Alun Alun Sidoarjo : WiFi Gratis, Mancing Ikan ?, Dan Air Mancur
Minggu pagi, alun-alun Timur diserbu masyarakat Sidoarjo dan sekitar
Sidoarjo, Informatika News Line (20/01/2024)
Beberapa hari ini, sejak awal pergantian tahun baru 2024, wajah alun-alun Sidoarjo sedikit berubah. Sedikit, karena perubahan yang drastis terlihat, adalah wajah Timur alun-alun. Di lokasi ini ada monumen Jayandaru yang pernah viral beberapa tahun yang lalu. Monumen berhala.
Monumen udang raksasa di tengah alun-alun Timur dan ada juga ikan bandeng super besar di atas monumen, tidak membuat orang yang datang menjadi takut.
Hanya batu berbentuk Udang raksasa dan ikan bandeng raksasa. Padahal di mata sutradara Hollywood, udang raksasa itu bisa diubah menjadi makhluk monster yang sangat menakutkan. Karya sineas patung udang raksasa dan ikan bandeng super besar bisa laku dijual di pasar bioskop global. Serahkan ke sutradara Hollywood saja. Asal dibayar, jadi lah karya sineas nya.
Tapi di mata tukang pembuat dongeng cerita rakyat tanah air, udang raksasa dan bandeng itu, akan jadi cerita imajinatif seperti cerita rakyat : utheg utheg ugel..., Timun Mas, atau cerita klenthing kuning klenthing abang dan Ande-ande lumut.
***
Wajah alun alun Timur Sidoarjo menjadi terlihat mewah. Beberapa pohon besar yang dulu ada di pelataran timur, sudah dicukur habis, diganti pohon yang lebih ramping. Beberapa pohon baru yang ditanam paksa tiba-tiba muncul di pelataran alun alun timur menggantikan pohon-pohon besar yang sudah ditebang habis.
Dan ada juga yang baru, air mancur di pelataran depan monumen Jayandaru. Jika dinyalakan air mancurnya terlihat mewah nya wajah alun-alun timur. Sayang jadwal operasi air mancur alun-alun Timur, tidak begitu jelas di jam berapa saja.
Kesan seram, gelap, jorok, dan kotor sudah hilang. Para penjual makanan, pengemis, pengamen, gelandangan, tuna wisma yang dulu menguasai pojok pojok alun-alun timur sudah tak tampak lagi.
Rumah singgah di pinggir pojok timur selatan yang biasa dipakai preman pengemis dan entah siapa saja untuk tidur juga sudah hilang. Rumah pojok itu juga sering dipakai bermesraan anak-anak berbaju sekolah atau bahkan ada juga yang bapak-bapak dan ibu-ibu. Sekarang sudah tidak ada.
Entah pada kemana pengemis, tuna wisma, gelandangan yang dulu sering terlihat di pelataran alun-alun Timur. Jangan coba-coba tidur atau masuk ke area Masjid Agung di depan alun-alun Barat. Bisa-bisa diusir oleh entah siapa yang ada di dalam masjid. Kalau masuk masjid harus rapi dan bersih baju. Kalau lusuh baju, bau, dan miskin compang-camping, bisa-bisa diusir oleh orang masjid. Bukan takmir Masjid, orang masjid.
Masjid bukan untuk tempat tidur buat mereka yang tuna wisma, apalagi gelandangan. Tidur saja di alun-alun, jangan mengotori masjid. Karena masjid itu tempat yang suci, bukan tempatnya para gelandangan dan orang-orang miskin papa.
Masjid di jaman Rasul dulu dipenuhi oleh orang-orang miskin, ahlus suffah namanya. Begitu banyak nya ahlus suffah itu di masjid Rasul dan tidak ada seorang pun yang berani mengusir mereka dari dalam masjid. Ahlus suffah jaman sekarang, sudah diusir oleh para jama'ah masjid di pintu masuk Masjid, bukan diusir oleh Takmir Masjid, atau satpam Masjid.
Mana ada jamaah masjid yang sudi duduk bersama dengan para ahlus suffah yang miskin itu. Bukan ahlus suffah, tapi gelandangan dan pengemis. Usir saja mereka semua, kalau lagi tidur bangunkan dan usir, kalau sedang makan, bilang saja, masjid bukan tempat makan, kalau makan di luar masjid saja. Bikin kotor masjid saja. Masjid berubah dari centre of social movement menjadi centre of social wealth parameter.
**
Entah pada kemana pengemis, tuna wisma, gelandangan yang dulu sering terlihat di pelataran alun-alun Timur.
Semoga mereka semua sudah berhasil diberikan pekerjaan yang layak oleh pemerintah daerah, bukan sekedar asal usir, disingkirkan agar menjauhi tempat yang biasa menjadi markas mereka.
Petugas Satpol PP (satuan polisi pamong praja) tampak berkeliaran di area alun-alun baru.
Ya coba saja ........ gelandangan dan penjual makanan yang biasa ada area sebelah selatan alun-alun masuk ke pelataran alun-alun timur. Satpol PP yang bertugas pasti segera bergerak meminta mereka pergi atau bahkan mengusirnya.
Gelandangan muncul karena kemiskinan. Penjual makanan keliling ada, karena memang tak ada pekerjaan layak, yang mampu dijangkau oleh pengetahuan mereka. Peluang kerja mungkin ada, tapi mereka tidak tahu dan tidak cukup terdidik.
Atau memang gagalnya proses manajemen peluang kerja, karena pengelola nya kurang memahami kebutuhan rakyat pada pekerjaan yang layak.
Ya kalau sekedar diusir, akar masalah nya tidak juga terpecahkan. Alun alun memang jadi terlihat rapih bersih dan estetis. tapi ada yang dilanda kesengsaraan karena kurangnya pemahaman dan pendidikan yang cukup.
***
Ada tiga anak kecil membawa pancing. Di kolam, di bawah monumen Jayandaru mereka memancing ikan. Berbekal pancing dan segenggam cacing, mereka beraksi. Mereka berhasil mendapatkan ikan. Entah ikan dari mana ? Akan tetapi anak anak kecil itu berhasil mendapatkan ikan yang lumayan besar, sebesar telapak tangan anak usia 15 tahunan.
Pasti lebih bagus, kalau ada ikan sungguhan yang memang diperuntukkan dan boleh diambil di kolam kecil monumen Jayandaru.
Praktis, bisa memberi makan buat mereka yang ingin menjalani hidup dengan
memancing ikan. Tentu saja nilai estetis nya rendah. Akan tetapi pragmatisme terkadang perlu diberikan kesempatan untuk tumbuh. Karena kebutuhan pengembangan aktualisasi, bagi anak-anak dengan memancing. Atau bahkan sekedar pragmatisme untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karena memang tak ada pilihan lain untuk hidup selain memancing di kolam yang sudah diisi ikan sebelum nya.
Harga makanan di pasar mahal, uang dan pekerjaan sulit didapatkan, ya mancing saja ikan di alun alun yang gratis.
Suatu hari Bupati Sidoarjo Gus Muhdhlor dalam suatu acara menceritakan betapa banyak burung-burung dara di lokasi-lokasi umum di kota-kota besar dunia.
" Coba di Mekah Madinah, di pelataran lokasi suci itu ribuan burung dara bisa hidup dengan bebas...karena rakyatnya makmur...Kalau di Indonesia, burung dara itu sudah berakhir di warung dara goreng..." Kata Bupati Sidoarjo berseloroh.
" Di sini... Burung gereja saja dikejar-kejar, ditembak untuk dimakan...." Kata Gus Muhdlor lebih lanjut.
Pragmatisme pada kebutuhan papan sandang dan pangan memang sedang terjadi saat ini. Bahkan di sebuah negeri yang berlimpah sumber daya makanan.
****
Di pojok sebelah utara alun alun, ada sebuah jalan di mana ada sebuah toko baju terkenal, Indah Bordir. Indah bordir memberikan makanan gratis bagi siapa saja yang membutuhkan makan, setiap hari, 3 kali sehari. Tinggal antri dan mendapatkan makanan gratis.
Kegiatan sosial yang bagus. Akan tetapi pasti lebih bagus jika kegiatan ditambah dengan kegiatan pemberdayaan mereka yang kurang memahami bagaimana putaran bisnis dan putaran uang di negeri ini dijalankan.
***
Wifi gratis adalah hal lain yang didapatkan di alun-alun Timur. Lebih dari 1 tahun ini akses WiFi gratis bisa didapatkan oleh pengunjung alun-alun. WiFi Pemkab Sidoarjo, Paseban (alun-alun Utara), DRRD (alun-alun Barat).
Menurut Kominfo Sidoarjo WiFi Pemkab didisain untuk digunakan 400 pengguna di seluruh alun-alun. Akan tetapi dari pengukuran bandwidth yang dilakukan oleh team teknis IT Informatika News Line, jaringan yang dikelola oleh Kominfo ini masih kalah jauh dibandingkan dengan jaringan DPRD dan jaringan WiFi Paseban.
Sebuah jaringan WiFi yang dikelola oleh LA Light di Alun-alun Timur memiliki kualitas jaringan yang lebih bagus dari jaringan Kominfo Kabupaten Sidoarjo. Akan tetapi untuk dapat menikmati jaringan kecepatan tinggi LA Light, harus registrasi dan mendapatkan konfirmasi terlebih dahulu.
" Beda lah...yang satu jaringan milik industri yang dikelola dengan professional bisnis, sementara yang satu oleh dana pemerintah..." Kata salah satu pengunjung alun-alun kepada Informatika News Line.
Lho...bukan begitu ... kualitas bandwith tidak terkait asal dana. Tapi terkait dengan kualitas teknis jaringan. Pengelola yang tidak memahami teknis akan menghasilkan layanan WiFi yang juga memiliki layanan yang kurang bagus. Untuk melayani ratusan orang ya harus menggunakan switch yang tepat bukan hanya asal memasang perangkat WiFi tanpa analisis dan perancangan bandwidth yang tepat (MIG)
