Malam Nisyfu Sya'ban 1445 H

Malam Nisyfu Sya'ban 1445 H


Hari Nisfu Sya'ban adalah penamaan untuk tanggal 14 bulan Sya'ban dan malam harinya menjelang peralihan ke tanggal 15 Sya'ban. Penamaan ini seperti penamaan Hari Kamis malam yang disebut juga Malam Jum'at. 

Dalam riwayat para ulama disebutkan bahwa pada Ashar tanggal 14 Sya'ban diangkatlah amal-amal manusia 1 tahun yang telah berlalu, dan kemudian ditetapkan amal-amal manusia 1 tahun ke depan. Inilah mengapa malam nisfu sya'ban penting. Karena pada waktu-waktu itu catatan amal tahunan naik kepada Allah, dan penetapan catatan 1 tahun ke depan dilakukan. 

Secara umum proses naik turunnya catatan amal adalah sebagai berikut : catatan amal harian naik pada waktu Ashar setiap hari, sedangkan catatan amal dalam 1 minggu naik pada waktu Ashar di hari kamis, oleh karena itulah malam Jum'at...



...menjadi penting, dan kemudian puasa Kamis menjadi sunnah. Demikian pula yang terjadi pada malam 14 Sya'ban. Khusus pada malam 14 Sya'ban setiap tahun, catatan amal 1 tahun akan naik dan penetapan amal 1 tahun ke depan ditentukan. 

Bagaimana logika mengenai hal ini ? Tentu saja untuk memahami hal ini diperlukan iman. Jika hanya memperturutkan logika, maka tidak akan ada satu pun ajaran agama yang bisa diterima. Beragama adalah beriman terhadap Al Ghoib (sebagaimana disebutkan dalam Surat Al Baqoroh ayat-ayat awal).

Dan tentu saja penjelasan-penjelasan tentang Nisfu Sya'ban akan memicu perdebatan yang tidak ada habis-habisnya. Karena perdebatan tentang hal yang gaib yang didukung oleh akal yang terbatas. 

Beragama adalah beriman kepada yang ghaib, yang bahkan akal tidak mampu memahami dan mencapainya.

***

Sya’ban adalah salah satu bulan istimewa, bulan yang dihormati dalam agama Islam, selain Muharram, Dzulhijjah dan Rajab.

Rasulullah menyatakan bahwa Rajab adalah Bulan Allah, Sya'ban adalah Bulan ku (Muhammad) dan Ramadhan adalah bulan umat Muhammad.

Bulan Bulan Hijriah
(1) Muharram, (2) Shafar, (3) Rabiul AWwal, (4) Rabiul Akhir
(5) Jumadil Awwal, (6) Jumadil Tsani (Akhir), (7) Rajab, (8) Sya'ban, (9) Ramadhan,
(10) Syawal, (11) Dzulkaidah, (12) Dzulhijjah,

Malam ke 15 Bulan Sya'ban dikenal dengan nama malam Nisfu Sya’ban termasuk Malam yang diistimewakan.

NISFU artinya pertengahan, maka malam Nisfu Sya’ban artinya malam pertengahan bulan Sya’ban. Kalau dirujuk kepada kalender Hijriyah, maka malam itu jatuh pada tanggal 14 Sya’ban (malam 15 Sya'ban) karena pergantian tanggal sesuai penanggalan Hilal-iyah atau yang meggunakan patokan rembulan adalah saat matahari terbenam atau malam tiba.

Malam Nisfu Sya'ban merupakan salah satu dari beberapa malam yang bagus untuk berdoa karena dalam suatu riwayat disebutkan bahwa berdoa pada malam itu tidak akan pernah ditolak oleh Allah.

Malam Nisyfu Sya'ban termasuk dalam 5 malam yang berdasarkan riwayat sangat bagus atau mustajab untuk berdoa. Kelima malam tersebut adalah  


malam Jumat,
malam pertama bulan Rajab,
malam Nisfu Sya’ban,
malam Lailatul Qadar,
malam hari raya Idulfitri dan
malam hari raya Kurban atau Idul Adha.

Nisfu Sya'ban adalah saat untuk mengubah catatan rizki dan takdir di dalam 'buku besar' Allah menjadi lebih baik dan memohon ampun atas dosa yang telah kita perbuat.   

***

Malam-malam nisfu Sya’ban adalah malam maghfirah, malam *bara’ah (pembebasan),* malam kemuliaan, malam barokah, malam rahmat.

Malam-malam keagungan ini dikabarkan oleh beberapa hadits.


*BEBERAPA HADITS TENTANG NISFU SYA’BAN:*


Baca Juga Bahasan Detail 

Hadits Tentang Nisfu Sya'ban


*1. Rasulullah Saw bersabda:*

“Sesungguhnya Allah Ta’ala melihat pada malam pertengahan (nisfu) Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” 

(Hr Ibnu Majah dan Ath-Thabrani)


*2. Rasulullah Saw. bersabda:*

“Sesungguhnya Allah 'Azza wa Jalla turun ke langit dunia pada malam nisfu Sya'ban dan mengampuni lebih banyak dari jumlah bulu pada kambing Bani Kalb (salah satu kabilah yang punya banyak kambing).”

(HR At-Tabarani dan Ahmad)


*3. Dari Imam Ali ra, Rasulullah Saw bersabda:*

“Ketika masuk malam nisfu Sya’ban, tegaklah melakukan *shalat di malam hari dan puasalah di siangnya*, sebab Allah Swt. turun pada malam itu ke langit dunia ketika mentari terbenam, firmanNya, “Adakah orang yang suka memohon, pasti Aku memberinya, adakah orang yang memohon ampunan, pasti Aku mengampuninya, dan adakah orang yang minta rizki, pasti Aku memberinya, sampai terbit fajar.” 

(Hr. Ibnu Majah. Duratun Nasihiin.885)


*4. Nabi Isa as.* berjalan kemudian melihat bukit yang tinggi dan langsung mendakinya, hingga ia berada di sebuah batu besar di puncak bukit itu, batu itu putih melebihi susu. Nabi Isa as. kemudian mengelilinginya dan kagum pada batu putih yang sangat bagus itu.  Lalu Allah swt bertanya melalui wahyuNya, “Wahai Isa, maukah Kutunjukkan yang lebih bagus dan mengagumkan?” 

Nabi Isa menjawab, “Ya, baiklah”

Maka batu putih itu pun membelah, di dalamnya ada seorang tua berjubah sambil memegang buah anggur, di depannya terdapat sebatang tongkat, dan ia tegak melakukan shalat. Dan ketika Nabi Isa as. bertanya tentang buah anggur yang dipegang olehnya, ia menjawab, “Anggur ini merupakan rizkiku setiap hari.” Sahut nabi Isa as, “Sudah berapa tahun engkau beribadah di tempat ini?” Jawabnya,“sejak 400 tahun, beribadah di dalam batu besar ini.” 


Kemudian Nabi Isa berkata,

“Ya Tuhan, adakah makhluk yang lebih utama daripada orang tua ini?” 

Allah Ta’ala menjawab dengan wahyuNya, “Jika seseorang dari umat Muhammad menjumpai bulan Sya’ban, lalu di malam pertengahan bulan (Nisfu Sya’ban), (mengerjakan) shalat Bara’ah, maka ia lebih utama daripada ibadah orang tua ini sejak 400 tahun.” 

Sahut Nabi Isa as,

“Beruntunglah jika aku menjadi umat Nabi Muhammad saw.” 

(Zahratur Riyadl. Duratun nasihin.895)


*5. Dari Abu Nashr bin Sa’id, Rasulullah Saw bersabda :*

“Tatkala malam 13 bulan Sya’ban, Jibril datang kepadaku, lalu berkata, “Yaa Muhammad, bangunlah (kerjakan shalat), sungguh telah datang waktu tahajjud, agar engkau bisa minta apa yang engkau kehendaki untuk umatmu.” Maka beliau pun mengerjakannya. 

Ketika tiba waktu Subuh Jibril datang lagi dan berkata,“Yaa Muhammad, Sesungguhnya Allah Swt. telah memberikan (anugerah) kepada 1/3 umatmu.” 


Mendengar perkataan Jibril tersebut, nabi Saw menangis sambil berkata, ” Yaa Jibril beritahukan kepadaku 2/3 umatku yang lain.” Jawab Jibril, “Aku tidak tahu.”


Kemudian pada malam 14 Sya’ban, Jibril datang lagi menemui Nabi Saw sambil berkata, “Yaa Muhammad, bangunlah dan bertahajjudlah,” maka beliau saw pun mengerjakannya. Ketika waktu fajar tiba, Jibril menemui lagi Nabi Saw sambil berkata, “Yaa Muhammad, Sungguh Allah Swt telah memberi (anugerah) kepada 2/3 umatmu.” Mendengar ucapan Jibril itu, lalu Nabi Saw menangis lagi sambil berkata, “Yaa Jibril, beritahukanlah  kepadaku tentang umatku yang 1/3 lagi.” Jawab Jibril,“Aku tidak tahu.”


Kemudian pada *malam Bara’ah (15 Sya’ban)* Jibril datang lagi kepada Nabi Saw sambil berkata, “Yaa Muhammad, kini datanglah khabar gembira bagimu, bahwa sesungguhnya Allah swt telah memberi (anugerah) kepada semua umatmu dan orang-orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatupun.” Kemudian Jibril berkata lagi, “Yaa Muhammad, lihatlah ke langit dan pandanglah apa yang kau ketahui.” 

Kemudian beliau Saw. melihat ke atas, dan tampaklah pintu-pintu langit terbuka, sedangkan para malaikat dari langit dunia sampai ke ‘Arasy sedang sujud sambil memohon ampunan kepada Allah Swt untuk umat Muhammad Saw.

 

Dan di tiap pintu langit ada satu malaikat berseru sebagai berikut:

- Di pintu langit pertama malaikat berseru, “Beruntung bagi orang yang ruku pada malam ini.”

- Di pintu langit kedua malaikat berseru, “Beruntung bagi orang-orang yang mau sujud pada malam ini.”

- Di pintu langit ketiga malaikat beseru, “beruntung bagi orang-orang yang berdzikir di malam ini.”

- Di pintu langit keempat malaikat berseru, “Beruntunglah bagi orang-orang yang berdoa kepada Tuhannya pada malam ini.”

- Di pintu langit kelima malaikat berseru, “Beruntung bagi orang-orang yang menangis karena takut kepada Allah Swt pada malam ini.”

- Di pintu langit keenam malaikat berseru, “beruntung orang yang berbuat baik pada malam ini.”

- Di pintu langit ketujuh malaikat berseru “beruntung orang yang membaca Al-Qur’an pada malam ini.”


Kemudian para malaikat lain berseru:

“Adakah orang yang memohon?, pasti dipenuhi permohonannya” 

“Adakah orang yang berdoa? pasti dikabulkan doanya” 

“Adakah orang yang bertaubat? pasti diterima taubatnya” 

Dan “adakah orang yang memohon ampun? pasti diampuni dosanya.”

(Duratun nasihin. 889. Keagungan Rajab dan Sya’ban-Abdul Manan.156)


*6. Dari Siti Aisyah ra. Berkata:*

“Semula aku tidur bersama Nabi Saw. Kemudian ketika aku terbangun, tiada mendapati beliau Saw. Dan aku pun menjadi gusar, kukira beliau pulang ke rumah sebagian istrinya di saat giliranku. Lalu aku pun mencarinya di rumah-rumah mereka, namun tidak kudapati. Selanjutnya kutanyakan kepada Fatimah, namun Fatimah sekeluarga juga tidak tahu kemana beliau saw pergi. Lalu aku bersama mereka mencarinya ke mesjid-mesjid, ternyata kami tidak mendapatinya. 


Sahut Ali ra. “Tidaklah beliau pergi, kecuali ke Baqi’il Gharqad (tempat pemakaman di madinah).” Maka kami pun datang ke tempat itu, dan ketika itu nampaklah cahaya menyinari Baqi’il Gharqad tersebut. Ali ra kemudian berkata, “Sinar terang itu pasti cahaya Nabi Saw.”


Dan segeralah kami menghampirinya, dan melihat beliau saw tengah bersujud sambil menangis, yang tiada seorang pun menyadarinya. Beliau merendah diri kepada Allah Swt, di tengah-tengah sujudnya membaca ayat:

“Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu adalah hambaMu, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkau maha Perkasa lagi maha bijaksana.” (Qs.5.118)


Lalu Fatimah mendekati beliau Saw dan dibersihkanlah wajah beliau dari tanah serta berkata, “Wahai ayahku, apakah ada sesuatu hal yang menimpamu, apakah kedatangan musuh ataukah wahyu?” Beliau saw menjawab, “Tidak Fatimah, tiada kedatangan musuh dan tiada pula wahyu turun, tapi ketahuilah bahwa malam ini adalah *malam Bara’ah (pembebasan),* Aku bermohon kepada Allah Swt.

Yaa Aisyah, seandainya Kiamat tiba dan keadaanku tengah bersujud, dan menuntut syafaat dari Tuhanku, aku pun diberi syafa’at.”


Selanjutnya beliau Saw bersabda:

“Jika kalian menginginkan keridhoanku, bersujudlah kepada Allah Swt dan bantulah aku dengan doa dan tadlarru (bermohon dengan merendahkan diri kepada Allah Swt)”


Kemudian Beliau saw bersabda: “Wahai Ali, bersujudlah engkau, dan carilah orang lain. “Wahai Fatimah dan Aisyah, bersujudlah kalian berdua, carilah anak-anak kecil dan para wanita.” Maka mereka pun bersujud semuanya sambil menangis, sampai terbit fajar subuh.”

(Duratun Nasihin. 891)




Rangkaian ibadah Nisyfu Sya'ban

1. Shaum sunnah, 3 (tiga hari)* tgl 13, 14, 15 Sya’ban *(Jum'at, Sabtu, Minggu, 23, 24, 25 Feb)*. Shaum sunnah di pertengahan bulan (ayyamul bidh)  ini juga dapat dilaksanakan pada setiap pertengahan bulan lainnya, tidak hanya pada bulan sya'ban

2. Shalat sunnah, sebanyak 4 rakaat (2x salam,* di luar rawatib), *setelah Shalat Maghrib* tgl 14 Sya’ban *(Sabtu malam, 24 Feb)* dengan membaca surat *Al-fatihah (1x)* dan surat *al-ikhlas (10x)* pada setiap raka‘atnya.

*Setelah shalat membaca:*

- Yâ Rabbighfirlana, *(10x),* ("wahai Rabbi Ampunilah kami")

- Yâ Rabbi Irhamna, *(10x)*, ("wahai Rabbi Kasihilah kami/ Rahmatilah kami")

- Yâ Rabbi tub'alaina, *(10x)*, ("wahai Rabbi Kembalilah kepada kami/ terimalah taubat kami")

- Surat Al-ikhlas, *(21x),*

*Dan membaca:*

Subhânaladzi yuhyil mauta wa yumîtul ahyaa a wahuwa ‘alâ kulli syaiîn qadir, *(10x),*

("Bertasbih kepada Dia yang menghidupkan kematian, dan mematikan sebuah kehidupan, dan Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu.")


Kemudian berdoa *(DOA NISFU SYA’BAN)*:

“Ya Allah, wahai Dzat yang memiliki, dan yang memberikan karunia, dan tidak membangkit-bangkitkan atas karuniaNya.

Wahai Dzat yang memberi nikmat, tiada Tuhan melainkan Engkau yang menolong orang-orang yang memohon pertolongan, dan Maha Pelindung orang-orang yang memohon perlindungan, dan Tuhan yang memberikan keamanan bagi orang-orang yang takut.

Yaa Allah, andaikata Engkau telah mentaqdirkan kami di sisiMu pada zaman azali kami celaka, sedikit rizki, terusir dan diharamkan akan kami, maka kami mohon agar dihapuskan (apa yang tersebut dalam azali),  dengan kemurahanMu ya Allah, Engkau tukar pada azali itu dari kecelakaan, maupun sedikit rizki, demikian juga yang lain-lain, mohon perkenankanlah Engkau tukar dengan kebahagiaan, dengan mendapatkan rizki yang dapat mendatangkan kebaikan. 

Wahai Tuhan kami, pada malam nisfu Sya’ban yang mulia ini, yang padanya memisahkan tiap-tiap persoalan dan urusan yang tepat dan pasti, kami memohon ya Allah, perkenankanlah Engkau singkirkan bahaya dari kami, baik yang kami ketahui maupun yang tidak kami ketahui. Engkaulah Yang maha Mengetahui dengan sesungguhnya, Engkaulah Yang Mulia dan Maha pemurah.”

“Ya Allah,

Jika Engkau telah mencatat namaku orang yang sengsara di tempat orang-orang yang sengsara, maka hapuskanlah dan catatlah namaku di tempat  orang-orang yang berbahagia. Jika Engkau telah mencatat namaku sebagai orang yang bahagia pada catatan orang-orang yang bahagia, maka tetapkanlah. 

Maka sesungguhnya Engkau telah berfirman di dalam Kitab Mu yang dimuliakan,

Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan (apa yang Dia kehendaki), dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauh mahfuzh). (Qs.13.39)


Aamiin, Ya Rabbal'alamin.

Allahumma Shali ala Sayyidina Muhammad wa ala Ali Sayyidina Muhammad.

Setelah itu disarankan dzikir hingga datang waktu Isya, lebih diutamakan membaca Al-Quran, terutama *Surat Yâsîn*, bisa ditujukan juga keberkahannya untuk kedua orang tua kita.


*3. Shalat Bara'ah* (pembebasan), *100 rakaat (2 rakaat x 50 / 2 rakaat salam)*, tgl 14 Syaban *(Sabtu malam, 24 Feb)*, waktunya *setelah Shalat Isya sampai sebelum Shalat Subuh*.

Pada setiap rakaatnya membaca *Al-Fatihah (1x)* dilanjutkan *Al-Ikhlas (10/11x)*

(Al-Ikhlasnya *bisa (5x)* Al Ulama).

dikerjakan semampunya untuk mengantar naiknya amal-amal tahunan selama setahun yang lalu. 

Iringi dengan doa mohon pembebasan dari dosa dan qishash, berdoa sesuai kebutuhan


*4. Riyadhah*, tgl 15 Syaban *(Minggu malam, 25 Feb),* 

*5. Memperbanyak istighfar, dzikir, tafakur, doa*

Saatnya kita memohonkan ketetapan yang baik untuk setahun ke depan.

Bagi perempuan yang *sedang berhalangan (Haid),* ibadah yang dapat dilakukan adalah : 

Dzikir (boleh dinyaringkan) , membaca Qur‘an (hanya di dalam hati), dan berdoa/munajat

6. Yang akan mengeluarkan *zakat tahunan, atau infaq/shadaqah* sebaiknya dilaksanakan *sebelum Nisfu Sya'ban (sebelum maghrib Sabtu malam)*. 

Sangat baik juga menyelesaikan janji-janji yg belum tertunaikan, hutang yang bisa dibayar.



Amalan Nisfu Sya’ban 1445

 

1. Jum'at (13 Sya'ban 1445/23 Februari 2024) 

Pada hari Jum'at 23 Februari 2024 disunnahkan puasa tanggal 13 Sya'ban, puasa ayyamul bidh. 

Puasa 3 hari pertengahan bulan (Shaum Ayyamul Bidh), yaitu dimulai hari Jum'at (23 Februari 2024), Sabtu (24 Februari  2024), dan Minggu (25 Februari 2024), dalam penanggalan Hijriah : tanggal 13, 14, 15 Sya'ban 1445 Hijriyah.


Berikut Niat Puasa Nisfu Syaban

نويت صوم شهر شعبان سنة لله تعالى

NAWAITU SAUMA SYAHRI SYAHBAN SUNNATAN LILLAHI TA'ALA
"Saya niat puasa bulan sya'ban sunnah karena Allah ta’ala".

2. Sabtu (14 Sya'ban 1445/24 Februari 2024) : Malam Nisfu Sya'ban

Pada hari Sabtu 24 Februari 2024, puasa ayamul bidh tanggal 14 Sya'ban. Malam harinya adalah malam Nisfu Sya'ban. 
 

Siang : Puasa Ayyamul Bidh Hari kedua
Malam : Malam Nisfu Sya'ban/ 15 Sya'ban

 

Rangkaian Ibadah Malam Nisyfu Sya'ban

(1) Sholat MAGHRIB
(2) Sholat Bakda Maghrib 2 rakaat

(3) Shalat Sunnah NISFU SYA'BAN


Versi 1 :
Sholat Nisyfu Sya'ban : 2 Rakaat 
Rakaat Pertama membaca Al Kafirun,
Rakaat Kedua Membaca Al Ihlas


Sholat dua rakaat yang niatnya adalah

أصلى سنة نصف شعبان ركعتين لله تعالى

Artinya: Aku niat shalat sunat nisfu sya’ban 2 rakaat sebagai karena Allah Ta’ala.

 
Bilangan shalat sunnah Nisfu Sya’ban adalah 2 rakaat dengan 1 kali salam. 

(i) Pada rakaat pertama setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Kafirun.
(ii) Sedangkan pada rakaat kedua setelah Al-Fatihah membaca surat Al-Ikhlas.


Versi 2 :
Sholat Al Khair : 2 rakaat / 10 rakaat :
Setiap rakaat membaca Surat Al Ikhlas 11 kali   

Dalam Ihya’ Ulumiddin, Imam Ghazali memberikan petunjuk agar dalam setiap rakaatnya, setelah membaca Al fatihah hendaknya membaca surat al-Ikhlas sebelas kali. Atau dapat juga shalat sepuluh rakaat disetiap rakaatnya membaca Fatihah dan membaca Al-Ikhlas seratus kali.

Shalat ini disebut juga Shalat Al-khair, hal ini berdasar pada apa yang dilakukan oleh para ulama terdahulu.


Versi 3 :
Sholat 4 rakaat :
Setiap rakaat membaca Surat Al Ikhlas 10 kali   

Pada ba'da Magrib, melaksanakan shalat sebanyak 4 rakaat (2x salam, di luar rawatib) dengan  membaca surat *Al-fatihah 1x dan surat al-ikhlas 10x pada setiap raka'atnya.*


(4) Doa Setelah Sholat

*Setelah sholat membaca:*
1. Yaa Robbighfirlana (10x), *wahai Rabbi Ampunilah kami"...
2. "Yaa Rabbi Irhamna (10x), ..."wahai Rabbi Kasihilah kami"....

~ Irhamnaa memang bisa mengandung makna : Rahmatilah, karena dasar rahmat (pertolongan) tentu dari aspek kasih sayang Allah, dari akar kata Arab yang sama.

3. Yaa Rabbi tub'alaina (10x) ... "wahai Rabbi Kembalilah kepada kami"....

Tub 'alaina = kalau diterjemahkan apa adanya berarti kembalilah kepada kami. Tapi ketika masyarakat umum menerjemahkan akan kesulitan memahaminya, dan lebih bisa dipahami dengan makna umum, terimalah taubat kami, padahal cara Allah menerima taubat kita adalah ketika Dia Ta'ala kembali turun  mendekati kita setelah kita naik mendekati-Nya, dan bertemulah di alam pertemuan barzakh (ingat bintang Daud).  


 

4. Al-ikhlas (21x), 

5. Subhaanaladzi yuhyi-l-mauta wa yumiitu-l-ahya wa 'alaa kulli syaiin qodir (10x)...

*"Bertasbih kepada Dia yang menghidupkan kematian, dan mematikan sebuah kehidupan, dan Dia Maha berkuasa atas segala sesuatu*."

 

6. Membaca surat yasin tiga kali
Setelah shalat sunnah dua rekaat biasanya dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin 3 kali
 

7. Doa Malam Nisyfu Sya'ban
Ditutup dengan Do’a malam Nisyfu Sya’ban di bawah ini

Doa Nisfu Sya'ban


اَللَّهُمَّ يَا ذَا الْمَنِّ وَ لا يَمُنُّ عَلَيْكَ

ALLAAHUMMA YAA DZAL MANNI WALAA YAMUNNU ALAIKA 

 يَا ذَا اْلجَلاَلِ وَ اْلاِكْرَامِ

YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, 

 ياَ ذَا الطَّوْلِ وَ اْلاِنْعَامِ 

YAA DZATH THAULI WAL IN AAM, 

لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ ظَهْرَ اللاَّجِيْنَ وَجَارَ الْمُسْتَجِيْرِيْنَ

LAA ILAAHA ILLAA ANTA, DHOHROL LAAJIINA,
WA JAAROL MUSTA JIIRIINA,

وَ اَمَانَ اْلخَائِفِيْنَ .

WA AMAANAL KHAA I FIINA, 

 اَللَّهُمَّ اِنْ كُنْتَ كَتَبْتَنِى عِنْدَكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ

ALLAAHUMMA IN KUNTA KATABTA NII
INDAKA FII UMMIL KITAABI

شَقِيًّا اَوْ مَحْرُوْمًا 

SYAQIYYAN AW MAHRUU MAN 

اَوْ مَطْرُوْدًا اَوْ مُقْتَرًّا عَلَىَّ

 AW MATHRUUDAN AW MUQTARRAN ALAYYA 

فِى الرِّزْقِ

FIR RIZQI, 

 فَامْحُ اللَّهُمَّ بِفَضْلِكَ فِيْ اُمِّ اْلكِتَابِ شَقَاوَتِي

FAMHU LLAA HUMMA BI FADLLIKA FII UMMIL KITAABI SYAQAAWATII 

 وَ حِرْمَانِي وَ طَرْدِي وَ اِقْتَارَ رِزْقِي

WA HIRMAANII WA THARDII WAIQ TAARO RIZQII 

 وَ اَثْبِتْنِىْ عِنْدَكَ فِي اُمِّ اْلكِتَابِ

WA ATS-BITNII INDAKA FII UMMIL KITAABI 

 سَعِيْدًا مَرْزُوْقًا مُوَفَّقًا لِلْخَيْرَاتِ

SAIIDAN MARZUUQAN MUWAFFAQALLIL KHAIRAATI.

فَإِنَّكَ قُلْتَ وَ قَوْلُكَ اْلحَقُّ 

FA INNAKA QULTA WA QAULUKAL HAQQU 

فِى كِتَابِكَ الْمُنْزَلِ عَلَى نَبِيِّكَ الْمُرْسَلِ

FII KITAABIKAL MUNZZALI ALAA NABIYYIKAL MURSALI, 

   يَمْحُواللَّهُمَّ 

YAMHUL LAAHUMAA

 يَمْحُو اللهُ 

YAMHUL LAAH

مَا يَشَاءُ وَ يُثْبِتُ وَ عِنْدَهُ اُمُّ اْلكِتَابِ.

MAA YASYAA U WA YUTSBITU WA INDAHUU UMMUL KITAAB. 

 اِلهِيْ بِالتَّجَلِّى اْلاَعْظَمِ

ILAAHII BITTAJALLIL A' DHOMI 

 فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ

FII LAILATIN NISHFI MIN SYAHRI SYABAANIL.   


ILAAHII BITTAJALLIL A' DHOMI 

 فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَهْرِ شَعْبَانَ

FII LAILATIN NISHFI MIN SYAHRI SYABAANIL

الْمُكَرَّمِ الَّتِيْ يُفْرَقُ فِيْهَا

MUKARRAMIL LATII YUFRAQU FIIHAA 

 كُلُّ اَمْرٍ حَكِيْمٍ 

KULLU AMRIN HAKIIM 

وَ يُبْرَمُ اِصْرِفْ عَنِّيْ مِنَ اْلبَلاَءِ

WA YUBROMU, ISHRIF ANNII MINAL BALAA I 

 مَا اَعْلَمُ وَ مَا لا اَعْلَمُ

MAA A' LAMU WA MAA LAA A' LAMU 

 وَاَنْتَ عَلاَّمُ اْلغُيُوْبِ 

WA ANTA ALLAA MUL GHUYUUBI 

بِرَحْمَتِكَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

BIRAHMATIKA YAA ARHAMAR RAAHIMIIN.

 وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلَّمَ . اَمِيْنَ


 

ALLAAHUMMA YAA DZAL MANNI WALAA YUMANNU ALAIKA  YAA DZAL JALAALI WAL IKRAAM, YAA DZATH THAULI WAL IN AAM, LAA ILAAHA ILLAA ANTA, DHOHROL LAAJIINA, WA JAAROL MUSTAJIIRIINA,

WA AMAANAL KHAA IFIIN, ALLAAHUMMA IN KUNTA KATABTA NII INDAKA FII UMMIL KITAABI SYAQIYYAN AW MAHRUUMAN AW MATHRUUDAN AW MUQTARRAN ALAYYA  FIR RIZQI,

FAMHU LLAA HUMMA BI FADLLIKA FII UMMIL KITAABI SYAQAAWATII WA HIRMAANII WA THARDII WAIQ TAARO RIZQII WA ATS-BITNII INDAKA FII UMMIL KITAABI  SAIIDAN MARZUUQAN MUWAFFAQALLIL KHAIRAATI. FA INNAKA QULTA WA QAULUKAL HAQQU FII KITAABIKAL MUNZZALI ALAA NABIYYIKAL MURSALI,

YAMHUL LAAHUMAA  MAA YASYAA U WA YUTSBITU WA INDAHUU UMMUL KITAAB.ILAAHII BITTAJALLIL A'DHoMI FII LAILATIN NISHFI MIN SYAHRI SYABAANIL MUKARRAMIL LATII YUFRAQU FIIHAA KULLU AMRIN HAKIIM

WA YUBROMU, ISHRIF ANNII MINAL BALAA I . MAA A' LAMU WA MAA LAA A' LAMU WA ANTA ALLAAMUL GHUYUUBI BIRAHMATIKA YAA ARHAMAR RAAHIMIIN.

"Ya Allah, Dzat Pemilik anugrah, bukan penerima anugrah. Wahai Dzat yang memiliki keagungan dan kemuliaan. Wahai dzat yang memiliki kekuasaan dan kenikmatan. Tiada Tuhan selain Engkau: Engkaulah penolong para pengungsi, pelindung para pencari perlindungan, pemberi keamanan bagi yang ketakutan. Ya Allah, jika Engkau telah menulis aku di sisiMu di dalam Ummul Kitab sebagai orang yang celaka atau terhalang atau tertolak atau sempit rezeki, maka hapuskanlah, wahai Allah, dengan anugrahMu, dari Ummul Kitab akan celakaku, terhalangku, tertolakku dan kesempitanku dalam rezeki, dan tetapkanlah aku di sisimu, dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang beruntung, luas rezeki dan memperoleh taufik dalam melakukan kebajikan. Sunguh Engkau telah berfirman dan firman-Mu pasti benar, di dalam Kitab Suci-Mu yang telah Engkau turunkan dengan lisan nabi-Mu yang terutus: “Allah menghapus apa yang dikehendaki dan menetapkan apa yang dikehendakiNya dan di sisi Allah terdapat Ummul Kitab.” Wahai Tuhanku, demi keagungan yang tampak di malam pertengahan bulan Sya’ban nan mulia, saat dipisahkan (dijelaskan, dirinci) segala urusan yang ditetapkan dan yang dihapuskan, hapuskanlah dariku bencana, baik yang kuketahui maupun yang tidak kuketahui. Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala sesuatu yang tersembunyi, demi RahmatMu wahai Tuhan Yang Maha Mengasihi. Semoga Allah melimpahkan solawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad SAW beserta keluarga dan para sahabat beliau. Amin."

 

Setelah itu disarankan dzikir hingga datang waktu isya, lebih diutamakan membaca al-Quran - terutama Qur'an Surah Yaasiin.    



(5) Shalat ISYA' 
(6) Sholat Bakda Isya'
 

(7) Shalat SUNNAH TASBIH 

Sholat Sunnah Tasbih empat rakaat, bisa dikerjakan berjemaah atau sendiri

4 rakaat (boleh 2 rakaat 2 kali)

RAKAAT 1 

Al fatihah, surat, Tasbih 15 X
ruku, doa ruku', Tasbih 10 x
i'tidal, doa, Tasbih 10x
sujud 1, doa, Tasbih 10x
duduk antara 2 sujud, doa, Tasbih 10x
sujud 2, doa, Tasbih 10x
duduk, Tasbih 10 x

bangun rakaat kedua

RAKAAT 2

....pembacaan tasbih sama seperti rakaat pertama
......

Al fatihah, surat, Tasbih 15 X
ruku, doa ruku', Tasbih 10 x
i'tidal, doa, Tasbih 10x
.......

sujud 1, doa, tasbih 10x
duduk antara 2 sujud, doa, tasbih 10x
sujud 2, doa, tasbih 10x
duduk, doa tasyahud akhir, tasbih 10 x
Salam

sampai rakaat terakhir

(Bacaan Tasbih dalam sholat adalah : Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah hu Allah Hu Akbar)

 

DOA-DOA SETELAH SHOLAT TASBIH

1. Dzikr Nabi Yunus
Ucapkan atau bacalah zikir Nabi Yunus, yaitu

laa ilaaha anta subhanaka inni kuntum minazzolimin 1.275 x


2. Sholawat dan Istighfar
Perbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW., Dzikr, doa dan istighfar.


(8) Sholat Bara'ah 


100 Rakaat : 2 RAKAAT, AL IKHLAS (10X ATAU 11X ATAU 5X)

Adapun yang sering dilakukan oleh sebagian umat Islam, yaitu Salat Malam Nisfu Sya’ban sebanyak 100 rakaat (SHALAT BARA'AH) dilaksanakan ba'da Isya dengan ketentuan yaitu :

*~ Sholat 100 rakaat terdiri dari 2 rakaat berulang (berarti 2 rakaat x 50 kali), dan membaca
Al-Fatihah 1x dilanjutkan
Al-Ikhlas 10/11x pada setiap rakaatnya.*
(Al Ikhlas bisa 5 x ~ *KZ*)
~

*Sholat Bara'ah bermakna PEMBEBASAN.*
*Mohon pembebasan dari dosa dan Qishosh.
Saat Nisfu Sya'ban adalah saat diangkatnya amal-amal setahun yang lalu. Saat yang tepat bagi kita memohonkan 'KETETAPAN' yang baik untuk setahun ke depan.*

Bagi perempuan yang sedang berhalangan (Haid), ibadah yang dapat dilakukan adalah :
~ Dzikir (boleh dinyaringkan) , membaca Qur'an (hanya di dalam hati), dan berdo'a/munajad.

Catatan :
Bagi yang akan mengeluarkan zakat tahunan, atau infaq/shadaqah sebaiknya dilaksanakan sebelum Nisfu Sya'ban. Juga jangan lupa juga menyelesaikan janji-janji yang belum tertunaikan, utang yang bisa dibayar.   


3. Minggu (15 Sya'ban 1445/25 Februari 2024)


Siang :
Puasa Ayyamul Bidh Hari ketiga

Malam :

Dianjurkan banyak beristighfar, tafakkur dan berdoa, karena pada saat inilah saat *TURUNNYA AMR'-AMR BARU setahun ke depan.*

Riyadhah*, tgl 15 Syaban *(Minggu malam, 25 Feb),*

untuk menyambut turunnya ketetapan, urusan/ amr tahunan, setahun ke depan 

Hadits Tentang Nisfu Sya'ban

 





 









Lihat Link Berikut 



Lihat Juga Liputan Berbagai Persiapan Ibadah Bulan Ramadhan
Serba Serbi Bulan Rajab (1)                    (2) (Versi 2)          Amalan Rajab (Versi 3) 
Malam Nishfu Sya'ban                             Versi 2



























Lebih baru Lebih lama