Gonjang Ganjing Indonesia : Pemilu, Bencana Angin, Banjir, Gempa
Oleh : Dijono Harjokusumo
"Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah membuat mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." (QS Ar Rum: 41)
Pemilu 2024 belum usai, tahapan tahapan Pemilu masih terus berlangsung sampai tulisan ini dibuat. Kecurangan merebak di berbagai lokasi, akan tetapi ada yang tak ingin melihat berbagai kecurangan sebagai deretan kecurangan.
" Itu hal yang lumrah yang terjadi di setiap Pemilu...Hal yang biasa saja.. jadi kenapa harus dijadikan masalah sekarang ? Bukankah hal itu selalu terjadi di setiap Pemilu ?....'
Pengubahan suara, penggelembungan suara, politik uang, dan berbagai hal kecil kecil lain yang terjadi di mana-mana. Hal kecil, hal yang ringan, hal yang sudah biasa terjadi, as bussiness as usual....
" Ah itu kan hal kecil kecil... Bukan hal yang fatal... Biasa saja.."
Semua data gak jelas yang terlihat mata pun dianggap hal yang wajar. Pemilihan ulang yang juga terjadi di berbagai wilayah juga dianggap biasa. Ada apa ini. Pemilihan ulang dianggap hal yang lumrah lumrah saja terjadi. Ya dibuktikan saja siapa yang menang pada saat Pemilu ulang.
Pemilu ulang itu saja sebuah kesalahan, malah dilanjutkan disuruh melihat hasil siapa yang menang pada pemilu ulang. Ini adalah logika yang salah.
Pemilu ulang itu adalah bukti bahwa Pemilu biasa itu salah, atau ada yang salah. Bukan karena hasil nya, akan tetapi prosesnya yang salah dan aneh...
Belum selesai, saling adu argumentasi tentang Pemilu, antara yang kalah dan menang. Antara yang merasa dicurangi dan yang dituduh.
Tiba-tiba bencana berdatangan. Hujan dengan debit sangat besar, hujan es, angin besar (ada yang tidak setuju memberi nama puting beliung) yah sebut saja angin yang menghancurkan. Ratusan rumah hancur, pabrik, gedung, pohon pohon roboh. Mobil mobil berserakan.
Tapi ya tidak harus seperti ini, ikuti aturan main saja, tidak perlu Golput seperti ini
Gempa tiba-tiba muncul susul menyusul. Dan sama seperti komentar dan respons pada hasil Pemilu, para ahli hanya bicara ringan-ringan saja. Karena itu adalah disebabkan pergerakan lempeng bumi.
Padahal gempa super besar berkali-kali terjadi dengan korban ribuan, bahkan puluhan ribu. Rumah hancur, infrastruktur hancur. Data-data mengerikan kehancuran itu lewat begitu saja, tak berbekas.
"Apabila dikatakan kepada mereka, "Janganlah berbuat kerusakan di bumi," mereka menjawab, "Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan." (QS Al Baqarah :11)
"Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari." (QS Al Baqarah: 12)
Apa yang terjadi sebenarnya ya sudah jelas. Siapa yang telah berbuat kerusakan juga sudah jelas. Jelas jelas mereka berbuat kerusakan akan tetapi masih mengaku yang melakukan perbaikan.
Dan tangan-tangan yang berbuat itu menyebabkan kerusakan di darat dan di laut.
Bukan karena pergeseran lempeng bumi gempa terjadi, itu kan sebab sekunder. Pertanyaan yang tak pernah bisa dijawab adalah, kenapa lempeng bumi di sini jadi bergeser ? Kenapa bukan lempeng bumi yang di sana yang bergeser ? Kenapa para ahli gempa tidak melihat kelakuan Kaum Sodom dan Gomoroh sebagai penyebab kehancuran Sodom dan Gomoroh.
Kenapa menyalahkan selokan sungai dan membuang sampah sembarangan sebagai penyebab banjir ? Apakah banjir yang terjadi itu bukan karena perbuatan korupsi yang anda lakukan ?
Kenapa tidak memahami hal itu seperti yang diajarkan oleh Pancasila.
Ketuhanan Yang Maha Esa, adalah dasar negara Republik. Artinya semua perbuatan dan bahkan analisis itu harusnya selalu berujung kepada Ketuhanan Yang Maha Esa.
Kalau berbohong dianggap biasa, maka runtuhlah sila pertama dan utama Pancasila, karena Tuhan Yang Maha Esa melarang berbohong.
Kalau money politik dianggap biasa, maka sila Ketuhanan Yang Maha Esa menjadi sila yang ternoda. Money politik, menyogok warga negara agar memilih saya, menjadi legislatif, atau bahkan menjadi Presiden.
Jangan menganggap money politik sebagai hal yang biasa. Jangan menganggap politik itu adalah penghalal an atau pembolehan berlaku licik atau berbohong.
Karena politik itu basis dasarnya adalah malu. Tidak punya malu, jika itu yang muncul, maka itu adalah contoh mereka yang tidak memahami apakah politik itu.
Karena politik berasal dari kata poli etis, etika tertinggi, politea. Para pemain dan pelaku politik adalah mereka yang memiliki etika tertinggi. Bukan hanya pemimpin nya akan tetapi juga yang ikut mendukung si pemimpin yang bermain politik. Karena pemimpin dan pengikut nya adalah hal yang satu, hal yang sama.
Pendidikan rakyat adalah hal yang paling penting. Karena rakyat yang punya pendidikan yang baik tidak akan memilih orang-orang nista yang tidak memiliki etika.
Dasamuka Rahwana pernah berargumentasi bahwa tindakannya mencuri Dewi Shinta dari Sri Rama Wijaya, adalah sesuatu yang wajar. Akan tetapi Wibisana tidak setuju, tapi Kumbakarna tidur, karena dia tidak setuju, tapi tak ingin banyak berbicara. Bagi Kumbakarna, Rahwana itu salah, ya sudah......salah ya salah... Salah ya tetap salah.
Tinggal turu wae... Wong wis jelas salah kok pancet ngotot ora ngaku salah.. Dhasar Rahwono Rojo...
Tapi Wibisana, Gunawan Wibisana yang lantang bicara dibunuh oleh Rahwana. Untung lah Hanoman mengetahui pembunuhan itu. Lalu membawa jasad Wibisana ke hadapan sang mata air kebenaran, Sri Rama Wijaya.
Hiduplah kembali Wibisana dan menjadi kunci kemenangan peperangan demi peperangan yang dibawa oleh sang pemimpin sejati Sri Rama Wijaya.
Sebuah kisah suci, kebenaran melawan ahli strategi, ahli politik Dosomuko Rahwana, yang tak pernah merasa salah, tak pernah merasa perlu mengakui kesalahan di hadapan rakyat. Hantam saja semua, yang penting saya Rahwana memenangkan politik.
Dan politik yang tersesat di cinta diri berlebihan, mendewakan diri sendiri, tanpa memperdulikan kebenaran, mengantarkan Alengka Diraja yang luar biasa hebat dan agung itu dalam kehancuran.
Apakah para pemain politik sadar ? Bahwa mereka harus memainkan peran yang baik, benar benar baik, bukan topeng baik, atau pura-pura baik.
Karena dalam politik mereka hanya punya dua pilihan saat peperangan terjadi. Apakah akan ikut Alengka Diraja atau akan ikut dalam pasukan kera yang dibawa oleh Sri Rama Wijaya dan Laksmana.
Atau seperti simbolisme Pandawa yang ditipu oleh Dajjal Sangkuni dalam permainan dadu, melawan Kurawa.
Tak seorang pun yang tidak berada di sisi Hastinapura. Bisma yang perkasa dan suci. Dorna, dan bahkan 100 Kurawa, disertai ribuan raja raja yang tertipu topeng Duryudana. Seorang tampan dan manis lidah, tapi dipenuhi kebohongan.
1000 negeri, 1000 pahlawan, 1000 orang suci, 1000 cendekiawan, dan hampir seluruh raja yang pernah ada, semua melawan Pandawa, yang hanya berlima. Akan tetapi Krisna sendirian, sebagai sang simbol kebenaran mampun mengatasi seluruh hingar bingar Hastinapura.
Kenapa tak pernah faham juga, bahwa para ksatria adalah para pemilik etika tertinggi. Dan bukan seperti saudara saudara Kurawa 100, yang tak pernah faham etika.
Apakah kebenaran itu harus berpihak pada yang mayoritas seperti para koalisi Kurawa ? Semua tokoh besar Hastina Pura juga tergadai dan berpihak pada Kurawa. Sementara Pandawa hanya berlima ditemani seorang Krisna saja.
Mitigasi Bencana Adalah ....
Tak pernah takut pada Sang Kebenaran, Dan lupa dengan makna makna besar yang telah ditanam dalam bencana-bencana raksasa yang bahkan pernah terjadi di Nusantara.
Bencana besar itu terjadi karena memang ada tangan-tangan kotor yang telah merusak tatanan harmoni. Bukan menyederhanakan masalah gempa misalnya, dengan menganggap bencana itu, disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi atau karena ada kegiatan vulkanologi. Itu kan sebab sekunder. Sementara sebab primer ya karena ada sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa.
Begitu lah cara melakukan analisis kegiatan di negeri Pancasila. Republik Indonesia adalah negeri Pancasila, maka sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa harus selalu menjadi tolok ukur pertama dan utama dalam melakukan analisis berbagai masalah.
Karena jika Ketuhanan yang Maha Esa dilupakan, maka negeri ini hanya akan jadi negeri Paman Sam, Amerika Serikat. Amerika Serikat hanyalah negeri yang tidak konsisten... In God We Trust... Kata semboyan yang ada di negeri Paman Sam itu, akan tetapi dalam realitasnya tak pernah ada God dalam seluruh kegiatan kenegaraan United States.
Atau bahkan seperti negeri RRC yang memilih komunis, daripada pusing pusing memikirkan peran Tuhan Yang Maha Esa dalam kehidupan kenegaraan, mereka RRC memilih komunis.
Negeri Republik adalah Negeri dengan faksafah Pancasila, maka harus selalu menyertakan Ketuhanan Yang Maha Esa dalam seluruh analisis nya.
" Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan,..... Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan." (Q.S. Al-A’raf: 96)
.jpeg)
.jpeg)

