Waspada Dan Berbuat lah Kebajikan Di Negara
Aku Hadir agar bangkit kewaspadaan serta muncul peringatan Agar Berbuat Kebajikan Di Negara (Pesan Socrates Dalam Apologia)
Bandung, Informatika News Line (17/05/2024)
Munculnya negara Demokrasi tak lepas dari peran penting Socrates yang mengingatkan pada siapapun yang menjadi unsur Demokrasi untuk selalu berwaspada dan tak lupa selalu berbuat kebajikan.
Socrates hidup sekitar 500 tahun sebelum kelahiran Yesus Kristus, menjadi korban dari kelicikan yang ada di sebuah negara Demokrasi Yunani. Socrates menjadi umpan dalam drama licik Demokrasi, yang akhirnya membuat nya terbunuh. Petikan pesan nya untuk negara Demokrasi ditulis kembali dengan sangat bagus oleh Plato, penerus ide demokrasi nya dalam buku Plato yang terkenal berjudul Apologia.
Pengajaran dan ide demokrasi Socrates yang dituliskan oleh Plato itu akhirnya disebarluaskan lewat peperangan dahsyat yang dibawa oleh pasukan pasukan Alexander The Great 50 tahun kemudian. Alexander The Great dikenal juga sebagai Iskandar Dzulkarnain. Pasukan perang yang cepat dari Alexander The Great (356 SM) Iskandar Dzulkarnain membawa ide ide demokrasi ini dari Eropa, Menuju Asia, sampai ke India, Bahkan dalam catatan catatan sejarah lama, ekspedisi Alexander Dzulkarnain ini sampai ke pantai Barat Pulau Sumatra.
Berikut adalah petikan Nasihat penting dari Socrates pada saat sedang dalam proses hukuman mati karena serangan fitnah yang melanda Socrates. Nasihat penting agar waspada tidak termakan oleh fitnah dalam negara demokrasi dan tidak takut untuk selalu berbuat baik bukan berbuat licik dalam negara demokrasi.
Petikan Apologia Socrates (470-399 SM)
Tuan-tuan sekalian, jangan kau kira bahwa pada saat ini aku sedang mengemukakan alasan-alasan demi keselamatan diriku; justru demi keselamatanmu, agar jangan kalian berdosa terhadap Tuhan oleh segala tuduhanmu terhadap diriku, sedangkan aku ini dikaruniakan Tuhan kepadamu.
Sebab, kalau kau bunuh juga aku, tak akan mudahlah bagimu untuk mendapat seseorang yang dapat menggantikan aku; karena aku ini ibarat seekor langau kuda yang dianugerahkan Tuhan kepada Negara. Negara adalah semacam kuda besar yang dipelihara baik-baik, sehingga oleh karena besarnya, maka kurang lincahlah gerak-geriknya, lamban serta berat, dan setiap kali perlu dirangsang untuk menggugahnya.
Demikianlah, aku ini ditempatkan Tuhan di negara ini untuk membangkitkan kewaspadaan serta memperingatkan kalian semua, di mana saja sehari-harian aku berada di antaramu.
Niscaya tak akan mudahlah kalian mendapatkan seseorang seperti aku; maka kuanjurkan kepadamu untuk menyelamatkan hidupku. Aku percaya bahwa kalian terperanjat ibarat seseorang yang dibangunkan tiba-tiba dari tidurnya yang nyenyak. Kalian beranggapan dengan mudah akan dapat membunuh aku sebagaimana dikehendaki oleh Anytos, setelah mana kau selanjutnya akan tidur terus sepanjang hidupmu; kecuali bilamana Tuhan dalam memperhatikan keadaanmu itu mengirim lagi seekor langau lain
(kata-kata Socrates ini menunjuk pada kemunculan Plato).
Bahwasanya aku ini sesungguhnya anugerah Tuhan bagimu, mudahlah membuktikannya. Kalau aku ini seperti orang-orang lain, maka niscaya tak akan kuabaikan kepentingan-kepentinganku yang pribadi dan dengan sabar menjalani kehidupan demikian itu selama bertahun-tahun. Sebaliknya perhatianku semata-mata tercurah pada kepentingan-kepentinganmu, menghampiri setiap orang di antaramu sebagaimana seorang ayah atau saudara tua serta mengajak engkau sekalian memperhatikan perihal kebajikan. Kelakuan demikian ini tidak serupa dengan perbuatan manusia awam.
Sesungguhnyalah, seandainya aku memperoleh keuntungan dari segala ini dan meminta upah bagi petuah-petuahku itu, maka kiranya beralasan pula hal itu. Akan tetapi, sebagaimana kalian saksikan sekarang, bahkan di antara penuduhku sendiri tak ada seorang pun berani menyatakan bahwa aku pernah menuntut upah dari seseorang. Dalam hubungan ini, tak ada seorang pun yang dapat mereka ajukan sebagai saksi. Sebaliknya, untuk menguji kebenaran apa yang kukemukakan itu aku punya saksi yang mengukuhkan: yaitu kemiskinanku.
(Sōkratēs, dalam kitab “Apologia” karya Platō)
