line menunjukkan bahwa sampai akhir tahun 2024 yang lalu PLN melayani hampir 86 juta pelanggan listrik di Indonesia. 

Sebanyak kurang lebih  200 pembangkit listrik dioperasikan oleh PLN dan anak usahanya dengan berbagai teknik pembangkitan listrik mulai dari PLT Air, PLT Surya, PLT Angin, dan sebagainya.

PLN berhasil memproduksi listrik sekitar 63 GW atau 323 ribu GwH lebih (323.320,62 GWh).

Jumlah ini memposisikan Energi yang diproduksi oleh PLN dalam kondisi over supply. Pelanggan PLN dilaporkan hanya  menggunakan listrik sebanyak 288 ribu GWh  setahun (288.435,78 GWh). Hampir 50 ribu GWh listrik PLN per tahun yang gagal dikonsumsi alias gagal jual. 

Meskipun gagal jual, kemampuan produksi PLN ini sebenarnya adalah potensi yang sangat besar untuk pertumbuhan industri dan penyiapan listrik untuk masyarakat.

Energi listrik Indonesia paling banyak dimanfaatkan oleh rumah tangga, yaitu hingga 122.339,69 GWh (Tahun 2023)

Sementara sektor industri mengkonsumsi 88.587,68 GWh, dunia Bisnis  57.112,00 GWh, kegiatan sosial masyarakat mengkonsumsi 11.496,10 GWh, gedung pemerintahan 5.285,12 GWh, serta penerangan jalan umum sebesar 3.615,19 GWh. Secara nasional menurut PLN sebanyak 99,63% masyarakat telah menggunakan energi listrik, meskipun data ini dibuat berdasarkan asumsi data dari pemerintah yang terkadang jauh dari lengkap dan valid. 

Tingkat sebaran penduduk Indonesia yang sangat tinggi dan bisa menempati di mana saja, diantara 17 ribu lebih pulau di Indonesia sebenarnya membantah data-data versi pemerintah ini. Jangkauan layanan PLN sendiri tidak mampu menjangkau 17 ribu titik pulau yang ada di seluruh Indonesia. Sehingga asumsi 99,63 % yang disampaikan tersebut hanya untuk layanan distribusi yang mampu dijangkau oleh distribusi PLN. Tidak semua lokasi pulau di Indonesia yang telah mampu dijangkau oleh layanan PLN ini.

PLN termasuk pembayar pajak yang patuh kepada negara. Hampir 6 Trilyun lebih pajak per tahun dibayarkan oleh PLN Kepada Pemerintah (Ditjen Pajak) pada akhir tahun 2023 yang lalu. Sebanyak 25 Trilyun  rupiah pendapatan PLN digunakan untuk membayar gaji pegawai PLN yang berjumlah lebih dari 51 ribu pegawai di seluruh Indonesia. Dan sebanyak 250 an Trilyun rupiah digunakan untuk membayar hutang dan pemasok PLN (GIW)









Lebih baru Lebih lama