Rusia Kekurangan 660 Ribu Tenaga Kerja, Ada Yang Mau ? Kerja Di Rusia ?

Rusia Kekurangan 660 Ribu Tenaga Kerja, Ada Yang Mau ? Kerja Di Rusia ?



Bandung, Informatika NewsLine (29/08/2023)

Rusia mengalami kekurangan tenaga kerja parah. Wakil menteri Perindustrian dan Perdagangan Rusia, Valery Osmakov  menyatakan bahwa saat ini Rusia membutuhkan 660 ribu orang untuk menggerakkan sektor industri, perdagangan, dan berbagai sektor lain.

Jurnalis independen @AnnaReport menambahkan bahwa Presiden Rusia telah melakukan perubahan aturan penerimaan tenaga kerja resmi untuk usia di bawah 18 tahun. Aturan tentang pekerja anak juga diubah untuk mengakomodir anak anak berusia 14 tahun sebagai pekerja anak.

Beberapa pengamat mengatakan bahwa kondisi kekurangan parah tenaga kerja ini terjadi akibat perang dan sanksi yang diberlakukan Barat pada Rusia. Anehnya dalam kondisi kekurangan tenaga kerja ini tingkat pengangguran di Rusia tercatat sangat rendah. Angka pengangguran di Rusia berada pada rekor terendah hanya 3,6%. Biasanya pada saat krisis, terjadi peningkatan pengangguran, akan tetapi Rusia justru mengalami penurunan tingkat pengangguran. 



Statistik dari bank sentral Rusia, mencatat bahwa satu dari dua perusahaan saat ini menghadapi kekurangan staf. Dalam upaya mengatasi masalah ini, beberapa perusahaan telah menaikkan upah mereka dengan harapan dapat menarik pekerja terampil lainnya.  Kenaikan upah terbesar sejauh ini terjadi pada industri manufaktur,

Sebagai contoh profil pertumbuhan ini terlihat pada produk furniture Rusia. Industri ini memang mengalami penurunan sebesar 4.5% pada bulan April 2022 akan tetapi tiba-tiba melonjak tumbuh sebesar 14.5% sampai April 2023.

Kekurangan tenaga kerja di Rusia mengejutkan sebagian besar ekonom pada tahun 2022. Pada bulan Desember, tingkat pengangguran anjlok ke titik terendah dalam sejarah sebesar 3,6%.

Pada bulan April yang lalu Bloomberg memperkirakan terjadi kenaikan pengangguran antara 4% hingga 9%. Sebagai perbandingan, pada puncak pandemi COVID tahun 2020 yang lalu, tingkat pengangguran Rusia meningkat hingga mencapai 6,5%. 

Profesor UCLA (Universitas Of California Los Angeles) Oleg Itskhoki menggambarkan situasi yang saat ini terjadi di pasar tenaga kerja Rusia sebagai sebuah anomali, salah satu dari beberapa anomali yang teramati selama krisis yang disebabkan oleh sanksi Barat.

Dalam jurnal Ekonomi Regional edisi Januari, analis dari Bank Rusia menyoroti masalah pengangguran dan dampaknya terhadap dinamika ekonomi tahun 2023. Sebagai akibat dari penurunan output agregat, PDB Rusia turun sebesar 1,6% selama sembilan bulan.  Kebutuhan pengusaha pada tenaga kerja menurun sebesar 17,8% pada akhir tahun 2022, dibandingkan dengan tahun 2021.

Akan tetapi anehnya penurunan kebutuhan tenaga kerja ini tidak mengakibatkan peningkatan pengangguran.

Ekonomi Regional menyatakan bahwa hal ini disebabkan oleh sejumlah faktor seperti tingginya tingkat imigrasi, populasi yang menua dan menurun secara alami, 'mobilisasi parsial', eksodus tenaga kerja secara besar-besaran (mencapai 1 juta orang, atau 1,5 % dari angkatan kerja), peningkatan median usia kerja, penurunan hasil produksi dan penarikan perusahaan-perusahaan besar Barat dari pasar Rusia. 

Bank sentral, mencatat hanya 6% perusahaan yang mengidentifikasi mobilisasi sebagai alasan kekurangan staf mereka. 

Faktor lain yang berkontribusi terhadap situasi pasar tenaga kerja ini adalah penggunaan berbagai skema pekerjaan paruh waktu. Namun, menurut survei bank sentral, terdapat penurunan jumlah dunia usaha yang menggunakan skema kerja paruh waktu seperti ini. Skema pekerja paruh waktu turun dari 4,5% di bulan April menjadi 1% di bulan Desember. 

Lokasi Industri teknik mesin, metalurgi, konstruksi dan transportasi saat ini menghadapi kekurangan tenaga kerja terbesar. Profesional dan ahli IT meninggalkan Rusia secara besar-besaran karena perang, mobilisasi, dan gangguan terhadap saluran komunikasi, keuangan dan teknologi dengan negara-negara maju. Sebaliknya, industri pertahanan memperluas tenaga kerjanya untuk mengakomodasi peningkatan pertumbuhan hasil produksi. Bisnis-bisnis di kompleks industri militer Rusia mulai aktif mempekerjakan pekerja manual (tukang kunci, tukang las, perakit, operator mesin, dan pengemudi) serta tenaga teknik dan teknis. Menurut para ahli bank sentral, hal ini menyebabkan meningkatnya ketegangan di pasar tenaga kerja: 'Untuk menarik pekerja, perusahaan-perusahaan ini mulai menawarkan kenaikan upah besar besaran."

Berdasarkan survei, 82% perusahaan terpaksa menerapkan kenaikan upah sepanjang tahun 2022. 74% responden juga berencana menaikkan gaji pekerjanya pada tahun 2023. Kenaikan maksimum upah nominal sebesar +17% year-on-year. 

Masuknya tenaga kerja migran dalam 11 bulan pertama tahun 2022, meningkat sebesar 30%. Akan tetapi peningkatan tenaga kerja migran ini masih menyisakan 600 ribu lebih kekurangan tenaga kerja.

Sementara itu, survey juga mencatat jumlah spesialis asing berkualifikasi tinggi yang semakin menurun sebesar 29%. Selain kekurangan tenaga kerja, Rusia juga mengalami defisit spesialis pekerja ber kualifikasi tinggi.

Kementerian Ekonomi dan Pembangunan (Economic Development) Rusia memperkirakan pertumbuhan ekonomi sebesar 5.4% pada tahun 2023, jauh dari resesi ekonomi.

Sementara itu situs www.RE-RUSSIA.ORG yang aktif mengangkat analisis dampak perang di Rusia menerangkan dengan detail bagaimana anomali ini terjadi akibat peperangan Rusia.

Meskipun hasil laporan dari Gaidar Institute yang telah melihat fenomena ini jauh sejak tahun 1996, membantah semua analisis yang dibuat. Dalam analisis Gaidar Institute Rusia kekurangan 42 % tenaga kerja industri sejak tahun 1996, bukan sekedar karena efek peperangan dengan Ukraina. (Vijay dari berbagai sumber)


Lihat Juga Konflik Rusia Ukraina:

Rusia Kekurangan 660 Ribu Tenaga Kerja




Index News Informatika/Informatika News Line


 
 
 
 


 
Dual Server
 
 
Indeks
 

 

 


 
Dual Server
 
 
Indeks
 













Lebih baru Lebih lama