Malang, Polkrim On Line
Beberapa komponen masyarakat yang peduli pada sejarah Singasahi menghimbau adanya perhelatan untuk memperingati berdiri dan berjayanya kerajaan Singasahi 800 tahun yang lalu. Seruan beberapa komponen masyarakat ini juga mengkaitkan peringatan 800 tahun Singasashi ini dengan perayaan 700 tahun Majapahit yang sempat menjadi agenda Wisata dan Budaya pada tahun 1993 tahun lalu (Vijay).
Spirit "SINGHASARIJAYATI"
PERHELATAN MOMENTUM "WOLUNG ABAD (800 TAHUN) KEMAHARAJAAN SINGHASARI (1222 - 2022 MASEHI)"
Oleh : M. Dwi Cahyono
Barangkali banyak yang orang lepas perhatian bahwa sesungguhnya pada tahun ini (2022) bertepatan dengan 800 tahun (8 abad) sejarah Kemaharajaan Singhasari (dalam sumber data tekstual acapkali dinamai "Tumapel"). Memang, sejauh ini kejayaan Singhasari sering ditempatkan di bawah bayang- bayang Majapahit, sehingga arah perhatian banyak tertuju ke Majapahit daripada ke Singhasari. Bagaimana bisa tepat "800 tahun Singhasari" pada tahun ini? Tarikh mula kerajaan yang berpusat di kawasan Malangraya ini adalah tahun 1222 Masehi, yang dihitung dari keberhasilan Ken Angrok (abhisekana- ma "Sri Ranggahrajasa Sang Amurwanhumi") yang behasil merebut kekuasaan dari Kertajaya (Srengga, kitab Pararaton menyebutnya "Dandang Gendis"), yakni raja terakhir di Kerajaan Kadiri (Pangju) pada suatu perang besar di palagan Ganter tahun 1222 Masehi .
Titik waktu mulanya tak dihitung dari keberhasilan Angrok dalam menyirnakan sang akuwu Tumapel, yakni Tunggulametung, yang nota bene hanyalah penguasa bawahan kerajaan Kadiri (Pangjalu). Alih alih keberhasilan Angrok dalam mengalahkan raja Kertajaya yang menjadi pucuk pimpinan Kerajaan Kadirii, yakni penguasa atas Bhumi Jawa kala itu. Kemenangan Angrok terhadap Tunggul Ametung adalah "fase awal" untuk membebaskan daerah Tumapel di timur Gunung Kawi dari "pendudukan Kadiri" sejak ere pemerintahan raja Jayabhaya (di- abadikan dalam prasasti Hantang tahun 1135 Masehi). Adapun tahun 1222 Masehi adalah peristiwa "Singhasari (Tumapel) Jayati", padamana sejak itu Singhasari tampil kemuka sebagai kerajaan otonom (merdeka) yang berkuasa atas Bhumi Jawa -- yang sebelumnya (sejak mangkatnya Airlangga di tahun 1049 Masehi) kekuasaan atas Bhumi Jawa terbagi menjadi dua, yaitu : (1) Kerajaan Kadiri (Pangjalu), dan (2) karajaan Jenggala, dimana kedua terlibat pertikaian pajang (1049-1222 Masehi). Penyatuan Bhumi Jawa yang telah diawali oleh Ken Angrok ini nantinya dikukuhkan ulang oleh Wisnuwardhana lewat doktrin politik "Cakrawala Mandala Jawa".
Sebagai kerjaan otonom, Singhasari (Tumapel) tidak berusia amat panjang, hanyalah 70 tahun (1222-12292 Masehi). Terbilang "lebih pendek" bila dibangukan dengan kerajaan Mataram (3,5 abad, yaitu sejak akhir abad VII - 1049 Masehi); Kerajaan Kadiri (1049 - 1222 Masehi) ataupun Majapahit (1293-1527/28 Masehi). Kendatipun pendek usia (70 tahun), namun kerajaan ini bukan hanya mampu memegang "hegemoni" atas Bhumi Jawa melalui doktrin politik "Cakrawala Mandala Jawa semasa pemerintahan bersama Wisnuwardhana (sebutan lain "Sminingrat") dan Narasingha Murti), namun lebih luas daripada itu hegemoni atas Nusantara pun dicoba raih melalui doktrin politik "Cakrawala Mandala Nusantara" pada masa pemerintahan raja Kertanegara. Dengan demiikian cukup alasan untuk menyatakan bahwa Singhasari telah mengawali visi "integrasi Nusantara", jauh sebelum Gajah Mada melansir doktrin politik integrasi Nusantata lewat "Hamukti Palapa"-nya.
Menyadari bahwa Singhasari merupakan kerjaan besar yang memiliki kontribusi penting bagi kesejarahan Jawa, sekaligus kesejarahan Nusantara, maka momentum historis "delapan abad (800 ta- hun) Singhasari", yang jatuh bertepatan di tahun 2022 ini, patut untuk diperingati dan dirayakannya. Warga dan Pemerintah tiga daerah pada kawasan Malangraya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan juga Kota Batu), padamana kadatwan (ibukota kera- jaan) Singhasari berada di kawasan ini, tampil pada garda depan untuk menghelat serangkaian kegiatan "800 Tahun Singhasari". Demikian pula, Jawa Timur yang konon "wilayah inti" kerajaan Singhasari musti pula tampil ke muka untuk memperingati dan merayakannya, seraya metransformasikan "spirit kejaya- an Singhasari" yang menjadi "peletak dasar (fondamen) bagi Kemaharajaan Majapahit" tersebut buat menyemangati perolehan kejayaan Timur Jawa di masa sekarang dan mendatang.
Tulisan ini serta saresehan yang sedianya digelar pada acara "Padang Mbulan" ke-41 di Tumpang pada Senin Malam, 16 Mei 2022 ini hanyalah pengingat dan pemantik bagi khalayak di Malangraya dan Jawa Timur untuk bersama-sama menghelat peringatan dan perayaan "800 Tahun Singhasari'. Sumonggo seferek sedoyo sempatkan waktu untuk menghadiri saresehan kami, serta turut bersama- sama merancang rangkaian kegiatan bermakna, senyampang kini masih cukup waktu (Juni hingga Desember 2022). Terimakasih atas kehadirannya pada saresehan "Padang Mbulan" serta kontribusi yang diberikan untuk perhelatan yang (marilah) di gagas,diperani, dan dipetik manfaatnya bersama- ama. Ada baiknya, peringatan "Hari Jadi" Kabupa ten Malang pada Nopember 2022 mendatang sekaligus diniatkan untuk menghelat peringatan "800 Tahun Kemaharajaan Singhasari".
Mari kita monitor bersama, diantara tiga daerah di Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, dan Kota Batu) manakah darinya yang memperlihatkan "kepedulian dan kesadaran" akan sejarah kawasan- nya dengan "antusias menghelat" peringatan "800 Tahun Kemaharajaan Singhasari (12222 - 2022 Ma- sehi)"? Bagaimana pula halnya dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur, apakah akan menghelat sebagaimana ketika memperingati "700 tahun Majapahit" pada tahun 1993 yang lalu. Apabila tidak satupun, maka giliran warga masyarakat yang musti tampil menghelatnya. Sumonggo dipun sengkuyung sesa- rengan. Nuwun.
Griya Kliktimes, 14 Mei 2022
Patembayan CITRALEKHA
Lihat Juga Polkrim News Up Date
Rubrik News Analysis
di Asia, dua orang Raja baru tampil di tahta kerajaan mereka menggantikan ayahanda mereka. Raja Jepang adalah Raja pertama di Asia yang naik tahta pada awal Mei yang lalu (1/5/2019). Kaisar Naruhito dilantik menjadi Kaisar ke-126 Kerajaan Jepang. Kaisar Naruhito (59 tahun) mengikuti upacara penobatan kaisar (Kenji-to-Shokei-no-gi-or )menggantikan ayahnya yang memutuskan mengundurkan diri karena alasan kesehatan. Di Jepang baru pertama kalinya seorang raja diijinkan mundur karena alasan sakit. Raja-raja baru biasanya diijinkan diganti setelah wafat, sebagaimana Kaisar Hirohito, kakek Kaisar baru Naruhito.

