Membaca Serat Jawa Di Kraton Yogyakarta
Yogyakarta, Informatika News Line (12/12/2003)
Salah satu karya Adi luhung yang ada di tanah Jawa adalah Serat. Serat Jawa merupakan karya tulis para sastrawan Jawa. Selama masa penjajahan terdapat banyak karya sastra pujangga Jawa yang dicuri oleh para Penjajah. Banyak dari karya sastra lama Jawa penting, yang saat ini baru bisa dilihat di lokasi Museum di Eropa.
Selain karya seni tulis yang unik di tanah Jawa, beberapa serat yang ditemukan ternyata berhubungan erat dengan perjalanan spiritual para pujangga atau penulis erat karya sastra itu.
Bukan hanya karya para pujangga, tapi raja-raja Jawa juga terkadang memiliki serat yang berisi nasihat penting untuk rakyat atau untuk generasi yang akan datang. Serat Sastra Gending peninggalan Sultan Agung Hanyokro Kusuma misalnya, isinya bukan semata-mata karya seni akan tetapi nasihat penting bahkan berisi strategi penting untuk diikuti oleh raja raja Jawa yang datang kemudian.
Yosodipuro adalah penulis sastra lain yang penting. Serat Centhini, Suluk Tembang Laras, Wedadara, Hardamudha, Wulangreh, Kalathida, Sastrajendra, dan banyak lagi sastra yang lain.
Sastrajendra misalnya adalah salah satu serat luar biasa yang mengangkat kunci kunci penting dalam menjalani kehidupan menuju Tuhan.
Paramayoga adalah peninggalan Ranggawarsita seorang pujangga yang bercahaya dari Keraton Jawa. Banyak sekali karya karya luar biasa Serat Jawa yang isinya sangat berharga dipelajari oleh generasi yang akan datang.
Tampak dalam foto para Abdi Dalem Keraton Yogyakarta membaca serat Jawa. Di Yogyakarta, pembacaan serat biasa dilakukan di lingkungan dalam keraton, setiap hari Selasa dan Kamis. Serat serat tulisan dari para Pujangga Jawa dan Keraton dibaca dalam acara ini.
Keraton Yogyakarta bahkan membuka kesempatan bagi masyarakat luas untuk ikut menikmati acara budaya ini.
Nguri ngiri budaya ingkang Adi luhung
Bagi masyarakat yang tertarik mengikuti acara pembacaan serat, tinggal memasuki kompleks keraton Yogyakarta dengan membeli tiket masuk tentunya. Sambil berjalan-jalan melihat lingkungan keraton bisa melihat juga serat serat Jawa ditembangkan dengan laras Asmorodono, dhandanggulo, maskumambang, atau Laras Pucung.
Maskumambang
Apakah mungkin emas itu "kumambang kambang" ? Emas sejati pasti tidak mengapung di atas air, emas pasti berat dan tenggelam di dasar sungai.
Jika sudah tahu emas itu tidak mengapung, lalu mengapa tidak pernah mencari kesejatian hidup di dasar sungai dunia yang dalam..malah mencari yang ringan dan memuaskan hati hanya untuk sesaat, akan tetapi merusak dan menghancurkan tata dunia yang harmoni yang telah diatur oleh Tuhan Yang Maha Esa........
Dalam dan sangat tinggi makna dan ajaran yang di bawa oleh filosofis serat Jawa yang biasanya membacanya juga diikuti dengan cara menembang (Alexandra/DYN)
