Proyek Sembrono Pasar Glendoh 25 M, Yang Tanpa Kajian Pasar On Line
Kementerian PUPR Bangun Pasar 25 M Untuk Apa ? Tanpa melakukan kajian pasar modern berbasis on line. Dana 25 M hanya untuk melayani 200 pedagang dibandingkan 20.000 pedagang.
Grobogan, Informatika News Line (18/06/2024)
Di tengah bergelora dan gencarnya pertumbuhan market place on line di seluruh Indonesia, Kementerian PUPR malah membuat proyek konyol pembangunan pasar Glendoh, Grobogan.
Konon pembangunan dengan biaya besar ini ditujukan untuk membangun ekonomi Jawa Tengah dan tujuan konyol menghidupkan fungsi pasar offline.
Pembangunan infrastruktur Pasar Glendoh di Grobogan Jateng diharapkan bisa menghidupkan lagi fungsi pasar sebagai tempat perdagangan rakyat yang lebih modern.
Pembangunan pasar ini seakan tidak memahami tumbuh berkembang nya pasar on line yang besar-besar an menggerus pasar offline saat ini.
Kebijakan aneh dari pejabat negara yang memutuskan eksekusi proyek 25 M ini kembali menunjukkan aksi jauh panggang dari api, proyek yang menggunakan dana APBN.
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rayat (PUPR) tanpa pandang bulu, terus menyelesaikan pembangunan Pasar Glendoh. Tujuan yang disasar adalah untuk menunjang kegiatan perekonomian masyarakat di Jawa Tengah, khususnya Kabupaten Grobogan.
Pembangunan infrastruktur Pasar Glendoh sendiri diharapkan bisa menghidupkan kembali fungsi pasar sebagai tempat perdagangan rakyat yang lebih modern.
"Diharapkan infrastruktur pasar yang berkualitas dapat dirasakan langsung manfaatnya oleh masyarakat, terutama dalam menjamin distribusi bahan pokok dan turut menggerakkan sektor riil atau UMKM yang merata hingga pelosok desa di seluruh Indonesia," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Selasa (18/6/2024).
Pernyataan Menteri PUPR yang tidak menyinggung soal penguatan pasar on line dan malah membangun pasar berkonsep kuno ini bahkan diamini oleh sekian stakeholder yang tidak faham trend pasar modern berbasis on line dengan baik.
Pendekatan perencanaan tradisional yang digunakan dalam pembangunan pasar ini terlihat dari progres pembangunan yang dilakukan.
Lokasi Pasar Glendoh yang sedang dibangun ini berdekatan dengan Pasar Agro Hortikultura dan Pasar Pagi Purwodadi.
Menurut Kementerian PUPR, dalam perencanaan Pasar Glendoh, diharapkan ke masa yang datang akan turut meningkatkan fungsi kawasan setempat sebagai pusat perdagangan rakyat di Kabupaten Grobogan.
Proyek Pasar Glendoh di Grobogan dikerjakan oleh Balai Prasarana Permukiman Wilayah (BPPW) Jawa Tengah, Direktorat Jenderal (Ditjen) Cipta Karya Kementerian PUPR melalui pendanaan APBN tahun 2023-2024 sebesar Rp25 miliar.
Konstruksi bangunan pasar digarap oleh kontraktor pelaksana PT Pradipta Bumi Konstruksi di atas lahan seluas 11.331 m2 dengan luas bangunan 3.397 m2.
Secara keseluruhan, Pasar Glendoh terdiri dari 4 blok yang mampu menampung 200 pedagang dengan pembagian bangunan utama pasar
Blok A terdiri dari 10 kios,
Blok B sebanyak 12 kios dan 48 los,
Blok C sebanyak 12 kios, dan
Blok D sebanyak 58 kios dan 56 los.
Pasar ini pastinya juga dilengkapi fasilitas pendukung lengkap seperti toilet, mushola, dan rumah pompa. Selain itu juga dilengkapi dengan bangunan rumah potong ayam, ground water tank, Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), bank sampah, rumah genset, area parker, drainase, akses lingkungan, pagar kawasan, dan lansekap.
Pekerjaan konstruksi Pasar Glendoh sudah dimulai sejak Desember 2023 dan ditargetkan selesai akhir Juli 2024.
Diharapkan dengan selesainya pembangunan Pasar Glendoh yang sehat dan higienis akan meningkatkan sarana perdagangan barang/jasa dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari masyarakat, khususnya di Kabupaten Grobogan.
Sayangnya konsep pasar yang dibangun dengan biaya mahal ini malah tidak mengembangkan konsep pasar modern dengan kajian perkembangan pasar on line.
Uang 25 M yang dicaplok dari APBN bisa digunakan untuk membangkitkan 20 ribu pedagang dibandingkan hanya untuk 200 pedagang offline semata. Ketidak cermatan penggunaan anggaran yang bermuara pada kesembronoan seperti ini, seharusnya menjadi perhatian dan kajian lebih mendalam. Bayangkan betapa efektifnya anggaran, jika penggunaan nya tepat.
Sama-sama 25 M, tapi yang satu hanya menciptakan 200 pedagang, sementara konsep kajian lainnya bisa mengembangkan 20 ribu pedagang. Mana yang harus dipilih ? Gaya-gaya kuno dari perencanaan pembangunan yang sembrono yang bukan membuat ekonomi negara menjadi baik akan tetapi malah membuat ekonomi negara ambruk dan terbebani dan lambat dalam perkembangan perekonomian.
Bagaimana bisa bisa maju sebuah negara, jika kajian dengan pendekatan kuno gaya batu seperti ini, terus menerus dipakai dalam paradigma pembangunan. Jika ditentang, maka pilihannya bukan dialog akan tetapi menggunakan pendekatan represif dan mau menang sendiri. (VIJ)
.jpeg)