Fokus 160320242

  Ngalap Berkah Di Kanjeng Sunan Gresik


Gresik, Informatika News Line (22/02/2024)

Menuju makam Sunan Gresik atau Syeh Maulana Malik Ibrahim saat ini sangat mudah. Dengan menggunakan trans Jatim ke arah Gresik turun di halte BNI Gresik, jaraknya hanya 1,3 km. Kalau sambung dengan ojeg on line paling hanya tambah 5 ribu rupiah. Informatika News Line mengunjungi makam keramat Kanjeng Sunan Gresik ini Kamis (22/02) yang lalu.

Naik Trans Jatim dari Terminal Purabaya bungurasih, tidak perlu mahal, hanya 5 ribu saja. Kalau beruntung dapat tempat duduk di Trans. Ya kalau saat jam berangkat dan pulang para pekerja, jangankan duduk, berdiri saja susah. Maklum angkutan publik buatan pribumi ya gini ini. Apalagi di Jawa Timur, Provinsi yang masih sangat rentan pada layanan publik yang baik. Yang ada lahayan pejabat dan bos, rakyat mah belakangan saja, gak dilayani juga gak banyak protes kok. 

Btw...by the way... Jangan lupa turun di Halte BNI Gresik. Dari Halte BNI berjalan saja menyusuri jalan Panglima Sudirman Gresik. Di ujung jalan Pangsud nanti ada papan petunjuk lalu lintas arah ke Makam Kanjeng Sunan. Dekat sekali hanya 200 meter dari ujung jalan Pangsud Gresik.

***"

Lokasi makam Sunan Gresik sudah sangat bagus dan bersih. Di sebelah Barat ada makam Bupati Gresik Pertama Kyai Tumenggung Pusponegoro yang juga terkenal sebagai Mursyd Tarikat Sattariah ke-29. Pasti seru jika membongkar sejarah Tumenggung Pusponegoro. Tapi kali ini maksud tujuannya hanya ingin berkunjung Ke Sunan Gresik, Syeh Maulana Malik Ibrahim.



***

Sunan Gresik adalah penyebar agama Islam generasi pertama di tanah Jawa Nusantara. Dalam catatan sejarah babad diketahui bahwa Sunan Gresik telah berada di Gresik pada tahun 1371 Masehi pada masa kejayaan Majapahit.

Beberapa penulis sejarah mengkaitkan Sunan Gresik dengan Syeh Jumadil Qubro (Lahir 1310 atau 1349) yang sangat terkenal sebagai salah satu penyebar awal Agama Islam di Pulau Jawa. 

Syekh Jumadil Qubro memiliki tiga orang putra laki-laki setelah menikah dengan wanita dari Samarkand 

(1) Putra Pertama Ibrahim Asmoroqondi / As-Sayyid Ibrahim Zainuddin As-Samarqandy. Putra pertama ini kemudian memiliki putra 

1. Sunan Gisik

2. Sunan Ampel (Lahir 1401)

(2) Putra Kedua : Ali Nurul Alam

(3) Putra Ketiga : Barakat Zainul Alam. Dari Barakat Zainul Alam inilah kemudian lahir. Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik)

Syeh Jumadil Qubro juga menikah dengan Dewi Sarah yang kemudian memiliki putra Syeh Maulana Ishak, ayah dari Sunan Giri (Lahir 1442)

Dalam versi yang lain, Sunan Ampel juga disebut-sebut sebagai putra Syeh Maulana Malik Ibrahim.

****

Pada tahun 1349 Syeh Jumadil Qubro memulai perjalanan nya ke Pulau Jawa/Nusantara. Dan kemudian disusul oleh Maulana Malik Ibrahim pada tahun 1371 atau 22 tahun kemudian.

Kedatangan Maulana Malik Ibrahim adalah pada masa Raja Hayam Wuruk (Lahir 1334). Raja Hayam Wuruk sudah 21 tahun berkuasa pada saat Maulana Malik Ibrahim datang ke Leran, Gresik,  setelah terjadinya insiden Perang Bubat palsu pada tahun 1357 atau 14 tahun setelah Perang Bubat Palsu.

Sunan Gresik datang pada saat puncak keemasan Majapahit. Akan tetapi tentu saja sudah tidak bertemu dengan Mahapatih Gajah Mada yang telah hilang moksa pada tahun 1357 an pasca insiden Perang Bubat Palsu.

Sunan Gresik meninggal 30 tahun setelah wafatnya Hayam Wuruk. Maulana Malik Ibrahim meninggal pada tahun 1419, setelah meninggalnya Raja Hayam Wuruk pada tahun 1389.

Peran penting Maulana Malik Ibrahim adalah mempersiapkan generasi penyebar agama Islam generasi pertama di bawah pimpinan Sunan Ampel yang menjadi Wali Qutub (Al waliy Al qutb) yang penting dalam penyebaran agama Islam di Nusantara. 

Selama 19 tahun Maulana Malik Ibrahim mempersiapkan Infrastruktur untuk kadatangan Sunan Ampel yang lahir pada tahun 1401 untuk menjadi Al Qutb pertama di Pulau Jawa. Sunan Ampel datang ke Majapahit pada tahun 1443 di masa pemerintahan Dyah Suhita, 54 tahun setelah Hayam Wuruk meninggal dunia. Atau 24 tahun setelah wafatnya Syeh Maulana Malik Ibrahim.

Kedatangan Sunan Ampel ke Majapahit sudah sangat dikenali dengan baik oleh keluarga raja Majapahit, karena hubungan yang baik yang dijalin oleh Sunan Gresik, Syeh Maulana Malik Ibrahim.

Setelah itu Qutb Sunan Ampel pun diteruskan oleh Sunan Kalijaga (Qutb Kedua). 

Generasi penyebar agama Islam ini disebut sebagai Wali Songgo (wali-wali penyangga tugas di tanah Jawa/Nusantara) banyak disebut salah kaprah oleh umum sebagai Wali Songo (Wali 9). Memang ada 9 pengurus utama Wali Songgo, akan tetapi Wali Songgo sendiri jumlahnya sangat banyak bukan hanya 9 orang saja akan tetapi belasan orang wali di berbagai wilayah. 

Sebenarnya anggota pengurus wali jumlahnya hanya 8 orang. Satu wali pemimpin atau Qutb dan 7 wali pendamping atau wali badal. Atau dalam bahasa Jawa disebut Eka Sapta (1-7) satu tujuh. Ada 2 wali qutub (pemimpin) di struktur inti wali Songgo, Sunan Ampel (Qutb) dan 7 wali lain. Setelah Sunan Ampel Wafat Qutub berpindah ke Sunan Kalijaga, sehingga susunannya menjadi 1-1-7. Satu qutb Sunan Ampel, satu qutb penerus Sunan Kalijaga dan 7 wali pendamping. Pola susunan eka sapta 1-1-7 ini yang kemudian dihitung menjadi 9 (Songo) dan disalah kaprahkan dengan istilah Wali Songgo (Dewan Kewalian) bukan Wali Songo tapi Wali Songgo atau Dewan Kewalian.

Wali Songgo / Dewan Kewalian ini, yang kemudian meletakkan pilar-pilar penting di Nusantara. Wali Songgo Dewan Kewalian yang menanamkan prinsip-prinsip penting Nusantara modern dalam menghadapi masa-masa kelam penjajahan Eropa selama ratusan tahun kemudian.

Prinsip prinsip dan tatanan masyarakat yang kuat dan solid ini disiapkan oleh para tokoh penyebar agama Islam dalam Wali Songgo ini untuk menyongsong. kebangkitan Nusantara kedua pasca Proklamasi kemerdekaan republik Indonesia. 

Bukan hanya prinsip Agama Islam yang ditanamkan oleh generasi Wali Sangga Atau Wali Songgo, akan tetapi lebih pada mental dan pembelajaran dasar yang kuat untuk membawa amanah kemerdekaan dan mampu melalui ujian penjajahan dari negeri negeri Eropa. Bahkan prinsip dalam Negara Kertagama yang berasal dari istilah Hindu pun diangkat oleh Dewan Wali ini di tengah-tengah masyarakat.

Panca Silah adalah istilah dalam Weda yang kemudian diajarkan oleh Wali Songgo sebagai dasar-dasar negara penting. Juga istilah Bhinneka Tunggal Ika, tan hana dharma mangrwo adalah istilah weda yang kemudian menjadi semboyan negara Nusantara.

Bukan hanya menyebarkan Agama Islam, akan tetapi Wali Songgo juga membangun dan mempetkuat pilar-pilar masyarakat Nusantara. Bahkan politik dan tata negara dan masyarakat pun diatur dengan baik.

Bahkan setelah Majapahit runtuh, Raden Fatah putra Brawijaya terakhir ditata untuk mendirikan Kerajaan Baru, Kerajaan Demak. Sebagai penerus Majapahit, bukan seperti tuduhan mereka yang tidak faham. Seolah-olah Demak yang menginvasi Majapahit yang membuat runtuh. 

Raden Fatah adalah Putra Brawijaya terakhir, tidak mungkin menyerang ayah nya sendiri. Malah ikut menjaga Majapahit. Demikian juga Sunan Kalijaga adalah putra Brawijaya terakhir dari istri China. Qutb kedua atau pemimpin kedua Wali Songgo adalah juga putra Brawijaya terakhir, Brawijaya V.

****


Makam Maulana Ishaq dan Maulana Makrubi di Sebelah Utara Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim


Makam Syeh Maulana Malik Ibrahim menjadi sebuah saksi sejarah penting yang menghubungkan masa masa kejayaan Majapahit pada masa Nusantara masa lalu dengan masa kebangkitan Nusantara modern yang kedua, di masa sekarang.

Di sebelah utara Makam Syeh Maulana Malik Ihrahim juga ditemukan pusara Makam Syeh Maulana Ishak dan Syeh Maulana Makrubi yang juga termasuk dewan wali angkatan awal.

Syeh Maulana Ishak adalah ayah dari Sunan Giri (Lahir 1442) yang menikahi Dewi Sekardadu, putri dari Bhre Wirabumi (Puta Hayam Wuruk dari istri Selir) dari Majapahit. 

Syeh Maulana Ishak paman Sunan Ampel datang beberapa kali ke Pulau Jawa pada tahun 1404 bersama dengan Syeh Maulana Malik Ibrahim, tahun 1444, setahun setelah kedatangan Sunan Ampel di tanah Jawa pada 1443, dan pada tahun 1473.

Sunan Ampel (Raden Rahmat) datang ke pulau Jawa pada tahun 1443, untuk menemui bibinya, Dyah Dwarawati. Dyah Dwarawati adalah seorang putri Champa yang menikah dengan raja Majapahit Barat Bhre Kertabhumi.

Syeh Maulana Ishak yang baru datang kedua kalinya ke Pulau Jawa menuju ke Blambangan atau Banyuwangi untuk menyebarkan agama Islam di Banyuwangi. Di Banyuwangi (Istana Majapahit Timur) Syeh Maulana Ishak bertemu dengan Dewi Sekardadu dan menikah (MIG)










Lebih baru Lebih lama