Jalan Berliku Meningkatkan Literasi Pelanggan FIFGROUP Indonesia
Oleh : GI Wijaya*
Indeks literasi keuangan konsumen Indonesia naik mencapai 49,68%, meningkat signifikan dari angka 38,03% pada tahun 2019. Angka ini didapat dari SNLIK (Survey Nasional Literasi Dan Inklusi Keuangan) tahun 2022 OJK yang angkanya mendekati 50 % naik positif dari tahun sebelum nya. Artinya ada setengah dari konsumen keuangan Indonesia yang sudah memahami dengan baik berbagai lika liku layanan keuangan.
Yang menakjubkan adalah, tingkat literasi keuangan konsumen Indonesia ini ternyata masih kalah jauh dibandingkan dengan tingkat inklusi pengambilan keputusan keuangan yang mencapai lebih dari 80 %. Artinya hanya ada 20 % calon pelanggan yang membatalkan niat menggunakan jasa layanan keuangan. Angka 80 % adalah angka yang bagus untuk industri layanan keuangan. Angka ini adalah syurga bagi bisnis layanan keuangan di Indonesia.
Kondisi di Indonesia ini berbeda dibandingkan dengan kondisi di negara negara maju yang biasanya memiliki tingkat inklusi yang lebih rendah dari tingkat literasi konsumen. Perbandingan antara tingkat literasi dan inklusi keuangan ini disebut sebagai angka IFI (Inclution Financial Index). Angka IFI Indonesia termasuk masih rendah, akan tetapi rendahnya IFI bukan disebabkan oleh gagalnya gelar layanan keuangan yang biasa terjadi pada negara - negara lain di dunia. Akan tetapi rendahnya IFI malah disebabkan oleh tingkat literasi yang belum maksimal.
Jepang memiliki tingkat Index Inklusi mendekati maksimal sebesar 0,99 yang artinya hampir mendekati nilai maksimum indeks inklusi keuangan. Di posisi kedua terdapat Korea Selatan dengan indeks inklusi keuangan sebesar 0,72, selanjutnya Lebanon menempati posisi berikutnya dengan indeks inklusi keuangan sebesar 0,52. Di sisi lain, Pakistan, Filipina, dan Bangladesh merupakan tiga negara dengan indeks inklusi keuangan terendah di Kawasan Asia.
Indonesia memiliki tingkat inklusi 80% dengan tingkat indek hanya sebesar 0,22 atau 22% saja. Bandingkan ini dengan negara super kaya Arab Saudi (26 %) dan Uni Emirat Arab (UEA) (37%) yang memiliki index yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia, padahal kemampuan keuangan warga kedua negara super kaya itu jauh di atas Indonesia, ibarat bumi dan langit.
Sementara itu Indonesia dengan jumlah keuangan terbatas malah berhasil mencapai tingkat penetrasi inklusi 80 % hampir mencapai angka maksimal.
Makna nyata dari deretan indeks finansial di atas adalah bahwa uang berlimpah di Arab Saudi dan UEA ini masih gagal memenuhi kebutuhan terkait pemanfaatan keuangan warga nya. Warga Arab Saudi atau UEA akan menemukan syurga layanan finansial kalau mereka mau pindah menjadi warga Indonesia dengan seluruh uang yang mereka miliki. Indonesia menjadi sangat seksi dan seperti syurga bagi mereka yang ingin mendapatkan layanan keuangan yang baik, setara dengan Jepang dan juga Korea Selatan. Bahkan mungkin lebih baik lagi. Tanpa literasi yang cukup saja sudah mencapai tingkat inklusi 80%, berbeda jauh dengan tingkat literasi konsumen keuangan Jepang dan Korea Selatan, misalnya.
Monthly Business Clinic (MOBIC) yang digelar oleh PT Federal International Finance (FIFGROUP), anak perusahaan dari PT Astra International Tbk dan bagian dari Astra Financial, juga ikut membongkar data-data yang menunjukkan wajah inklusi keuangan Indonesia yang luar biasa sekaligus membutuhkan kerja keras untuk meningkatkan literasi konsumen dan entitas keuangan Indonesia.
Dalam kegiatan bertajuk Literasi Keuangan, Optimalkan Pembiayaan Dengan Cerdas dan Bijak ini, hadir juga para pejabat dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN).
Sebanyak 2000 peserta hybrid (offline dan on line) hadir dari seluruh Indonesia. Berbagai kelompok masyarakat, media, dan lingkungan internal dari FIFGROUP ikut menyimak acara sosialisasi literasi pelanggan layanan keuangan ini.
Chief Executive Officer (CEO) FIFGROUP, Margono Tanuwijaya menyampaikan kepada seluruh peserta urgensi acara ini adalah untuk mendukung peningkatan literasi keuangan bagi masyarakat Indonesia.
Sementara itu Project Director Astra Financial GIIAS 2023, yang juga CMO (Chief Marketing Officer/Direktur Marketing) ACC, Tan Chian Hok menjawab pertanyaan Informatika News Line dalam acara pembukaan GIIAS di Surabaya Rabu (20/09/2023) mengatakan bahwa Astra Financial berusaha sekuat tenaga untuk membantu peningkatan liteasi konsumen menuju angka yang maksimal.
" Berbagai kegiatan yang digelar oleh Astra Finansial ditujukan untuk mendongkrak angka literasi pelanggan layanan keuangan," Kata Ahok di depan booth Astra Financial di Grand City Surabaya (20/09).
Ahok menyatakan bahwa Astra Finansial memahami tanggung jawab yang besar pada perlindungan dan kesejahteraan konsumen, bukan hanya semata mata bisnis.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen dari OJK, Friderica Widyasari Dewi membahas pentingnya literasi keuangan di tengah perkembangan sektor keuangan yang semakin dinamis. Widyasari mengungkapkan keprihatinannya pada kondisi literasi konsumen di Indonesia yang masih rendah. Kondisi ini menjadi salah satu sebab berbagai konflik yang terjadi dalam industri jasa keuangan dalam negeri.
Widyasari mengatakan bahwa akan muncul tiga kerentanan utama yang sering terjadi di masyarakat akibat kurangnya pemahaman literasi keuangan, yaitu tingkat pengaduan konsumen yang semakin meningkat, maraknya aktivitas keuangan ilegal dan kendala pemahaman akses permodalan khususnya untuk UMKM.
Ketua Badan Perlindungan Konsumen Nasional (Periode 2020-2023) Rizal Edy Halim, menyoroti perlunya perhatian khusus pada IKK Indeks Keberdayaan Konsumen, karena angkanya yang terbilang rendah yaitu hanya 34,36%. Dimensi IKK ini mencakup kemampuan konsumen untuk mengajukan keluhan atau komplain jika mereka mengalami masalah dengan produk atau layanan yang mereka beli.
“Hal tersebut menunjukan bahwa sebagian besar konsumen belum memiliki pengetahuan yang cukup tentang bagaimana mengajukan keluhan atau komplain dengan benar. Terkadang, bahkan keluhan yang mungkin tampak sepele pun dapat mengalami eskalasi hingga mencapai tingkat perselisihan hukum."
Industri jasa keuangan memiliki peran penting dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada peran sektor keuangan itu sendiri, tetapi juga pada pemahaman dan kesiapan finansial masyarakat yang menjadi bagian penting dari ekosistem yang berjalan.
Aplikasi Pendukung Literasi Konsumen Menjadi 100 %
Di tengah upaya keras meningkatkan literasi konsumen menjadi 100 % ini, Informatika News Line berhasil menemui sebuah perusahaan rintisan keuangan yang menerapkan aplikasi berbasis literasi konsumen yang mampu meningkatkan literasi pelanggan menjadi 100 % di Surabaya.
Teknologi IT Aplikasi Officer PT New Media Telecomm (NMT), Ibu Inspirasi dihubungi oleh Informatika News Line Jum'at (22/09/2023) menerangkan bagaimana kerja aplikasi yang dibuat oleh PT NMT itu. Aplikasi pendorong literasi pelanggan ini telah digunakan dalam lebih 200 transaksi pembelian kendaraan bermotor, mobil, motor dan beberapa transaksi keuangan lain selama kurang lebih 6 bulan terakhir.
" Bisa sampai 99,99 % lah ...kalau 100 % itu kan angka sempurna ya.." kata Ibu Inspirasi menerangkan.
" Dengan aplikasi ini, maka tingkat literasi akan mampu mengejar tingkat inklusi keuangan konsumen. Dengan aplikasi ini target 90 % literasi pelanggan yang dicanangkan oleh Presiden Jokowi tahun depan akan dapat dicapai,."
Para calon konsumen harus mengikuti petunjuk yang ada dalam aplikasi agar bisa mencapai tingkat literasi maksimal. Aplikasi juga bisa didisain customs disesuaikan dengan lembaga keuangan yang akan menggunakan, selama ini pelanggan dari berbagai lembaga keuangan telah menggunakan aplikasi ini, kata Inspira.
Mugkin kita nanti akan tawarkan kepada OJK atau Astra Financial, kata Inspira menutup wawancara singkat dengan Informatika News Line. (GIW)
* Penulis adalah jurnalis Informatika News Line dan Pengamat Ekonomi Digital Indonesia





