Membaca Skala Realisasi PLTS, Deretan Pembangkit Baru Besar Di Indonesia.

Membaca Skala Realisasi PLTS, Deretan Pembangkit Baru Besar Di Indonesia.




Keberhasilan pengoperasionalan PLT Surya Cirata bukanlah keberhasilan yang pertama dari implementasi teknologi PLTS di lingkup PLN.

Beberapa PLTS skala yang lebih kecil telah berhasil dioperasikan sebelumnya di PLN. PLTS Tambak Lorok yang dioperasikan pada awal April tahun ini adalah contoh proyek PLTS dengan skala kecil yang berhasil dioperasikan. PLTS Terapung Tambak Lorok beroperasi di angka kapasitas ratusan KWH. Demikian juga PLTS lain yang dibangun di luar PLN juga telah berhasil dibangun sukses.

Menurut Handbook of Energy & Economic Statistics of Indonesia kapasitas terpasang PLTS baik yang on-grid maupun off-grid baru sebesar 74.532 megawatt peak (MWp). Dengan beroperasi nya PLTS Cirata angka kapasitas ini bergeser sedikit lebih besar. 




Berbeda dengan  skala proyek PLTS Cirata misalnya. PLTS Cirata memiliki skala penting, yang menjadi acuan bagi belasan atau bahkan puluhan pembangunan PLTS selanjutnya. Dengan kapasitas 192 Mwp, dan kemungkinan pengembangan di angka 1000 Mwp, maka PLTS Cirata akan menjadi contoh bagus proyek pembangunan PLTS Apung di angka layanan operasional skala MW. 

Keberhasilan PLTS Cirata dalam menggandeng Masdar dari Timur Tengah adalah salah satu acuan keberhasilan lain yang bisa menjadi acuan PLTS terapung lainnya.




Data pembangunan PLTS terapung lain dari PLN, yang segera menyusul PLTS Cirata adalah sebagai berikut :

1. PLTS Singkarak dengan kapasitas  50 Megawatt ac (MWac) 
2. PLTS Saguling dengan kapasitas 60 MWac (2024)

3. PLTS Karangkates berkapasitas 100 MW yang akan beroperasi pada 2025 dan akan  memasok listrik Jawa bagian timur dan Bali. 

4. PLTS Gajah Mungkur
5. PLTS Kedungombo

Total daya yang akan diproduksi adalah sebesar 1 GW floating PV yang direncanakan PLN masuk di 2025,

Berdasarkan penghitungan yang dilakukan balittbang (badan penelitian dan pengembangan) Kementerian ESDM, potensi PLTS terapung di Indonesia cukup besar mencapai 28,4 GW.

Potensi tersebut tersebar di 783 lokasi lebih waduk dan danau dengan potensi minimal 1 MW.  Terdapat 220 waduk dengan 211 waduk yang bisa dimanfaatkan untuk PLTS Terapung dan sebanyak 164 buah danau dengan luasan lahan permukaan air yang telah terdata sebanyak 224 ribu hektar.

Sebanyak  4,8 GW diproyeksikan akan didapatkan dari pengolahan potensi 27 lokasi waduk dan danau yang juga mengoperasikan pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Angka ini diharapkan akan dicapai pada tahun 2030 setelah pembangunan secara besar besaran PLTS Terapung.




PLTS menjadi pilihan penting, karena dimensi pembangunan proyek yang cepat dilakukan, dan sumber cahaya matahari yang berlimpah tersedia sepanjang tahun di posisi tropis Indonesia.

Pembangkit Listrik tenaga angin  menjadi pilihan lain termasuk pembangkit listrik tenaga  nuklir, akan tetapi pilihan tersebut masih harus berkutat dengan tingkat efisiensi sumber pembangkit dan juga skala resiko yang harus dihadapi. 

PLTS masih menjadi pilihan terbaik, apalagi setelah skala besar PLTS Cirata berhasil dioperasikan pada awal November yang lalu (8-9 November).

PLTS Cirata berhasil memecahkan dua masalah utama yang membayangi pembangunan pembangkit listrik tenaga Surya di Indonesia. PLTS membutuhkan gelar penggunaan lahan yang luas dan tuntutan dukungan TKDN teknologi yang digunakan, yang menjadi amanah seluruh pembangunan di Indonesia dengan menggunakan teknologi tinggi.

Lahan yang luas dapat terpecahkan dengan menggunakan permukaan air danau yang menjadi sumber pasokan PLTA Pembabgkit Listri Tenaga Air, sekaligus berfungsi menjaga air agar tidak hilang habis terkena efek penguapan. Tidak dibutuhkan lagi pencarian lahan tanah yang luas, karena telah tersedia permukaan danau luas yang selama ini memang tidak efektif digunakan.

Beberapa pengamat yang pesimis dengan pemenuhan TKDN, memilih meminta dispensasi TKDN, agar proyek segera bisa beroperasi dan lancar.

Akan tetapi menyingkirkan TKDN untuk memenuhi nafsu pengoperasian sebuah proyek dengan teknologi tinggi adalah sebuah " Jebakan Batman " yang dibuat untuk  menyingkirkan posisi tenaga SDM dalam negeri dan juga sekaligus membuat negara ini selalu tak mampu bangkit mengusai teknologi tinggi.

Beruntung basis teknologi PLTS adalah teknologi yang relatif sederhana dan mudah dikuasai oleh SDM dalam negeri. 

Teknologi fotovoltaik yang digunakan adalah teknologi yang fungsinya menangkap sinar matahari dan kemudian mengubah nya menjadi energi listrik untuk disimpan di sebuah panel batteray. Komponen pembangun PLTS yang relatif sederhana ini tidak terlalu sulit untuk dikuasai dan dinaikkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) nya.

SDM Indonesia bahkan bisa menguasai teknologi produksi sampai 100 persen. Akan tetapi tentu saja skala massal penggunaan teknologi buatan dalam negeri misalnya, masih akan banyak terkendala  oleh berbagai faktor. 

Beruntung setelah PLTS Cirata ini berhasil diresmikan dengan tingkat TKDN yang sesuai dengan ketentuan, akan ada berderet PLTS lain yang siap dibangun. 

***

Kememtarian ESDM memproyeksikan kebutuhan pasokan listrik di Indonesia pada tahun 2060 adalah sebesar 1885 TwH (Terra Watt Hour). Dengan proyeksi konsumsi listrik perkapita akan mencapai lebih dari 5.000 KWh/kapita. 

Sebanyak 635 Gigawatt (GW) kebutuhan listrik di tahun 2060 akan dipasok melalui pembangkit listrik EBT. Dalam 10 tahun mendatang, atau tahun 2031, akan dilakukan penambahan kapasitas Variable Renewable Energy (VRE) Surya dan angin secara masif.

Kementerian ESDM menargetkan penerapan kebijakan utama menuju Net Zero Emission (NZE) di sektor energi akan berkontribusi mengurangi emisi sebesar 1.526 juta ton CO2-emission 


Menurut Outlook Energi Indonesia 2022 yang dirilis Dewan Energi Nasional (DEN), total potensi energi terbarukan di Indonesia mencapai 3.643 gigawatt (GW). Dari total potensi tersebut, energi surya memiliki potensi yang sangat besar yaitu 3.294 GW.

Dalam Rencana Umum energi Nasional (RUEN), energi terbarukan ditarget dapat berkontribusi sebesar 23 persen terhadap bauran energi nasional pada 2025.


Dari target tersebut, pemanfaatan energi surya menjadi energi listrik dengan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) diupayakan mencapai 4,7 GW.

Potensi waduk dan danau dengan PLTA yang ada  diperkirakan akan menarik potensi investasi sebesar 3,84 miliar dollar AS atau kurang lebih 55 Triliun rupiah. Dan keberhasilan Cirata menarik Masdar pada tahun ini menghapus catatan oversupply 7 GW yang selama beberapa waktu yang lalu menjadi salah satu topik di PLN. PLN menjadi sangat menarik untuk investasi dengan menjual keberhasilan PLTS Cirata untuk teknologi dan implementasi operasional yang sama dengan PLTS Cirata (GIW)







































Lebih baru Lebih lama