Menikmati Sholat Jum at Di Masjid Keraton, Masjid Agung Solo
Solo, Informatika News Line (17/11/2023)
Reporter Informatika News Line ikut dalam acara Bimtek Insan Pers oleh Dinas Informasi Kabupaten Sidoarjo di kota Solo. Dalam salah satu kesempatan mampir di Masjid Agung Keraton Kasunanan Solo. Berikut laporan MIG Informatika News Line.
Di tempat wudhu Masjid Agung Kasunannan tercatat angka tahun 1929, tahun renovasi Masjid Agung Keraton Kasunanan Solo. Masjid Agung berjarak tidak lebih dari 500 meter dari Pusat Grosir Solo (PGS). Berjalan kaki tak lebih dari 10 menit.
Masjid berada di sisi kanan alun alun keraton Kasunanan, berada di Kota CaWapres Pilpres 2024 Gibran yang fenomenal (Red, Fenomenal ? Karena Usia Terlalu Muda ?).
Memasuki pelataran masjid menjelang sholat Jum'at, berjejer para dhuafa, ibu ibu yang meminta sedekah kepada para jamaah.
" Mbah e Iki nak Ojo dilalekno.....Mbah e Iki nak..." Suara suara ibu tua yang berebut mendapatkan sedekah dari para jamaah Masjid.
Arsitektur masjid dibangun dengan gaya arsitektur bangunan Jawa, membuat suasana terasa dingin dan nyaman di tengah suasana panas Kota Solo. Masjid kuno ini diperkirakan mampu menampung 3000 - 4000 an jemaah di dalam bangunan Masjid. dan kalau diperhitungkan dengan halaman masjid dan juga ruang alun alun Kasunanan yang luas, bisa menampung 200 ribu sampai 300 ribuan jamaah.
Memasuki masjid lama ini terasa memori panjang yang membentang yang telah dilalui oleh Bangunan Masjid, berpuluh tahun. Berbagai event dan kejadian sejarah puluhan tahun telah dicatat di dinding-dinding angunan masjid yang tampak sangat tua.
Usia masjid yang bahkan jauh lebih lama dari usia Republik, menjadi saksi ribuan catatan sejarah yang diam tidak terkatakan.
Dalam catatan Informatika News Masjid Agung Kraton Surakarta ini dibangun pada masa Penjajahan Kolonial Belanda, oleh Sunan Pakubuwono III tahun 1763 dan selesai pada tahun 1768. Masjid ini dibangun 1 windu setelah perjanjian Gianti pada tahun 1755. Perjanjian Giyanti membagi kerajaan Mataram menjadi dua Kerajaan, Kerajaan Surakarta di bawah Pakubuwono III dan Kerajaan Yogyakarta Hadiningrat di bawah Pangeran Mangkubumi atau kemudian bergelar Sultan Hamengkubuwono.
Masjid Keraton Surakarta Hadiningrat ini mengalami beberapa penyembahan bangunan
1. Pagar di sekeliling Masjid dibangun pada masa Sunan Pakubuwana VIII tahun 1858.
2. Gedung PGA (Pendidikan Guru Agama) Negeri, didirikan oleh Sunan Pakubuwana X pada tahun 1914) dan menjadi milik kraton.
3. Menara adzan dan juga sebagian tempat wudhu yang ada dibangun pada tahun 1928 pada masa Sunan Pakubuwono X. Menara adzan, mempunyai corak arsitektur terinsirasi dari Qutub Minar di Delhi, India
Catatan yang tertulis di dinding tempat wudhu tahun 1929 mencatat renovasi yang dilakukan pada masa Sunan Pakubuwono X.
"Ibu yang masih berada di area Masjid, dimohon untuk bergeser keluar masjid terlebih dahulu ...karena masjid akan digunakan untuk Sholat Jum at..." Suara takmir masjid terdengar dari microfon.
Tiba tiba seorang jamaah sholat Jum at mendekati Informatika News dan meminta untuk menggeser tas reportase biru sambil memohon maaf.
"Punggung saya ini agak sakit...jadi saya harus bersender di tiang masjid ini...mohon maaf ya... kakak..."
Sopan kata-kata jamaah yang masih muda itu, tapi memaksa tas agar digeser ke tempat lain. Gaya sopan Solo yang sopan, akan tetapi dengan maksud jelas meminta sesuatu.
" Mohon maaf ya Kakak...kakak asalnya dari mana ?" Si Bapak jamaah yang masih muda itu melanjutkan pembicaraan ramah tamah nya yang singkat. Jawaban ramah tamah itu tidak diperlukan, karena tujuan sudah tercapai.
Sholat Jum'at di Masjid Ageng Surakarta Hadiningrat terasa mengagumkan. Sholat Jum at di masjid yang usianya sudah ratusan tahun.
Beberapa orang bergaya foto-foto di halaman Masjid, mengabadikan mengagumkannya sholat di Masjid Keraton yang sangat tua itu. (MIG, Solo, 17/11/2023)

