Jaranan Dor di Museum Mpu Tantular
Sidoarjo, Informatika News Line (05/03/2024)
Kesenian Jaranan Dor, sebuah kesenian yang dibangun sejak Masa Kejayaan Majapahit digelar di Museum Mpu Tantular Sidoarjo. Seni tradisional yang juga mengadopsi seni mistis Jaran Kepang atau Kuda Lumping atau yang juga dikenal dengan kesenian jathilan, merupakan sebuah tarian tradisional Jawa yang menampilkan sekelompok prajurit menunggang kuda.
Menurut Kepala Museum Mpu Tantular Sidoarjo, tarian mistis ini diciptakan pada masa setelah Perang Diponegoro tahun 1835. Meskipun demikian terdapat banyak perdebatan yang terjadi tentang asal usul dari tarian mistis ini.
Menurut Monika Proba, seorang peneliti seni asal Kanada yang tinggal di Warsawa, Polandia, tarian Kuda Lumping berasal dari Yogyakarta.
Namun, beberapa ahli yang lain merujuk relief di Candi Jawi di Pasuruan yang dibangun pada Masa Majapahit. Relief Candi memperlihatkan seorang perempuan yang sedang bertapa dan pasukan berkuda yang diduga Dewi Kilisuci.
Baca Juga : Jaranan Dor Siap Didaftarkan Sebagai WBTB Unesco
Jika cerita dalam lisan yang beredar itu benar, kemungkinan jaran kepang sebagai tari kerakyatan kuno embrionya sudah ada pada abad ke-12 dan mulai kental pada abad ke-13 dan ke-14.
Sumber cerita rakyat juga mengangkat kisah Panji sebagai asal muasal jaran kepang ini. Kesenian ini menggambarkan kisah bertemunya Dewi Songgolangit yang berasal dari Kerajaan Panjalu (Kediri) dan Klono Sewandono dari Kerajaan Bantarangin (Janggala) yang konon saat ini menjadi wilayah Ponorogo.
Kebahagiaan ini tersirat dalam tarian yang diilhami oleh ceritera cinta dalam kisah Panji. Beberapa cerita rakyat yang lain mengisahkan bahwa cerita Panji yang dimaksud adalah Panji Asmorobangun dengan Dewi Sekartaji.
Dalam buku Hystori of Java (1817) yang dibuat oleh Thomas Stamford Raffles juga pernah menyinggung soal pertunjukan di Jawa menggunakan imitasi kuda. Jika merujuk kepada Raflles maka kemungkinan seni jaran kepang ini jauh lebih lama dari masa Diponegoro.
Akan tetapi jika ditelusuri lebih jauh lagi kisah jaran kepang atau kuda Lumping ini juga bermuara pada kisah cinta Raja Majapahit Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka yang gagal bertemu karena Dyah Pitaloka mokca ke alam dwi pantara.
Penjajah Belanda melalui Prof.C. Berg membuat cerita palsu Perang Bubat, yang ditujukan untuk menghancurkan kekuatan Pangeran Diponegoro yang sudah menguasai seluruh Pulau Jawa pada 1825-1830. Dengan cerita palsu yang bahkan tidak ditemukan di Negara Kertagama dan prasasti apapun itu Belanda berhasil memecah suku Jawa dan Suku Sunda, melalui strategi de vide et impera nya.
VOC/Belanda memang sangat licik. Bahkan berani membuat Hadits Palsu yang dibuat oleh Prof.Dr. Snoug Horgronye yang berpura-pura masuk Islam. Kemudian membuat ribuan hadits Palsu untuk mematahkan Perjuangan Teuku Umar dan Cut Nya' Dien di Aceh. Lewat strategi yang sama Devide Et Impera.
**
Acara yang didukung oleh Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Timur ini digelar untuk mengangkat kembali Budaya Adi luhung yang mulai luntur tidak mendapat kan perhatian di tengah tengah masyarakat.
