Bagaimana Bawaslu Mencegah "Serangan Bakda Isya' " ?

 Bagaimana Bawaslu Mencegah "Serangan Bakda Isya' "?





Surabaya, Informatika News Line (14/02/2024) 

Kinerja Bawaslu mendapatkan tantangan berat bahkan menjadi bahan pertanyaan serius, setelah bukti-bukti serangan fajar, (sekarang berubah nama menjadi serangan bakda Isya') merebak ditemukan di tengah masyarakat. 



LSM AMI (Aliansi Madura Indonesia) membawa bukti-bukti serangan bakda Isya' yang dilakukan oleh oknum-oknum peserta Pemilu berturut turut mulai Senin (12/02) sampai berita ini dituliskan Rabu (14/02).

Bukti-bukti yang dibawa oleh AMI ini mewakili berbagai laporan pelanggaran money politik yang jumlahnya sangat banyak dan tersebar di berbagai wilayah. 




Bukti-bukti serangan fajar yang ditemukan dan dibawa ke Bawaslu Kota Surabaya ini sangat banyak. Tapi tak sebanyak yang tidak bisa dibawa ke kantor Bawaslu. Bukti-bukti yang dibawa oleh LSM AMI hanya kurang dari 1 %. Dan bukti yang tersebar di lapangan jauh lebih besar lagi.

Baihaqi Akbar, Ketua LSM AMI menyayangkan perilaku tidak terpuji dari para peserta Pemilu 2024 ini.

"Bukti-bukti kecurangan Pemilu yang kita temukan di lapangan sangat banyak...Akan tetapi tidak semua bukti bisa dibawa ke kantor Bawaslu Surabaya.."

Temuan dari AMI ini menjadi catatan penting tantangan berat tugas yang harus dihadapi oleh Bawaslu di lapangan. Dengan jumlah anggota ribuan Bawaslu ditantang langsung untuk mendeteksi dan bahkan mencegah marak dan merebaknya praktek-praktek politik uang di berbagai daerah.


Baca Juga : Ketua Umum AMI Minta Rakyat Jangan Golput Dan Menolak Serangan Fajar 



Kondisi Di Sidoarjo 

Bukan hanya di Surabaya. Ratusan penerima serangan Maghrib dari para calon peserta Pemilu di Sidoarjo juga mengaku mendapat kan uang sogokan money politik ini.

Marsudim Kacung (bukan nama sebenarnya, nama panggilan) salah satu pemilki warkop di daerah Bluru, kepada Informatika News Line, mengaku mendapat uang 150 ribu, Senin (12/02) dari para calon peserta Pemilu.

" Ini ada dari DPR, DPRD Provinsi, DPRD Kabupaten, masing-masing titip 50 ribu..ya lumayan lah saya terima ...untuk tambah-tambah uang Warung kopi.." kata Marsudim Kacung pada Informatika News Line Selasa malam (13/02)

Itu belum seberapa, Mbak Mur, yang rumahnya ada di Timur Alun Alun Sidoarjo mengaku mendapat uang 350 ribu dari saweran para peserta Pemilu. 

Kepada Informatika News Line, Mbak Mur mengaku menerima uang untuk dirinya dan juga suami nya. Mbak Mur mengaku bahwa dirinya tidak tahu jika menerima uang itu adalah salah satu bentuk pelanggaran dalam Pemilu.

Kepada Informatika Mbak Mur menunjukkan beberapa nama yang memberikan uang kepada diri dan keluarga nya. Informatika News Line melihat ada nama caleg dapil 1 Sidoarjo yang berebut suara Mbak Mur, berlomba masing masing memberikan uang saweran yang berbeda.

"Yang ini ada 50 ribu ini dari Calon Presiden/Cawapres nomer........(ridak dituliskan nomernya, Red) " kata Mbak Mur kepada Informatika News Line.

Lain lagi dengan Suri Semelek yang mengaku tidak menerima sepeser pun uang saweran atau uang serangan fajar seperti yang disebutkan banyak orang.

"Lho mana ? saya kok tidak dikasih...meski dari luar pulau... saya kan sudah bertahun-tahun tinggal di Sidoarjo...kok saya tidak dikasih... ke mana saya harus mendaftar atau meminta uangnya ?" kata Suri kepada Informatika News Line.

Susi juga tidak memahami dan mengerti bahwa menerima uang dari para peserta Pemilu adalah melanggar hukum.

"Anak saya ini dua ....masih SMP butuh uang... untuk makan saja gak cukup...kalau ada yang memberi uang ya saya terima...masak menerima uang dibilang melanggar hukum... Tapi gak ada yang memberi uang saya sampai sekarang..." Kata Susi kepada Informatika News Line (14/02)

Hasil penelusuran Informatika News Line di lapangan menemukan bahwa saweran politik ini bervariasi diterima oleh para calon pemilih. Bahkan di lapangan ada yang mengaku hari menjelang Pemilu mendapatkan saweran sampai 1 juta rupiah dari beberapa peserta pemilu (MIG, TNTW)







Lebih baru Lebih lama