Menjadi Kaya Raya Karena Sungai-Sungai Di Sidoarjo
Sidoarjo, Informatika News Line (04/01/2024)
Mamat (bukan nama sebenarnya) berenang menyusuri Sungai kecil di sebelah barat Transmart Sidoarjo. Bersama dengan tujuh delapan orang Mamat bukan hanya berenang di Sungai kecil kotor bercampur aneka sampah, akan tetapi sesekali Mamat juga menyelam ke dasar sungai kecil itu. Demikian juga tujuh sampai delapan orang teman Mamat yang terlihat di sepanjang Sungai itu.
Berjalan agak ke sebelah Timur Sungai itu ada bagian pinggiran Sungai yang ditulisi dengan cat warna warni bertuliskan Sido Resik, Sungai Sidoarjo Resik, Sungai Sidoarjo Bersih.
Mamat tidak mengerti dan tahu apa itu Sido Resik. Salah satu program kegiatan yang jadi andalan Gus Muhdlor, Gus Bupati Sidoarjo.
Saat Informatika News Line mendekati Mamat dari pinggir sungai, Mamat pun tampak tersenyum kepada Informatika dari tengah sungai.
" Nggolek opo Pak ?... Sampean Nggolek Kerang Tah ?..."
" Nggolek Cacing Iki Pak..."
" Cacing gae opo Pak ?"
" Gae pakanan iwak Pak..."
Hah ? Mamat mencari Cacing ? Cacing itu untuk makanan Ikan kata Mamat. Ikan yang dipelihara oleh Mamat sangat suka makan cacing yang didapat dari sungai.
" Iwak luwih seneng Karo cacing e Iki Pak.."
Di pinggir sungai, sebuah wadah diletakkan di atas motor butut Mamat. Cacing kecil-cacing kecil bercampur kotoran yang menghitam dari dasar sungai, terlihat di dalam wadah di atas motor butut Mamat.
Meski butut, motor Mamat tetap membayar Pajak Kendaraan Bermotor. Informatika News Line melirik plat motor butut Mamat.
Bukan hanya di sungai sebelah barat Trans Mart Sidoarjo saja, terlihat sekelompok orang yang berenang dan sesekali menyelam ke dasar sungai. Di Sungai Timur daerah Bluru Kidul Sidoarjo, juga ditemukan sekelompok orang yang mencari Cacing seperti yang dilakukan oleh Mamat dan kawan kawannya.
Sungai yang kotor dan penuh berbagai kotoran, malah disenangi oleh kelompok para pencari cacing ini.
Tak peduli sampah atau kotoran sungai, para pencari cacing itu menikmati sungai dan cacing kecil berwarna kemerahan. Entah jenis cacing apa itu.
****
Lain lagi ceritanya dengan para nelayan pencari kerang dan ikan di sungai di Bluru Kidul yang mengarah ke Makam Dewi Sekardadu.
Perahu ukuran kecil dan menengah, terlihat bersandar di tepi sungai Bluru Kidul. Sebanyak 15 an perahu berbagai ukuran tampak di atas Sungai yang mengarah ke belakang Rumah Pringgitan Bupati Sidoarjo.
Beberapa perahu tampak rusak, pecah, dan setengah tenggelam. Beberapa perahu lain diisi berbagai sampah di tepi sungai Bluru Kidul. Sebuah bangkai perahu bahkan terlihat tenggelam di dasar sungai Bluru Kidul. Kayu kayu yang melapuk tampak terlihat menjorok di permukaan sungai Bluru Kidul yang dangkal.
Perahu para nelayan ini menggunakan penggerak motor disel sehingga bisa bergerak lebih cepat menuju ke tempat kerang berkumpul di Laut Jawa.
Di sisi sungai sebelah Utara terlihat ada tumpukan cangkang kerang yang menggunung di pinggir jalan. Beberapa nelayan yang lain, memasukkan cangkang kerang-kerang itu ke dalam kantung sak plastik besar dan dibiarkan begeletakan di pinggir sungai.
Kerang dan ikan hasil tangkapan para nelayan ini dijual di pasar pasar di sekitar Sidoarjo. Pasar Ikan di ujung Jalan Kartini Sidoarjo misalnya berisi ikan dan kerang hasil tangkapan para nelayan tradisional ini.
Pusat pasar Ikan yang lebih besar ada di dekat Mal Pelayanan Publik (MPP) Sidoarjo di Jalan Lingkar Timur. Pasar Ikan ini lebih besar dari pasar Ikan di belakang Klengteng pojok Jalan Kartini Sidoarjo.
Akan tetapi TPI Tempat Pelelangan Ikan ini tidak begitu disukai oleh ibu-ibu di daerah kota sekitar rumah Pringgitan Bupati.
" Lalu lintasnya ngeri kalau ke TPI Lingkar Timur... Truk Truk nya besar besar dan sering terjadi kecelakaan di daerah itu, gak berani saya ke sana... "kata Murni kepada Informatika News Line sambil meringis tersenyum. Murni suka sekali ikan laut. Bandeng, Ikan Layur, Kerapu, Ikan Cucut menjadi makanan yang disukai disamping ikan teri, udang, dan beberapa jenis ikan yang lain.
***
Para nelayan di Sungai Bluru Kidul juga punya pekerjaan sampingan, selain melaut mencari ikan dan kerang laut. Mengantarkan wisatawan untuk berkunjung ke makam Dewi Sekardadu.
Makam Dewi Sekardadu adalah salah satu destinasi wisata yang cukup terkenal di kota Santri, Kota Udang, Kota Maspion, Kota Deltras, Kota Lumpur Lapindo dan Kota Bandara Juanda, Sidoarjo itu.
Sidoarjo bukan hanya dikenal sebagai kota Udang, akan tetapi juga dikenal sebagai Kota Santri karena begitu banyaknya Pondok Pesantren di Kota ini. Demikian juga dikenal sebagai kota Maspion. Karena di Sidoarjo lah terletak pabrik yang banyak menghasilkan "ploduk-ploduk" Indonesia itu. Tidak akan menemukan apa makna ploduk di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia). Apalagi kamus Bahasa Jawa terbitan Ngayogjo Karto Hadiningrat.
Tapi kata ploduk itu pasti sangat dikenal di sekitar pabrik Maspion Sidoarjo.
Belakangan perusahaan besar Maspion ini sudah dijual, beralih tangan dan diambil alih oleh pengusaha dari Thailand. Meskipun begitu akhir Desember yang lalu Presiden Jokowi, masih mau datang berkunjung, dan bahkan ikut makan nasi kotak bersama ribuan buruh pabrik Maspion.
Sayang Informatika News Line tidak diajak. Pihak Kodim Sidoarjo dan Paspampres terlalu banyak yang mengawal Presiden. Berjibun pejabat yang ingin pamer wajah ke Presiden juga membuat susah untuk meliput Pak Presiden.
Apalagi Kantor Kominfo Sidoarjo yang miskin. Seharusnya ada bus khusus yang disiapkan untuk ratusan jurnalis Sidoarjo untuk meliput Pak Presiden.
" Ayo arek Jurnalis liputen Iki Pak Jokowi. Bis e gratis rek...."
Jurnalis Informatika News Line memang suka berkhayal. Tapi enggak juga... Hitung saja berapa Trilyun PAD Sidoarjo. Sidoarjo bukan kota miskin. Menyiapkan selusin bus untuk liputan khusus kepala negara ? Sidoarjo pasti mampu. Kaya raya wilayah mantan Kerajaan Majapahit dan Kerajaan Airlangga ini.
***
Destinasi wisata Dewi Sekardadu bisa dijangkau dengan mengasyikkan dengan naik perahu. Dari ujung Sungai Bluru Kidul para peziarah tinggal naik memenuhi perahu dan diantarkan ke makam Dewi Sekardadu.
Makam Dewa Sekardadu adalah makam yang terkenal. Dewa Sekardadu adalah Ibu dari Wali Terkenal Sunan Giri. Sunan Giri adalah seorang wali yang juga terkenal sebagai seorang Sultan. Kesultanan Gresik adalah kesultanan Islam yang dipimpin langsung oleh Sunan Giri.
Sunan Gunung Jati adalah contoh Wali Sultan yang lain yang kesultanan nya sekarang dikenal sebagai Kesultanan Cirebon. Sunan Giri di Timur dan Sunan Gunung Jati di Barat adalah dua kesultanan Islam yang meneruskan dominasi kekuasaan Majapahit yang runtuh pada abad ke 13, mendampingi Kesulitan Demak yang dipimpin oleh Raden Fatah.
Makam Dewi Sekardadu sangat terkenal. Banyak orang yang menganggap berziarah ke makam Dewi Sekardadu akan banyak mendatangkan keuntungan atau berkah.
" Ibu Sunan Giri, seorang wali besar dan Sultan pada akhir kerajaan Majapahit.."
***
Bagitu banyak berkah dan potensi yang dibawa oleh Sungai Sungai kecil yang membelah kota Sidoarjo. Belasan Sungai yang membelah kota Sidoarjo ini belum dimanfaatkan maksimal. Kekayaan berlimpah yang dimiliki oleh Sungai Sungai ini masih terlihat dibiarkan begitu saja. Paling paling sungai itu hanya dijadikan sebagai muara limbah pabrik dan juga sampah rumah tangga yang ada di Sidoarjo.
Padahal potensi sungai di Sidoarjo jauh lebih besar dibandingkan hanya seperti yang ada saat ini.
Pengelolaan dan pengolahan potensi sungai masih belum maksimal. Pengetahuan masyarakat mengenai kekayaan berlimpah yang dimiliki oleh Sungai juga masih terbatas. Sehingga terlihat lokasi di tepi sungai terlihat lusuh, penuh sampah, dan tidak terpelihara. Beberapa sungai yang lain tampak kotor dipenuhi oleh sampah dan limbah pabrik dan juga limbah rumah tangga.
Pemkab Sidoarjo tidak tinggal diam. Kerja keras bersih-bersih telah dilakukan sekuat tenaga. Inisiasi Kegiatan Sido Resik sudah mulai terlihat di beberapa lokasi sungai di Sidoarjo. Akan tetapi inisiatif ini masih belum maksimal. Masyarakat belum bergerak memahami dengan baik potensi kekayaan sungai yang sebenarnya. Masyarakat masih jauh dari faham. Sungai gudang kekayaan itu tidak dikenali. Kemiskinan dan kekurangan yang membelit masyarakat seharusnya mudah dihapus dengan basuhan kekayaan sungai sungai di Sidoarjo. Tapi masyarakat masih belum faham.
Mungkin para perencana kota dan juga masyarakat perlu diajak berjalan-jalan ke Venesia di Eropa, kota sungai yang berhasil menarik jutaan wisata dari seluruh dunia, untuk menikmati keunikan kota Sungai Venesia. Milyaran dollar uang dari seluruh dunia mengalir ke Venesia. Dan Venesia sempat menjadi destinasi wisata unggulan dunia.
Tidak banyak beda suasana Venesia yang bersungai-sungai dengan belasan Sungai di Sidoarjo. Tapi untuk menyebutkan Venesia Sidoarjo di sungai sungai di Sidoarjo, tampaknya masih membutuhkan banyak usaha yang lebih keras lagi bagi seluruh masyarakat Sidoarjo.
"Kita tidak bisa melakukan ini sendirian... masyarakat harus ikut bergerak untuk membangun Sidoarjo...karena itu program kegiatan Sidoresik ini kita inisiasi. Pemda hanya menginisiasi, membangkitkan pemahaman dan inisiatif masyarakat. Harapannya masyarakat akan bergerak mandiri untuk ikut mempercantik sungai sungai di Sidoarjo dan meningkatkan kapasitas Sungai di Sidoarjo.." Kata Gus Muhdlor Bupati Sidoarjo pada sebuah kesempatan.
Sesekali mungkin juga para perencana kota dan masyarakat Sidoarjo perlu diajak berjalan-jalan ke sungai Kuning (Sungai Han) di jantung Kota Seoul, Korea Selatan, yang membuat kawasan Sungai menjadi bersih dan menjadi pusat wisata kota dan bahkan dunia.
Saat Informatika News Line berkesempatan berkunjung ke Seoul, Korea Selatan, konsep pengelolaan sungai dan tepi sungai Kuning memang patut diacungi jempol.
Sebuah kapal besar yang disulap menjadi restoran dan tempat wisata membuat lokasi Sungai yang membelah kota Seoul, berubah menjadi pusat kegiatan masyarakat yang menarik.
.jpeg)
****
Tapi jika masyarakat tidak berhasil tumbuh kesadaran dan pengetahuan nya, soal kekayaan berlimpah, yang dimiliki oleh Sungai, maka kekayaan sungai sungai Sidoarjo hanya akan tertutupi oleh sampah dan kotoran. Hanya akan tersembunyi selamanya. Alangkah sayangnya kekayaan sungai sungai itu bisa membantu masyarakat keluar dari kemiskinan yang menggayuti kehidupan, kesengsaraan yang tidak pernah terungkap kan. Hanya diam diam dirasakan, mencekik dan menyiksa.
Akan tetapi ramalan masa lalu, tentang saat berlimpah ruahnya kekayaan di Nusantara, telah menampilkan seorang tokoh yang akan membuka kekayaan terpendam itu. Sampai datang sang satria piningit, yang membuka kekayaan yang disembunyikan, kekayaan yang dilupakan oleh cengkeraman ketidakfahaman, kebodohan, dan kejahilan. Termasuk kekayaan berlimpah sungai-sungai di Sidoarjo.
Kapan itu waktunya ? Tak lama lagi kah ? Tunggu saja...sebentar lagi... cahayanya sudah mulai berpendaran...berkilau kilau di langit Nusantara.. (MIG)
Index News Informatika/Informatika News Line
Di Instagram





