Esai Tentang Kerajaan Majapahit
Kerajaan Majapahit adalah salah satu kerajaan besar di Nusantara. Banyak peninggalan Majapahit yang saat ini menjadi simbol bahkan menjadi lambang negara. Meski berada di salah satu wilayah di Jawa Timur, akan tetapi Majapahit selalu menjadi milik bersama seluruh Bangsa. Sejarahnya dan berbagai kisahnya banyak memberikan inspirasi, memberikan kesadaran kepada seluruh Bangsa, bahwa sejak jaman dahulu kala, Bangsa ini memang sudah dituliskan menjadi bangsa yang besar.
Informatika News Line merangkai sejumlah artikel, tulisan, data dan fakta, bahkan karya sastra yang dibuat tentang Majapahit ini, dalam sebuah sorotan khusus yang dibingkai dalam Esai Tentang Kerajaan Majapahit. Sejumlah bukti baru penting, pemahaman baru tentang Kerajaan Majapahit, menjadi studi khusus Informatika News Line.
Tujuannya untuk menggali lebih dalam hikmah berdirinya Kerajaan Majapahit yang telah dituliskan menjadi masa keemasan Nusantara yang bahkan di masa lalu dikenal namanya sampai ke seantero penjuru dunia.
Esai tentang Majapahit oleh Informatika News ini diharapkan dapat dinikmati oleh para pembaca dan bahkan kalangan peneliti yang ingin memperdalam lagi kajian dan bahasan tentang Kerajaan Majapahit.
Pusat Studi Kerajaan Majapahit Informatika News Line
Redaksi
Catatan Sejarah Penting Masa Awal Berdirinya Kerajaan Majapahit
Sejarah
berdirinya Majapahit memiliki relasi yang erat dengan Tokoh Monggolia
Jengish Khan yang melakukan penghancuran berbagai negeri dunia,
membantai warga yang menentang kekuasaannya dan kemudian menaklukkanya
dengan kejam.
Bahkan Baghdad Pusat budaya Islam dihancurkan oleh cucunya
Hulaghu Khan, adik, saudara muda Khu Balai Khan, sebelum sang Kakak,
Khu Balai Khan dibantai di tanah Jawa oleh pasukan Raden Wijaya, di
lapangan Bubat, dan rambutnya disayat paksa dari kepalanya untuk
ditempelkan di tahta kerajaan baru Majapahit yang dipimpin oleh Raden
Wijaya, Kerta Rajasa Jaya Wardhana.
Kidung Harsawijaya menceritakan dengan sangat dramatis bahwa raja Tatar,
tidak pulang kembali ke China, melainkan tewas di Majapahit dalam suatu pertempuran melawan Rangga Lawe dan Ken Nambi di Bubat. Raja Tartar (Ku Balai Khan) yang tergila-gila pada Putri Dhaha menyerang Tarik, meminta Putri Kerajaan Dhaha Kediri diserahkan sebagai bagian penaklukkan Kerajaan Kediri dan Kekalahan Jayakatwang. Akan tetapi Raden Wijaya berkilah melindungi harkat dan martabat Putri Dhaha dari sentuhan dan penghinaan yang dilakukan oleh bangsa asing.
Baca Lebih Lanjut :
Kisah tewasnya Ku Balai Khan di Harsawiaya ini juga diperkuat oleh Kidung Ranggalawe dan Kidung Panji Wijayakrama yang menceritakan bahwa Raja Tartar yang bernama Sri Taru Laksana Aji (Ku Balai Khan) tergila-gila pada Ratna Sutawan putri Bungsu Raja Tumapel. Ku Balai Khan memiliki gelar juga Kaisar Tzi Czu (berubah pengucapaan dalam bahasa Majapahit menjadi Sri Taru)
(up date, 15/01/2025)