Dan Brenedict pun Kembali Mengunjungi Gereja
Oleh : Al Husein Al Syarif Al Jalal
Jalan-jalan di Jerman saat Minggu pagi 60 tahun yang lalu, terasa sepi. Tapi beberapa keluarga di Jerman (Jerman Barat waktu itu) sudah mulai bersiap untuk pergi beribadah ke Gereja. Jerman Barat berpenduduk mayoritas beragama Kristen Nasrani.
Herr Indonesia, Suprapto, adalah engineering teknik dari salah satu BUMN Pengolah Baja di Indonesia. Suprapto mendapatkan bea siswa studi teknik dari pemerintah untuk memperdalam ilmu power enggineering.
Minggu pagi adalah saatnya berolah raga, berjalan-jalan setelah Sholat Subuh.
Melewati rumah Mr.Brenedict (nama pengganti) yang berada di sisi rumah yang ditempati oleh Herr Indonesia di Jerman. Mr Brenedict sedang memotong rumput rumahnya yang mulai meninggi.
" Guten Morgen..Mr. Brenedict..." ucap Suprapto sopan
" Guten Morgen ...Herr Suprapto, apakah anda sedang berjalan-jalan olah raga ? "
Berjalan-jalan itu perlu Mr Brenedict dan itu akan membuat tubuh kita sehat wal afiat. Bahasa Jerman Herr Suprapto sangat lancar. Meskipun lahir di Pulau Jawa, Suprapto fasih berbahasa Jerman... Ich liebe dich...
"Loh Mr. Brenedict hari ini Hari Minggu, tidak berangkat ke Gereja ya...." tanya Suprapto
" Ya ...untuk apa ke Gereja ... apa gunanya ..."
" Berbakti kepada Tuhan Mr. Brenedict... Kalau Muslim kita sholat 5 kali sehari... setiap Hari Jum at sholat Jum at di Masjid....Bukankah temen-temen Katolik Kristen ke Gereja ya kalau Minggu berbakti bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa ...pencipta alam semesta.."
" Apa ? Apa Tuan Suprapto ? Apa itu Tuhan ? Kalau Dia ada ? Kenapa Dia begitu kejam... ayahku yang aku sayangi....dibuat Nya sakit bertahun tahun.... lalu meninggal pula sekarang...."
" Tuhan macam apa yang begitu kejam ....seperti itu...."
" Tuan Brenedict....Tuhan Allah Yang Maha Esa itu tidak seperti itu... Dia itu Maha Kasih Sayang....dan baik....."
" Tuhan itu kejam....."
Tiba-tiba Suprapto melihat ayah tuan Brenedict.. berjalan dan berbicara. Herr Indonesia Suprapto pun berjalan terseok-seok menirukan cara ayah tuan Brenedict berjalan pada saat masih hidup. Lalu berbicara dengan gaya khas ayah tuan Brenedict.
Melihat Suprapto berjalan terseok-seok. Mr Brenedict mengerutkan dahi sambil berpikir keras.
" Itu cara ayahku berjalan.. terseok-seok seperti itu... aku mengingatnya di dalam hatiku....saat dia berjalan terseok-seok seperti itu.,.." Tuan Brenedict berpikir, terheran-heran melihat Suprapto berjalan seperti itu.
"Tak pernah ada orang yang tahu cara ayahku berjalan bertahun-tahun yang lalu... ya seperti itu cara ayahku berjalan....Bagaimana Herr Suprapto bisa berjalan seperti ayah ku.....? Dia baru saja datang di Jerman....dia tidak kenal dengan ayahku..,."
****
Ayah Brenedict adalah seorang yang sangat rajin beribadah minggu ke Gereja, sangat rajin dan terkenal suka beribadah ke Gereja.
Akan tetapi bertahun-tahun yang lalu tiba-tiba sakit parah. Berjalan terseok-seok ke Gereja. Meski sakit parah ayah Brenedict masih nekad berangkat ke Gereja, bertahun-tahun, tak kenal rasa sakit.
" Brenedict ayo..berangkat ke Gereja sekarang... tunggu apa lagi..." begitu suara ayah Brenedict mengajak berangkat ke Gereja.
" Ayah kan sakit...."
" Ayo cepat bersiap-siap... Tuhan itu Maha Baik....Tuhan itu Maha Cinta..
Dia sudah berikan semua hidup yang indah ini..ayo berangkat..."
Selalu ayah Brenedict mengingatkan Brenedict untuk berangkat ke Gereja. Dan fragmen diaolog dengan ayah tercinta itu, tak akan pernah hilang dari hati benak dan ingatan Brenedict.
Kasih sayang ayah yang sangat tulus dan indah itu terpatri kuat dalam benak Brenedict.
****
"Brenedict ayo..berangkat ke Gereja sekarang... tunggu apa lagi..." kata Suprapto pada Brenedict.
" Ayah kan sakit...." tiba-tiba mulut Brenedict menjawab kata-kata yang diucapkan oleh Suprapto.
"Ayo cepat bersiap-siap... Tuhan itu Maha Baik....Tuhan itu Maha Cinta..
Dia sudah berikan semua hidup yang indah ini..ayo berangkat..."
Loh.... Brenedict terpana. Kata-kata itu keluar dari mulut Suprapto.
"Bukankah begitu cara ayahmu berbicara Tuan Brenedict ?.."
Brenwdict seperti disambar petir.
"Bukankah begitu nasihat yang selalu dikatakan ayahmu padamu tuan Brenedict ?"
Brenedict tersambar petir untuk yang kedua kali nya. Tiba-tiba air mata Tuan Brenedict mengalir deras. Rasa kasih sayang kepada ayahnya mengingatkan dirinya kembali kepada ayahnya yang telah meninggal bertahun-tahun yang lalu.
"Bagaimana anda bisa tahu tuan Suprapto.bagaimana anda bisa tahu..." Brenedict berbicara sambil berurai air mata.
"Anda baru saja datang ke negeri ini dari negeri yang jauh...dari Indonesia...Anda tidak mengenal saya..anda tidak mengenal ayah saya..."
Suprapto tersenyum. Senyum indah Suprapto menembus dada Brenedict.
" Bagaimana anda bisa tersenyum seperti ayah saya tersenyum ?...." Brenedict tersambar petir untuk yang ketiga kalinya.
"Tuan Brenedict.. saya tidak tahu dan tidak kenal dengan ayah Tuan ...juga dengan tuan Brenedict.... Tapi tahukan Tuan .... Tuhan itu baik dan dia mengenal seluruh ciptaan Nya... Semuanya tercatat dengan baik dalam buku catatan... Dan begitulah Tuhan menunjukkan kepada saya ayah Tuan Brenedict ...cara ayah tuan berjalan...bukankah seperti ini....'
Air mata Brenedict bertambah deras. Suprapto berjalan seperti ayahnya, ya bukan seperti ya memang begitu cara ayah Brenedict berjalan. Tidak ada seorang pun yang bisa meniru cara berjalan ayah Brenedict.
"Tuhan itu Maha Baik, dia sangat baik kepada kita semua...seperti.saya sholat Subuh tadi pagi memuji Tuhan Allah untuk bersyukur terhadap semua pemberian Nya yang berlimpah-limpah...Berangkatlah ke Gereja tuan Brenedict...cari dan temukanlah Tuhan mu tuan Brenedict.."
Brenedict pun runtuh. Tuduhan nya kepada Tuhan itupun hilang musnah. Tuhan tidak kejam tapi penuh kasih sayang. Bahkan cara berjalan ayahnya yang terseok-seok itu pun DIA simpan sebagai sebuah memory kenang-kenangan yang indah. Di dalam hati Brenedict. Dan Suprapto membaca memory itu dengan ijin Tuhan yang dia tuduh penuh kekejaman. Membuat ayahnya sakit dan meninggal.
Bukan, bukan begitu. Coba hitung kebaikan apa saja yang telah diberikan oleh Tuhan kepada kita. Darah yang mengalir lancar di seluruh tubuh kita, tidak tersumbat. Bukankah itu bukti kasih sayang dan nikmat Tuhan.
Jika kau hitung-hitung nikmat Tuhan. Kau tidak akan mampu menghitungnya, karena sudah terlalu banyak apa yang diberikan oleh Tuhan.
Mulai hari itu Brenedict kembali berangkat ke Gereja. Kenang-kenangan ayahnya yang tertanam kuat di dalam hatinya bangkit dan membawa nya kembali ke Gereja, kembali berjalan menuju Tuhannya.
Seperti Lazarus yang bangkit kembali dari alam kubur dari kematiannya. Saat Yesus memanggilnya untuk bangkit.
" Lazarus bangunlah...."
maka Lazarus pun bangun, bangkit, hidup kembali dari alam kematian.
Seperti sentuhan Suprapto yang membangkitkan gairah nya untuk kembali bersemangat ke Gereja, mencari Tuhannya.
"Tuhan itu Maha Baik, dia sangat baik kepada kita semua...seperti.saya sholat Subuh tadi pagi memuji Tuhan Allah untuk bersyukur terhadap semua pemberian Nya yang berlimpah-limpah...Berangkatlah ke Gereja tuan Brenedict...cari dan temukanlah Tuhan mu tuan Brenedict.."
Kata-kata Suprapto itu menghujam tajam, mengubahnya mencintai Tuhan kembali.
*Kisah nyata pelajar bea siswa Jerman tahun 1969 an, Suprapto, Herr Indonesia
.jpeg)