News Analysis
Trend baru cara belajar manusia berubah total. Setelah produk AI terakhir diluncurkan akhir tahun lalu, para analys perkembangan peradaban manusia mulai melihat sebuah masa depan baru cara manusia belajar. Benarkah trend belajar akan berubah, bersama dengan produk baru ini ?
Mungkin akan ada perubahan. Akan tetapi para analys juga melihat ada yang tidak berubah pada peradaban, juga ada bahaya baru yang muncul.
Demontrasi implementasi AI baru ini mengguncang bursa saham di New York, merencanakan Peluncuran Nuklir Amerika Serikat, bahkan menghidupkan cerita bohong buatan Prof pembohong CC Berg dari Belanda soal Perang Bubat.
Sebuah bibit perpecahan di negeri Pancasila NKRI ini coba dibuat berantakan oleh sebuah kisah ilusi buatan penjajah Belanda, Perang Bubat. Sebelumnya Snock Horgronye telah memalsukan ribuan Hadits di Serambi Mekah untuk menghancurkan perjuangan Teuku Umar dan Cut Nyak Dien. Akan tetapi tradisi muslim yang terbuka membongkar ribuan Hadits palsu buatan itu.
Tapi bagaimana dengan budaya Sunda dan Jawa yang telah ditakdirkan menjadi pasangan jodoh di negeri besar ini ? Apakah kedua etnis terbesar ini mampu melihat kebohongan Perang Bubat ini untuk membina rumah tangga langit di antara mereka ?
Tak mudah memahami "gaya Dajjal" Snock Horgronye dan juga CC. Berg. Kebanyakan kita akan dibakar dan diberangus oleh sentimen etnis kesukuan seperti ini. Apalagi setelah AI ikut turun tangan mendukung ide gila CC Berg memecah Persatuan Indonesia, sila ketiga Pancasila.
Jika tidak mampu memiliki furqon, maka teknologi tetap saja seperti produk ilusi Ras Homo Sapiens yang lain. Teknologi lugu yang bisa ditunggangi siapa saja yang memiliki niat licik. Bukan niat jahat tapi baru niat licik.
Lalu apa bedanya Teknologi AI terbaru ini dengan Super Komputer yang didisain khusus di Amerika sejak tahun 1950 an, dengan program khusus menghancurkan musuh musuh AS ?
Super Komputer ini diberikan input segala kondisi sosial, ekonomi, masyarakat, budaya sebuah negara tertentu. Dan output utama nya adalah usulan terbaik penghancuran negara musuh tersebut. Usulan Super Komputer ini pada tahun 1991 berhasil menghancurkan USSR Rusia, 1998 menghancurkan ekonomi Orde Baru Indonesia, dan mendorong krisis Balkan dan bahkan Arab Spring yang membunuh ratusan ribu korban hanya dengan usulan remeh, kacaukan pasokan gandum negara-negara Arab.
Tak ada bedannya antara CC Berg, Snouc Horgronye, Super Komputer milik CIA Amerika, dan Teknologi AI terbaru. Cerdas, hebat, canggih, mengagumkan sekaligus mengerikan, akan tetapi tetap saja tidak jelas gunanya apa, karena tidak memiliki furqon.
Jadi bagaimana Ai baru ini dalam rentang 50 tahun ke depan ?
News Clip :
(1) Pakar: Jangan Anti, ChatGPT Alat Bantu Bukan Pengganti Manusia
(2) Pakar UI soal Fenomena ChatGPT: Indonesia Perlu Etika & Regulasi soal AI
(3) Bos Microsoft: Indonesia Perlu AI dalam Pemerataan Akses Pendidikan
(4) Dosen ITB Beberkan Risiko ChatGPT buat Kebutuhan Akademik, Mahasiswa Catat!
(5) AI Dapat Tingkatkan Produktivitas Masyarakat dalam Agenda SDGs 2030?
News
(1) Pakar: Jangan Anti, ChatGPT Alat Bantu Bukan Pengganti Manusia
Nograhany Widhi Koesmawardhani - detikEdu
Rabu, 17 Mei 2023 19:15 WIB
Jakarta - Guru-dosen hingga siswa-mahasiswa jangan anti-ChatGPT. Kemajuan teknologi tak bisa dilawan. Ketimbang "dimusuhi", chatbot buatan OpenAI itu justru bisa dimanfaatkan menjadi alat bantu di dunia pendidikan.
"Jadi perkembangan teknologi itu memang tidak bisa dihindari. Namun demikian, kita sebagai pendidik harus terus mengingatkan menginspirasi rekan-rekan di lingkungan pendidikan, termasuk mahasiswa, bahwa teknologi berkembang dan pasti berubah dengan cepat. Tetapi kita (manusia) harus tetap jadi center. Dalam artian kita harus paham bahwa yang namanya teknologi itu berubah. Teknologi itu membantu sebagai alat bantu, bukan untuk menggantikan kita," jelas Rektor Telkom University Prof Adiwijaya.
Prof Adiwijaya menjawab pertanyaan detikEdu di sela-sela peluncuran buku 'ABCD...X Xperience Matters: Teknologi untuk Peradaban Digital' di Telkom Landmark Tower, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (16/5/2023) ditulis Rabu (17/5/2023).
Jadi, Prof Adi, demikian panggilan akrabnya menyatakan sangat tidak mungkin dunia pendidikan ini anti-ChatGPT. Karena kemajuan teknologi itu suatu keniscayaan.
Satu lagi, Prof Adi berpesan agar siswa hingga mahasiswa mengasah soft skill. Para pendidik juga bisa memberikan materi yang lebih banyak bagi anak didik untuk meningkatkan soft skill.
"Jadi kuncinya soft skill, soft skill itu enggak bakal bisa digantikan sama mesin," imbuh Prof Adi.
Di lokasi yang sama, pendapat yang diutarakan Prof Adi ini, sejalan dengan pendapat Prof Hammam Riza, President Kolaborasi Riset dan Inovasi Industri Kecerdasan Artificial (Korika). Hammam menjelaskan bahwa sekarang banyak startup edutech yang menyediakan platform belajar online. Nah pola belajar hingga minat dan cita-cita seorang anak didik ini, bisa dilacak menggunakan AI.
"Kalau untuk bidang pendidikan bisa personalized learning apa yang menjadi cita-cita seorang anak didik, dia bisa di-custom itu, bisa memberikan rekomendasi-rekomendasi untuk materi pembelajaran," tutur mantan Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) ini.
Dampaknya, selain personalisasi materi dan pola pembelajaran hingga roadmap dalam platform belajar online, AI juga membantu dalam akselerasi pembelajaran siswa. Termasuk akselerasi talenta-talenta dalam bidang digital.
Kelemahannya, semua data-data privasi akan tersebar secara merata dengan menggunakan blockchain, sistem penyimpanan data digital yang berisi catatan yang terhubung dengan kriptografi. Namun apapun bentuk AI-nya, ChatGPT atau apapun namanya, slogan 'old but gold' ini 'man behind the gun' akan selalu relevan.
"Iya masih relevan itu 'man behind the gun'. Semua tergantung manusianya," tuturnya.(nwk/pal)
(2) Pakar UI soal Fenomena ChatGPT: Indonesia Perlu Etika & Regulasi soal AI
Cicin Yulianti - detikEdu
Selasa, 23 Mei 2023 18:30 WIB
Jakarta - Pertumbuhan adopsi ChatGPT sebagai produk chatbot dari OpenAI saat ini terhitung cepat. Dengan adanya teknologi artificial intelligence (AI) tersebut, pengguna dapat memenuhi kebutuhannya tanpa harus berpikir panjang dalam mengambil keputusan.
Terkait hal tersebut, Dosen Fakultas Hukum UI Brian Amy Prastyo dalam acara Policy Dialogue on Digital for Development in the ASEAN and Global South mengingatkan pengguna untuk memperhatikan etika. Pengguna tidak boleh dengan mudah percaya dengan hasil yang dibuat AI tersebut.
Menurutnya, di samping pembuatan keputusan atau konten saat ini sudah terjangkau lewat adanya OpenAI, namun pengguna perlu memperhatikan keamanan data dan privasi atau cyber security. Ia mengatakan bahwa cyber security dapat membantu seseorang dalam membuat ekosistem pembelajaran berkelanjutan yang minim resiko.
Selain itu, ia menyebut dalam menggunakan OpenAI ini pengguna perlu etika. Dengan begitu, pengguna harus mempertimbangkan apakah keputusan atau konten yang dibuat lewat OpenAI tersebut masih tergolong etis atau tidak.
"Beberapa motif mungkin tidak etis. Jadi kita perlu memiliki pemahaman yang jelas dan kesadaran apakah ide yang dihasilkan masuk ke dalam etika," ujar Brian dalam acara Policy Dialogue on Digital for Development in the ASEAN and Global South di Gedung ASEAN Foundation, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta, Selasa (23/5/2023).
Brian menuturkan bahwa selain harus adanya kesadaran bagi pengguna AI soal keamanan data dan etika, Indonesia perlu hukum yang mengatur secara paten tentang keberadaan AI ini. Desakan terkait regulasi ini dikarenakan layanan kecerdasan tersebut berkembang di Indonesia begitu cepat.
"Kemampuan untuk mengontrol keputusan saat ini beralih ke mesin (AI). Nah, ketiga hal ini yang menjadi pemikiran saya dan bagaimana kaitannya dengan hukum tidak hanya di Indonesia, tetapi juga secara global," terangnya.
Ia mengatakan metode yang dilakukan AI harus bisa mencapai tujuan secara sah dan tidak boleh melanggar nilai-nilai dasar yang tercantum dalam pedoman hukum yang berlaku.
"Yang kedua adalah masalah hukum apakah proses penciptaan teknologi dan penyebaran AI ini berada dalam undang-undang dan peraturan," terangnya.
Ia mengimbau dalam penggunaan AI, pengguna perlu memahaminya secara etis dan menyadari keamanan siber. Dengan begitu, mereka dapat menemukan ancaman yang tidak diketahui, peningkatan manajemen kerentanan, meningkatkan keamanan secara keseluruhan, dan melakukan deteksi yang lebih baik.
(nwk/nwk)
(3)
Bos Microsoft: Indonesia Perlu AI dalam Pemerataan Akses Pendidikan
Cicin Yulianti - detikEdu
Selasa, 23 Mei 2023 16:30 WIB
Jakarta - Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan saat ini tengah hangat dibicarakan oleh masyarakat terlebih setelah munculnya chatbot seperti ChatGPT, Google Bard, dan lainnya. AI sendiri bisa digunakan oleh berbagai sektor termasuk pendidikan.
AI kini hadir dengan beberapa fungsinya yang beragam misalnya dapat membantu proses belajar mengajar di sekolah. Selain itu, AI dapat memberikan pemerataan akses pendidikan, sebagaimana dikatakan oleh President of Microsoft Indonesia, Dharma Simorangkir dalam acara Policy Dialogue on Digital for Development in the ASEAN and Global South di Gedung ASEAN Foundation, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta, Selasa (23/5/2023).
Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa yang tersedia saat ini untuk mengatasi tantangan pembangunan berkelanjutan adalah penggunaan teknologi secara maksimal. Penggunaan AI sudah dapat menunjang sistem operasi di berbagai sektor mulai dari ekonomi hingga pendidikan.
Aplikasi AI yang memungkinkan bagi sektor pendidikan serta fungsinya yang dapat memberikan pemerataan akses pendidikan, menjadikan Microsoft menyoroti hal tersebut. Baru-baru ini Microsoft telah menjalin kolaborasi dengan institusi pendidikan dalam menyebarkan manfaat AI.
"Kami sedang bekerjasama dengan sektor pendidikan saat ini dengan menghadirkan tutor handal yang mungkin hanya ada di perkotaan seperti di Jakarta," ungkap President of Microsoft Indonesia tersebut.
Dengan adanya AI dan pihak yang memfasilitasinya, menurut Dharma guru-guru yang berkumpul di perkotaan dapat menyalurkan pengetahuannya kepada murid di daerah lain yang akses pendidikannya terjangkau.
"Sehingga guru yang cerdas itu guru yang pengetahuannya bisa disalurkan ke daerah lain di Indonesia. Microsoft percaya bahwa lewat teknologi pemerataan akses pendidikan dan kesempatan akan sama," tutur Dharma.
Kolaborasi Microsoft & Kampus di Indonesia
Sebelumnya, Microsoft Indonesia telah melakukan kesepakatan kerja sama dengan Universitas Brawijaya (UB). Dalam mendorong kompetensi mahasiswa di bidang digital dan AI, Microsoft memberi sertifikasi bagi mahasiswa di UB untuk keahlian di bidang-bidang digital tersebut.
"Kami harap cara ini dapat memberikan dampak dan mewujudkan visi bangsa. Tentu saja, untuk melakukan itu, kami percaya bahwa kolaborasi adalah kuncinya. Kami tidak dapat melakukan ini sendirian namun harus menciptakan secara bersama," ujar Dharma.
Dharma menuturkan penerapan teknologi AI diharapkan bisa diaplikasikan oleh semua fakultas di UB dengan jumlah mahasiswa yang mencapai 70 ribu orang. Nantinya, tidak hanya mahasiswa Ilmu Komputer atau Fakultas teknik saja yang merasakan manfaat dari AI tersebut di bidang pendidikan.
Adanya kerjasama Microsoft dengan perguruan tinggi tersebut dilakukan dengan melakukan launching AI center dan menyediakan sarana prasarana Super Computer serta akses internet dengan kecepatan 100Gbps.
(nwk/nwk)
(4)
Dosen ITB Beberkan Risiko ChatGPT buat Kebutuhan Akademik, Mahasiswa Catat!
Nikita Rosa - detikEdu
Jumat, 19 Mei 2023 18:00 WIB
Jakarta - ChatGPT mulai ramai digunakan di dunia akademik. Berkat kecepatannya dalam menyajikan informasi, siswa hingga mahasiswa mengandalkan ChatGPT untuk mencari jawaban tugas. Namun, tepatkah penggunaan ChatGPT untuk kebutuhan akademik?
ChatGPT merupakan model bahasa alami canggih yang dikembangkan oleh OpenAI. Kemampuannya untuk berkomunikasi dengan pengguna dalam bentuk percakapan alami telah memicu tantangan baru dalam dunia kecerdasan buatan.
Dosen pada Kelompok Keahlian Informatika, Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) ITB, Dr Eng Ayu Purwarianti, ST, MT, mengatakan, ada beberapa risiko yang harus dipertimbangkan ketika memanfaatkan ChatGPT. Simak penjelasannya berikut.
Risiko ChatGPT dalam Lingkup Akademik
Dr Ayu mencontohkan, risiko ChatGPT meliputi regulasi, isu plagiarisme, dan etika dalam pemanfaatan ChatGPT. Ia menjelaskan, ChatGPT sangat bermanfaat untuk media pembelajaran, tetapi mahasiswa harus waspada dalam menggunakannya.
"Kalo misalnya mahasiswa disuruh bikin essay dengan tujuan supaya bisa memiliki kemampuan analisis yang lebih tinggi, serta lebih kritis dan kreatif, maka jangan menggunakan ChatGPT. Silakan membuat essay dengan kalimat sendiri dan nanti dibandingkan dengan hasil ChatGPT," ucap Dr Ayu dalam situs ITB dikutip Jumat (19/5/2023).
Dr Ayu mengingatkan untuk lebih bijak lagi dalam menggunakannya sebagai alat untuk belajar karena karena risiko ChatGPT juga sangat banyak, yaitu:
1. Informasi Tidak Akurat
Risiko pertama dari ChatGPT yaitu tidak akuratnya informasi dan jawaban yang diberikan. Diharapkan agar pengguna melakukan validasi atau mencari sumber lain yang lebih terpercaya dalam mencari suatu informasi.
2. Plagiarisme
Risiko yang lain menyangkut plagiarisme. Sebab, pengguna tidak mengetahui sumber data dan jawaban yang diberikan ChatGPT. Karena itu, untuk beberapa kasus yang terkait dengan hak cipta seperti pembuatan buku dan copywriting, jangan menggunakan ChatGPT.
3. Potential Misuse
Potential misuse dalam hal ini berkaitan dengan penelitian yang melibatkan atau menghasilkan bahan, metode, teknologi atau pengetahuan yang dapat disalahgunakan untuk tujuan yang tidak etis, seperti dijelaskan oleh Europol.
Potential misuse salah satunya dapat terjadi karena ChatGPT rentan diisi permintaan untuk membuat kode program seperti jailbreak atau mengakali keamanan.(nir/twu)
.
(5)
AI Dapat Tingkatkan Produktivitas Masyarakat dalam Agenda SDGs 2030?
Cicin Yulianti - detikEdu
Selasa, 23 Mei 2023 21:00 WIB
Jakarta - Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) saat ini dibutuhkan oleh manusia dalam memecahkan masalah sehari-hari yang sering ditemui. Sebagaimana dikatakan oleh filsuf Swedia dari Universitas Oxford, Nick Bostrom bahwa "kecerdasan mesin adalah penemuan terakhir yang perlu dibuat oleh umat manusia".
Hingga saat ini, negara yang paling mendominasi dalam penggunaan AI adalah China. Perusahaan-perusahaan di negara tersebut diwajibkan untuk menggunakan AI sebagai teknologi dari negara tersebut. Menurut Dwi Kardono, Deputi III Keamanan Siber Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), China menjadi satu dari sepuluh negara besar yang memiliki rancangan pengembangan AI ke depannya. Di Indonesia sendiri, penggunaan AI mulai dilakukan pada pertengahan pandemi yakni dalam membuat pengamanan pada dokumen-dokumen oleh BSSN. Hal tersebut yang menjadi awal bagi Indonesia dalam menempatkan dirinya dalam lanskap AI secara global.
Selain itu, Dwi menyebut bahwa AI dapat menjadi komponen penting dalam perwujudkan agenda Sustainable Development Goal's (SDG's) 2030 Indonesia. Agenda SDGs 2030 sendiri merupakan kesepakatan pembangunan baru yang mendorong perubahan-perubahan yang bergeser ke arah pembangunan berkelanjutan yang didasarkan pada hak asasi manusia dan kesetaraan untuk mendorong pembangunan sosial, ekonomi dan lingkungan hidup.
AI DorongTerwujudnya SDG's
Menurut Dwi, Indonesia tidak akan kalah maju dari negara-negara di Asia jika memanfaatkan AI dalam menunjang revolusi pembangunan berkelanjutan sebagaimana yang terkandung dalam SDGs 2023.
"Dengan memanfaatkan kekuatan AI, kita dapat menciptakan solusi yang lebih efisien dan efektif untuk tantangan saudara tetangga," terangnya dalam acara Policy Dialogue on Digital for Development in the ASEAN and Global South di Gedung ASEAN Foundation, Jalan Sisingamangaraja, Jakarta, Selasa (23/5/2023).
Ia mengatakan bahwa fungsi AI dapat membantu Indonesia merealisasikan 17 tujuan yang terdapat dalam SDGs 2023, bahkan dalam waktu kurang dari lima tahun. Adapun 17 tujuan tersebut antara lain tanpa kemiskinan, tanpa kelaparan, kehidupan sehat dan sejahtera, pendidikan berkualitas, kesetaraan gender, air bersih dan sanitasi layak, energi bersih dan terjangkau, pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi, industri, inovasi, dan infrastruktur, berkurangnya kesenjangan, kota dan permukiman yang berkelanjutan, konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab, penanganan perubahan iklim, ekosistem lautan, ekosistem daratan, perdamaian, keadilan dan kelembagaan yang tangguh dan kemitraan untuk mencapai tujuan.
Penerapan AI di Sektor Pendidikan
Dwi menuturkan bahwa pembekalan yang baik tentang AI ini dapat dimulai di bidang pendidikan. Dalam hal ini, siswa harus dibekali secara generatif tentang cara yang baik untuk menjadi produktif lewat AI.
"Pendidikan yang dipersonalisasi, merupakan bagian dari pembangunan berkelanjutan," tuturnya.
Dibandingkan berfokus pada isu bahwa pengurangan tenaga manusia akan terjadi akibat AI ini, Dwi mengajak masyarakat untuk berfokus pada produktivitas yang bisa ditingkatkan dengan adanya AI ini.
"Selain meningkatkan produktivitas, secara keseluruhan merupakan potensi untuk mendorong pembangunan berkelanjutan," tuturnya.
Lebih lanjutnya, Dwi menyebut bahwa AI dapat mengidentifikasi pola kemiskinan serta data terkaitnya. Selain itu, AI memungkinkan terciptanya intervensi yang dilakukan dalam pengurangan kemiskinan.
(nwk/nwk)
.jpeg)
.jpeg)