Bandung, Polkrim On Line
Di tengah persiapan upacara Pembukaan PON XIX, Komite Pelaksana Upacara Pembukaan PON XIX mengusir dua jurnalis Ibu Kota yang sedang bertugas melaksanakan tugas jurnalistik, meliput persiapan Upacara Pembukaan PON XIX.
Panitia pelaksana yang sedang sibuk mempersiapkan jalannya upacara pembukaan PON melalui alat komunikasi meminta petugas lapangan untuk tidak menghiraukan dua orang wartawan ibu kota yang meminta akses masuk untuk melakukan liputan.
" Abaikan saja mereka.... Tong Dilayani mereka.... Biarkeun saja lah mereka...., " kata seorang oknum panitia yang kepada petugas lapangan yang menghalangi dua wartawan itu.
Kepada Polkrim kedua jurnalis itu mengatakan mereka diberi tugas meliput upacara pembukaan PON XIX dan kecewa pada perilaku panitia PON, yang akhirnya mengusir mereka keluar lokasi GBLA.
" Kami naik motor berdua dari Jakarta, khusus untuk meliput kegiatan PON, tapi rupanya Komite pelaksananya Provinsi Jawa Barat, tidak profesional."
Kedua jurnalis Ibu Kota mengaku dipermainkan oleh oknum komite penyelenggara upacara pembukaan PON.
" Oleh Pak Rully dari Komite kami diminta ke Media Centre, tapi ternyata di Media Centre kami hanya bertemu petugas dari PT Telkom.... Saat kami kembali ke Komite, kami malah diminta keluar lokasi GBLA," kata salah satu jurnalis kepada Polkrim.
Kejadian pengusiran jurnalis ini menjadi catatan penting yang harus menjadi bahan evaluasi Panitia Pelaksana dan juga Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Even nasional yang seharusnya memberi kesempatan untuk menunjukkan layanan yang terbaik kepada para tamu yang hadir dari seluruh Indonesia, malah menjadi ajang unjuk gigi layanan yang buruk dan ketidak-professionalan layanan pada awak media.
Dari helpdesk media centre di Hotel Trans Studio Mall beberapa petugas yang ditemui Polkrim menyatakan bahwa ada beberapa jurnalis yang memamg terlambat mendaftar dan tidak mendapatkan ID Card. Beberapa jurnalis yang sudah mendaftar di KONI setempat juga ada yang tidak mendapatkan ID Card. Tanpa ID Card, Fathia petugas yang ditemui Polkrim menyatakan jurnalis memang akan sulit masuk ke lokasi venue.
Akan tetapi menurut Fathia, jurnalis masih diberi kesempatan untuk mendapatkan ID Card.
"Syarat kartu pers, foto, KTP, dan Surat Tugas harus dipenuhi terlebih dahulu, " kata Fathia (Vijay).
Di tengah persiapan upacara Pembukaan PON XIX, Komite Pelaksana Upacara Pembukaan PON XIX mengusir dua jurnalis Ibu Kota yang sedang bertugas melaksanakan tugas jurnalistik, meliput persiapan Upacara Pembukaan PON XIX.
Panitia pelaksana yang sedang sibuk mempersiapkan jalannya upacara pembukaan PON melalui alat komunikasi meminta petugas lapangan untuk tidak menghiraukan dua orang wartawan ibu kota yang meminta akses masuk untuk melakukan liputan.
" Abaikan saja mereka.... Tong Dilayani mereka.... Biarkeun saja lah mereka...., " kata seorang oknum panitia yang kepada petugas lapangan yang menghalangi dua wartawan itu.
Kepada Polkrim kedua jurnalis itu mengatakan mereka diberi tugas meliput upacara pembukaan PON XIX dan kecewa pada perilaku panitia PON, yang akhirnya mengusir mereka keluar lokasi GBLA.
" Kami naik motor berdua dari Jakarta, khusus untuk meliput kegiatan PON, tapi rupanya Komite pelaksananya Provinsi Jawa Barat, tidak profesional."
Kedua jurnalis Ibu Kota mengaku dipermainkan oleh oknum komite penyelenggara upacara pembukaan PON.
" Oleh Pak Rully dari Komite kami diminta ke Media Centre, tapi ternyata di Media Centre kami hanya bertemu petugas dari PT Telkom.... Saat kami kembali ke Komite, kami malah diminta keluar lokasi GBLA," kata salah satu jurnalis kepada Polkrim.
Kejadian pengusiran jurnalis ini menjadi catatan penting yang harus menjadi bahan evaluasi Panitia Pelaksana dan juga Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Even nasional yang seharusnya memberi kesempatan untuk menunjukkan layanan yang terbaik kepada para tamu yang hadir dari seluruh Indonesia, malah menjadi ajang unjuk gigi layanan yang buruk dan ketidak-professionalan layanan pada awak media.
Dari helpdesk media centre di Hotel Trans Studio Mall beberapa petugas yang ditemui Polkrim menyatakan bahwa ada beberapa jurnalis yang memamg terlambat mendaftar dan tidak mendapatkan ID Card. Beberapa jurnalis yang sudah mendaftar di KONI setempat juga ada yang tidak mendapatkan ID Card. Tanpa ID Card, Fathia petugas yang ditemui Polkrim menyatakan jurnalis memang akan sulit masuk ke lokasi venue.
Akan tetapi menurut Fathia, jurnalis masih diberi kesempatan untuk mendapatkan ID Card.
"Syarat kartu pers, foto, KTP, dan Surat Tugas harus dipenuhi terlebih dahulu, " kata Fathia (Vijay).
